Mantan Buruh Plywood Jadi Kades, Bawa Loa Duri Ilir jadi 100 Desa Terbaik di Indonesia

Menjadi Desa terbaik dan mandiri di Indonesia adalah impian dari seluruh kepala desa. Terlebih sampai mendapat penghargaan dari pemerintah

Mantan Buruh Plywood Jadi Kades, Bawa Loa Duri Ilir jadi 100 Desa Terbaik di Indonesia
IST
Fakhri Arsyad, Kepala Desa Loa Duri Ilir. 

TRIBUNKALTIM.CO - Menjadi Desa terbaik dan mandiri di Indonesia tentu adalah impian dari seluruh kepala desa. Terlebih sampai mendapat penghargaan dari pemerintah pusat karena sukses memanfaatkan dana desa untuk membangun Sumber Daya Manusia (SDM) dan Infrastruktur di desa.

IMPIAN itu ternyata berhasil diwujudkan sebuah desa dari Kabupaten Kutai Kartanegara, Kaltim. Yakni Desa Loa Duri Ilir Kecamatan Loa Janan yang baru-baru ini meraih penghargaan sebagai salah satu Desa Terbaik di Indonesia dan masuk dalam deretan 100 desa terbaik se-Indonesia.

Pengahargaan tersebut tidak terlepas dari polesan tangan sang kepala desa yang mampu menciptakan ide-ide brilian dalam menghidupkan desa yang dulunya masuk kategori desa tertinggal, kini bertransformasi menjadi desa mandiri yang penuh aktivitas produktif masyarakatnya.

Baca: Inpres tentang Percepat Pembangunan KBM Tanjung Selor Keluar, 12 Kementerian Diminta Ini

Dialah Fakhri Arsyad, Kepala Desa Loa Duri Ilir yang baru menjabat satu periode sudah memberikan kontribusi besar dan merubah Desa Loa Duri Ilir yang dulunya desa tertinggal, kini menjadi desa mandiri. "Awal saya menjabat tahun 2013 masih desa tertinggal, baru tahun 2018 ini menjadi desa mandiri," ucap pria berusia 50 tahun tersebut.

Pria tiga anak ini termotivasi menjadi kepala desa karena ingin membangun desanya dengan program-program yang ia miliki dan memperlihatkan kepada seluruh masyarakat bagaimana membangun desa dengan baik.

Ia berpendapat bahwa pembangunan tidak hanya infrastruktur saja, tapi juga pembangunan ekonomi masyarakat dan pemberdayaan masyarakat juga sangat penting untuk mewujudkan kehidupan masyarakat menjadi lebih baik.

"Kalau kita hanya bangun jalan, parit dan sebagainya, tanpa membangun kehidupan masyarakat, maka masyarakat itu akan tetap miskin," tegas Fakhri saat berbicara dalam Media Workshop bersama BPK, Pemerintah dan Wartawan di hotel Grand Tiga Mustika, Kamis (15/11).

Baca: Tim KPK Turun ke Samarinda Pantau Pengelolaan Batu Bara, Ini Komentar Pengamat

Diakuinya, walaupun dirinya bukan warga asli Desa Loa Duri Ilir, namun ia memiliki istri yang merupakan warga di desa tersebut, sehingga dengan niat tulus dan panggilan hati, dirinya sudah menganggap Desa itu adalah desanya yang harus dibangun dan dimajukan demi kehidupan masyarakat yang lebih baik.

"Saya asli Sulawesi Selatan, bapak saya Makassar dan ibu saya Manado. Tapi istri saya orang desa Loa Duri Ilir dan saat ini saya tinggal disitu. Jadi wajib bagi saya membangun desa saya agar lebih maju," tuturnya dengan penuh semangat.

Sebelum menjadi kepala desa, Fakhri merupakan seorang pekerja atau buruh di pabrik plywood yang telah lama berkeliling kota mengikuti pindah tugas. Dirinya mencoba menerapkan skill dan pengalaman yang ia miliki selama bekerja di pabrik plywood tersebut dalam mengelola pemerintahan desa.

Halaman
12
Penulis: Aris Joni
Editor: Sumarsono
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved