Rumah Sakit Terapung Ksatria Airlangga Jadi Kapal Pertama yang Sandar di Pelabuhan Donggala

Rumah Sakit Terapung Kstaria Airlangga (RSTKA) Jumat (5/10) pagi merapat dan sekaligus menjadi kapal pertama yang sandar di Pelabuhan Donggala.

Rumah Sakit Terapung Ksatria Airlangga Jadi Kapal Pertama yang Sandar di Pelabuhan Donggala
dok/RST Ksatria Airlangga
Kapal phinisi yang dijadikan rumah sakit terapung (RST) Ksatria Airlangga sedang sandar di Pelabuhan Donggala untuk turut serta memberi pertolongan pengobatan dan perawatan warga korban gempa dan tsunami. 

TRIBUNKALTIM.CO, DONGGALA-- Rumah Sakit Terapung Kstaria Airlangga (RSTKA) Jumat (5/10) pagi merapat di pelabuhan Donggala. RSTKA merupakan kapal pertama yang sandar sejak becana gempa dan tsunami melanda pada pekan lalu. 

Setelah melakukan berbagai persiapan RSTKA mulai hari ini Sabtu (6/10) sudah mulai mengadakan kegiatan pelayanan kesehatan kepada masyarakat.

Sejak pagi mulai bapak-bapak, perempuan sampai anak-anak sudah mengantri di tenda untuk dilakukan pemeriksaan oleh tiga orang dokter umum.

Phinisi yang dijadikan rumah sakit terapug (RST) Ksatria Airlangga yang sedang sandar di Pelabuhan Takalar, untuk mengsi bahan bakar sebelu sampai ke Donggala.
Phinisi yang dijadikan rumah sakit terapug (RST) Ksatria Airlangga yang sedang sandar di Pelabuhan Takalar, untuk mengsi bahan bakar sebelu sampai ke Donggala. (dok/RST Ksatria Airlangga)

Baca: Daeng Ampa Terharu Bertemu Phinisi RST Ksatria Airlangga Hasil Karyanya untuk Bantu Bencana Palu

Baca: Kapal RST Ksatria Airlangga Ubah Haluan dari Alor ke Lokasi Tsunami Donggala dan Palu

Baca: Rumah Sakit Terapung Ksatria Airlangga Rawat 4.000 Pasien dan Mengoperasi 500 Orang

"Masyarakat sini sangat terguncang dengan musibah ini dan sekarang setelah seminggu berlalu mulai banyak yang sakit," kata Yuliani, warga Donggala yang antri untuk medapat penanganan dokter karena sakit pernapasan.

Meski dampak gempa dan tsunami tidak seberat Palu namun suasana kota Donggala juga cukup memprihatinkan. Malam suasana gelap gulita karena pasokan listrik hanya di sebagian kecil kawasan.

Keberadaan RSTKA sangat dibutuhkan mengingat RSUD Donggala belum bisa memberikan pelayanan yang maksimal. Karena selain kurangnya tenaga medis karena tenaga medis di Donggala sebagian besar dari Palu yang yang menjadi korban gempa dan tsunami.

Rumah Sakit Terapung Ksatria Airlangga Rawat  4.000 Pasien dan Mengoperasi 500 Orang
Rumah Sakit Terapung Ksatria Airlangga Rawat 4.000 Pasien dan Mengoperasi 500 Orang (rumah sakit terapung)
RST Ksatria Airlangga beri bantuan pengobatan gratis kepada warga-warga penghuni pulau terpencil di Indonesia Timur. Kini kapal itu mulai melakukan pemberian pertoongan kepada korban gempa-tsunami di Donggala.
RST Ksatria Airlangga beri bantuan pengobatan gratis kepada warga-warga penghuni pulau terpencil di Indonesia Timur. Kini kapal itu mulai melakukan pemberian pertoongan kepada korban gempa-tsunami di Donggala. (istimewa)

Baca: VIDEO - Sekolah-sekolah di Kaltara Berikan Bantuan Rp 247.093.000 Untuk Korban Gempa Palu-Donggala

Baca: Berau Coal Kirimkan 10 Anggota Rescue untuk Evakuasi Korban Gempa Palu dan Donggala

Baca: Gempa dan Tsunami di Palu dan Donggala, CEO Google Umumkan Donasi 1 Juta Dollar

Selain itu masyarakat juga takut ketika akan dilakukan pemeriksaan di dalam gedung rumah sakit karena trauma akan terjadi gempa.

"Karena itu RSTKA berkolaborasi dengan RSUD Donggala, kalau memang akan melakukan tindakan operasi bisa dilakukan kamar operasi di RSTKA," kata dr. Agus Harianto, SpB.

Sementara dr. Pudjo Hartono, SpOG, pembina RSTKA menjelaskan bahwa misi kemanusiaan ini berkat dukungan dari YBN PLN, Bank Mandiri, Investree, Northstar, Peti Kemas Surabaya, First Resources, serta masyarakat.(pr/ps)

Penulis: Priyo Suwarno
Editor: Priyo Suwarno
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved