Emak-emak Menjerit, Harga Beras dan Telur Meroket

Tak hanya beras, bahan pangan yang dikeluhkan meningkat tajam adalah telur ayam. Kalau sebelumnya dibanderol Rp 45.000-48.000/piring

Emak-emak Menjerit, Harga Beras dan Telur Meroket
TRIBUN KALTIM / BUDI SUSILO
FOTO DOKUMENTASI Pedagang sembako berupa telur ayam potong di Pasar Pandansari, pada Jumat (10/6/2016). Berdasarkan fakta, pembeli telur sedikit menurun namun harganya masih juga belum turun. Diprediksi seminggu jelang lebaran pembeli telur akan bertambah. 

TRIBUNKALTIM.CO, SANGATTA -Emak-emak kembali menjerit dan lagi-lagi tidak bisa tidur nyenyak. Penyebabnya harga sembako, khususnya beras kembali dikeluhkan naik tajam. Khususnya beras bermerk atau kelas premium. Tak tanggung-tanggung, kenaikan bisa mencapai Rp 6.000 per Kg.

Kondisi ini tentu saja langsung memancing reaksi warga, terutama kaum ibu rumah tangga. Mereka yang tadinya bisa membeli beras 10 Kg dengan harga Rp 100.000 -150.000, kini terpaksa harus membayar lebih. Apalagi, ditunjang dengan kondisi jelang tanggal tua atau akhir bulan.

Salah satu warga yang mengeluh adalah Rida.  Warga Sangatta Seberang ini mengaku heran dengan kenaikan harga beras di pasaran. Sebab, kalau melihat stok beras di pedagang, masih cukup berlimpah.

“Pekan lalu, beli beras sekilo (1 kg) , harga Rp 11.000, kualitasnya beras bagus. Minggu ini, beli dengan harga yang sama, seperti harga beras yang dijual Rp 8.000 per Kg,” ungkap Rida, Selasa (20/11).

Kenaikan beras yang dikeluhkan warga tersebut, ditanggapi langsung oleh Sri, salah satu pedagang beras di Pasar Induk Sangatta. Menurutnya, kenaikan harga hanya terjadi pada beras-beras merk tertentu saja. Tidak semua beras.

“Kemungkinan karena pasokan saja. Sehingga naik. Sebab tidak semua beras naik. Hanya merek tertentu. Kenaikan juga tidak terlalu tajam, hanya sekitar Rp 2.000 per Kg. Tapi kalau sudah di pengecer mungkin lebih,” ujar Sri.

Tak hanya beras, bahan pangan yang dikeluhkan meningkat tajam adalah telur ayam. Kalau sebelumnya dibanderol Rp 45.000-48.000/piring, sepekan belakangan harganya mencapai Rp 50.000 hingga Rp 55.000/piring.

Harga telur tersebut berada di Pasar Induk Sangatta. Sementara di tingkat pedagang eceran, bisa lebih mahal lagi.

“Pasokannya terbatas sekarang. Biasanya kami dapat dari agen telur yang menerima telur dari Sulawesi. Tapi karena hanya sedikit, jadi lebih mahal. Kalau di agen sudah mahal, terpaksa kami juga jual dengan harga yang disesuaikan,” ujar Burhan, pedagang berbagai jenis telur, baik telur ayam negeri, ayam kampung, bebek hingga burung puyuh.

Meski harga telur meningkat, harga ayam justru lebih stabil bahkan cenderung menurun. Ditambah lagi ada pedagang online yang mematok harga ayam Rp 30.000 per Kg, dari yang biasanya Rp 40.000 per Kg.

“Iya kalau lihat di medsos malah lebih murah. Kemarin, ada yang jual tiga ekor Rp 67.000 sudah bersih. Banyak yang borong juga. Siang-siang ditanya, sudah habis,” ujar Marwah. (*)

Penulis: Margaret Sarita
Editor: Ahmad Bayasut
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved