Berita Video

VIDEO - Kisah Pengungsi Palu Selamat Dari Gempa

Sebelum diantar petugas ke Palu, Saiful dan pengungsi yang lain menuju kawasan pesisir Sigi, yang jaraknya sekitar 40 Km dari Palu.

VIDEO - Kisah Pengungsi Palu Selamat Dari Gempa
tribunkaltim.co/sarassani
Saiful (dua dari kiri) dan Sanawi (tiga dari kiri) korban gempa dari Sigi dan Palu di posko pengungsian BPBD Paser, Senin (8/10/2018). 

Laporan wartawan Tribun Kaltim, Sarassani

TRIBUNKALTIM.CO, TANA PASER - Saiful (19) warga Desa Salua, Kecamatan Gumbasa, Kabupaten Sigi, merupakan satu dari 10 orang rombongan yang mengungsi ke Kabupaten Paser. Bersama istrinya, Saiful ke Paser mengikuti ajakan pamannya Effendi (30) untuk mengungsi ke kampung halaman istri pamannya.

“Kita sampai ke Palu karena diantar petugas. Dari Palu, kita menumpang pesawat Herkules ke Balikpapan. Berangkat ke Paser dari pagi kemarin, sempat nginap di rumah kerabat di Gang Indra. Di Paser kita sebatang kara, kebetulan paman (Effendi) menikah dengan orang sini, jadi kita mengikuti arahan paman untuk mengungsi ke Paser,” kata Saiful, Senin (8/10/2018).

Saiful mengaku kedua orangtuanya masih bertahan di Salua, mencoba mencari keluarga yang masih belum ditemukan, sekaligus menunggu anaknya berhasil dievakuasi. “Anak saya usia 1 tahun sama neneknya tidak bisa keluar, terkepung tanah longsor dan gunung retak atau terbelah. Hampir setiap hari terjadi gempa susulan, takut terjadi lagi, makanya kita disuruh mengungsi,” kata Saiful.

Sebelum diantar petugas ke Palu, Saiful dan pengungsi yang lain menuju kawasan pesisir Sigi, yang jaraknya sekitar 40 Km dari Palu.

 “Di Palu banyak banyak mayat berserakan. Sewaktu gempa terjadi bumi tergoncang hebat, duduk saja bisa terjatuh apalagi berdiri. Banyak yang meninggal, banyak juga yang belum ditemukan, istri saya saja nyaris tewas tertimpa reruntuhan,” ungkapnya.

Effendi menambahkan selain dirinya, Alex juga warga Selua yang juga beristrikan seorang warga Desa Rantau Panjang, Kecamatan Tanah Grogot.

“Kalau ditambah saya dan Alex semuanya 12 orang, jadi yang benar-benar mengungsi 10 orang, 6 orang dewasa, 1 remaja dan 3 anak-anak usia 6 bulan hingga 5 tahun,” kata Effendi.

Effendi ke Selua untuk memanen buah cokelat, tapi sebelum dipanen terjadi gempa.

 “Kita memang sering ke Selua, ternyata terjadi bencana jadi kita kembali ke Grogot dan keluarga di kampung kita ajak juga, meski berbekal hanya baju di badan dan Alhamdulillah anak-anak disini sudah merasa tenang,” kata Effendi.

Halaman
12
Penulis: Sarassani
Editor: Arif Fadilah
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved