Kawasan Karst Sangkulirang Mangkalihat Diperluas, Begini Reaksi Dunia Usaha

Sebelumnya, luas kawasan karst yang dilindungi hanya 307.377 ha berdasar Peraturan Gubernrur Kaltim No 67 Tahun 2012,

Kawasan Karst Sangkulirang Mangkalihat Diperluas, Begini Reaksi Dunia Usaha
HO/Slamet Suprianto
Disaksikan Wakil Bupati Kasmidi Bulang, Ketua Forum Peduli Karst Kabupaten Kutai Timur H Irwan SIp MP meneken kesepakatan bersama duia usaha dan para pihak lainnya terkait hasil diskusi terarah mengenai Rencana Induk Kawasan Karst Sangkulirang Mangkalihat di Sangatta,Kutai Timur, Selasa (6/11/2018). Kesepakatan ini menjadi salah satu untuk proses pengajuan usulan peetapan KBAK Sangkulirang Mangkalihat. 

Areal konsesi seluas 1.077 ha yang diberikan ke Kobexindo Group semula berstatus area penggunaan lain (APL). Izin diberikan tahun 2003 oleh Bupati Kutim Awang Faroek (saat itu). Berbagai kajian eksplorasi pun kemudian dilakukan.

"Belakangan saat semua proses itu sudah kami lalui dan pabrik siap dibangun, tiba-tiba keluar Pergub 67/2012 yang memasukkannya sebagai kawasan lindung. Lho terus begaimana nasib kami?" kata Ishak mengisahkan lagi kronologis masalah yang dihadapi.

Pergub diteken Awang Faroek (kemudian menjadi Gubernur Kaltim, dan kini digantikan oleh Isran Noor). Ishak, dua tahun lalu mengaku nasib perusahaannya masih menggantung. Ia hanya meminta ada kajian yang obyektif karena di lapangan kondisi daerah sekitar sudah lebih terbuka oleh peruntukkan lain.

Pihaknya juga sudah melakukan ragam kajian oleh tim independen. Hasilnya, tidak ditemukan sumber air tanah permanen atau sungai bawah tanah seperti bentang karst umumnya. Tapi keadaan dirasakan menjadi lebih sulit karena penetapan di dalam Pergub No 67/2012 itu dikuatkan lagi dalam Perda No 1/2016 tentang RTRW Kaltim.

"Padahal, untuk menjaga tata hidrologi tetap terjaga, kami juga sudah komitmen mengembalikan area yang di atas (sekitar 8.000 ha) kepada pemerintah sebagai kawasan lindung," tambahnya.

Di FGD sebelumnya terungkap, KBAK nantinya akan menjadi dasar dalam proses peninjauan kembali RTRWP Kaltim. Perda RTRW Provinsi Kalimantan Timur 2016-2036 rencananya direvisi pada tahun 2021, tapi mulai tahun 2020 sudah bisa diusulkan materi perubahannya, termasuk kawasan lindung geologi yang di dalamnya seperti, kawasan karst.

Karst diketahui memiliki nilai penting sebagai penyimpan air, penyerap karbon, penjaga iklim dan suhu, habitat spesies unik dan endemik yang dilindungi Undang-Undang, hingga sumber penghidupan masyarakat sekitar.

Kondisi saat ini, terdapat 110 desa dan 200 ribu jiwa yang berada di dalam dan/atau terkait dengan kawasan ekosistem karst ini.

Di kawasan 403 ribu hektare ini pula, terbit 1 izin lokasi perkebunan karet, 5 izin lokasi plasma perkebunan sawit, 24 izin lokasi perkebunan sawit, 17 calon izin lokasi tambang mineral bukan logam, 1 izin lokasi pabrik semen, 4 izin lokasi IUPHHK-Hutan Tanaman Industri, 2 Izin lokasi tambang batubara. Yang totalnya ada 54 izin.

Eko Haryono menambahkan status KBAK hanya mengatur area perlindungan di kawasan bentuk lahan karst. "Sedangkan kawasan di luarnya, tidak termasuk. Sehingga perlu aturan tambahan untuk melindungi kawasan penyangga karst yang berupa ekosistem hutan hujan tropis," kata Eko.

Lukisan Cadas 

Inilah gambar cadas di Goa Mengkuris yang terletak di kawasan kars Sangkulirang Mangkalihat sebagai kekayaan potensi pariwisata Kutim yang menjadi nominasi API 2017.
Inilah gambar cadas di Goa Mengkuris yang terletak di kawasan kars Sangkulirang Mangkalihat sebagai kekayaan potensi pariwisata Kutim yang menjadi nominasi API 2017. (HO - HUMAS PEMKAB KUTIM/Irfan)

Pindi Setiawan, peniliti karst dari Institut Teknologi Bandung (ITB) mengilustrasikan pentingnya kawasan penyangga sebagai benteng dari bentang karts inti.

"Gua-gua karst yang mengandung banyak lukisan prasejarah puluhan ribu tahun lalu, dapat lekas rusak, bila tidak ada kawasan penyangga. Nafas manusia, asap rokok, asap kendaraan dan asap pabrik, mempercepat hilangnya lukisan gua tersebut,” ungkap Pindi.

Sejak Pindi memulai penelitian karst Sangkulirang-Mangkalihat pada tahun 1995, hingga sekarang, sudah ratusan imaji gambar prasejarah yang hilang. “Lukisan prasejarah itu sendiri berusia 10 ribu tahun, tapi ketika ada aktivitas manusia di sekitarnya, hanya dalam waktu 25 tahun saja sudah hilang,” kata Pindi.

Wakil Bupati Kasmidi Bulang saat meninjau gua telapak tangan di kawasan Karst Sangkulirang Mangkalihat yang saat ini masih menduduki peringkat I pada Ajang Pesona Indonesia 2017.
Wakil Bupati Kasmidi Bulang saat meninjau gua telapak tangan di kawasan Karst Sangkulirang Mangkalihat yang saat ini masih menduduki peringkat I pada Ajang Pesona Indonesia 2017. (HUMAS PEMKAB KUTIM/Nopi)

Ujung dari FGD di Sangatta dilakukan penandantanganan delapan butir kesepakatan dengan para pihak yang hadir. Kesepakatan itu antara lain menegenai Rencana induk pengelolaan kawasan karst Sangkulirang Mangkalihat yang terkait dengan rencana pengembangan pariwisata dijadikan pertimbangan dalam
penyusunan dokumen RIPPARDA Kabupaten Kutai Timur 2019-2029.

Turut menandatangani kesepakatan itu Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Kaltim E.A Rafiddin Rizal, Tukiyono mewakili usaha perkebunan, perwakilan mahasswa Musahdi, LSM Peduli Pariwisata (PETA) Heriansyah Masdar, Forum Peduli Karst Kabupaten Kutai Timur Irwan, BPCP Kaltim Budi Setiawan. Ishak Tanaka mewakili usaha pertambangan, dan disaksikan oleh Wakil Bupati Kutim Kasmidi Bolang.

[bin]

Editor: Achmad Bintoro
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved