Tiga Siswa SMKN 2 Balikpapan Juara DILo Hackathon Festival 2018 Gelaran Telkom Divre VI Kalimantan

Tiga Siswa SMKN 2 Balikpapan Juara DILo Hackathon Festival 2018 Gelaran Telkom Divre VI Kalimantan

Tiga Siswa SMKN 2 Balikpapan Juara DILo Hackathon Festival 2018 Gelaran Telkom Divre VI Kalimantan
TRIBUN KALTIM / ADITYA RAHMAN HAFIDZ
Tiga Siswa SMKN 2 Balikpapan Juara DILo Hackathon Festival 2018 Gelaran Telkom Divre VI Kalimantan 

Tiga Siswa SMKN 2 Balikpapan Juara DILo Hackathon Festival 2018 Gelaran Telkom Divre VI Kalimantan

TRIBUNKALTIM.CO, BALIKPAPAN - Digital Innovative Lounge (DILo Balikpapan) kembali menyelenggarakan event DILo Hackathon Festival (DHF) 2018 pada Minggu (25/11/2018) di Gedung Learning Center Telkom Divre VI Kalimantan. Sekitar 16 tim berjuang untuk membuat aplikasi mobile dan website selama 24 jam, yang dimulai pada Sabtu (24/11/2018) pukul 13.00 wita dan berakhir pada Minggu (25/11/2018).

Setelah melalui proses penjurian, didapatkan juara dari tim 101 Creative dengan membuat aplikasi Smart School yang digawangi oleh Hizkia selaku ketua tim dan juga Hustler yaitu sebagai director dan analisis program aplikasi, dan dua rekannya, Yanuar dan Izhar selaku Hacker sebagai server pengelolaan data dan database admin.

Hizkia mengatakan, latar belakang ia dan rekan setimnya membuat aplikasi Smart School didasari oleh keresahannya dan rekan setimnya yang muncul lantaran kurangnya inovasi yang tercipta di lingkungan sekolah, khususnya Balikpapan.

"Jadi fitur dari Smart School sendiri didalamnya ada fitur presensi online, fitur layanan pesan antar makanan versi kantin dan fitur nebeng buat pelajar atau mahasiswa yang ingin pulang dengan temannya yang searah," ujar Hizkia dan teman-temannya yang berasal dari SMK Negeri 2 Balikpapan.

Selama proses hacking atau pembuatan aplikasi, Hizkia yang juga selaku Founder 101 Creative tersebut tidak memiliki kesulitan yang berarti, namun waktu yang disediakan hanya dalam semalam membuat timnya sedikit menemukan kendala. Namun begitu, timnya berhasil menciptakan aplikasi tersebut sekitar 90 persen.

Hizkia mengaku, sebenarnya ia dan rekannya sangat ingin merealisasikan ide mereka. Namun karena kendala waktu dan kesibukan masing-masing, ide tersebut urung direalisasikan. "Kebetulan ada event ini, jadi kami langsung ikut dan jadilah aplikasi tersebut," ujarnya.

Ia berpesan, untuk membuat sebuah aplikasi, harus melahirkan inovasi baru dengan melakukan riset terdahulu. "Dan menurut saya jangan terlalu jauh mencari masalah, liat dulu sekitar, sebaiknya lihat keresahan terdekat sehari-hari, lalu cari solusinya untuk memecahkan masalah tersebut, lalu dituangkan dengan bikin aplikasi digital dan gerakan-gerakan lain," tuturnya.

Ia berpesan kepada anak-anak muda Balikpapan agar jangan takut untuk berinovasi dan menciptakan ide. "Karena mungkin hari ini masih hanya ide, tetapi kita nggak akan tahu kedepannya gimana. Contohnya hari ini, ide tersebut dapat tercipta melalui DHF 2018 ini," pesannya. (*)

Penulis: Aditya Rahman Hafidz
Editor: Reza Rasyid Umar
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved