Jembatan Gantung Tiong Ohang-Tiong Bu’u, Urat Nadi Kehidupan Antar Kampung di Mahulu

Perjalanan melintasi perairan Sungai Mahakam dari Kampung Ujoh Bilang menuju Kampung Tiong Ohang butuh waktu berjam-jam

Jembatan Gantung Tiong Ohang-Tiong Bu’u, Urat Nadi Kehidupan Antar Kampung di Mahulu
Tribun Kaltim/Budi Susilo
Geliat aktivitas yang memakai jembatan Gantung Tiong Ohang-Tiong Bu’u, di Kecamatan Long Apari, Kabupaten Mahakam Ulu, Provinsi Kalimantan Timur pada Senin (26/11/2018) siang.   

Laporan Wartawan Tribunkaltim.co Budi Susilo  

TRIBUNKALTIM.CO – Perjalanan melintasi perairan Sungai Mahakam dari Kampung Ujoh Bilang menuju Kampung Tiong Ohang butuh waktu berjam-jam, memakan hingga mencapai sekitar enam jam. 

Satu-satunya cara dari ibukota Kabupaten Mahakam Ulu, di Kampung Ujoh Bilang Kecamatan Long Bagun ke Kampung Tiong Ohang Kecamatan Long Apari hanya bisa ditempuh melalui jalur susur sungai yang beriam. 

Hal inilah yang dirasakan oleh Tribunkaltim.co, lakukan perjalanan menggunakan speedboat yang menggendong mesin 400 tenaga kuda pada Senin (26/11/2018) pagi dari dermaga Polsek Long Bagun, Kampung Ujoh Bilang. 

Baca: Darurat, Tiga Ruang Inap Rumah Sakit GSM Ujoh Bilang Dijadikan Asrama Perawat

Selama perjalanan menikmati hamparan hijau tumbuh-tumbuhan yang rindang, hidup liar. Termasuk bukit-bukit bebatuan putih dan gunung serta panorama air terjun yang berada dipinggiran tebing, bisa dilihat dari speedboat yang melaju di Sungai Mahakam, Kabupaten Mahakam Ulu, Provinsi Kalimantan Timur. 

Setiba di Kampung Tiong Ohang begitu lega, setelah berjibaku dengan medan air riam dan angin yang dingin selama perjalanan. Suasana Kampung Tiong Ohang, sudah ramai di pinggir sungai banyak berdiri bangunan pemukiman penduduk. 

Dua daratan yang dipisahkan Sungai Mahakam sudah berpenghuni, ada beberapa kampung, ada rumah penduduk namun kendalanya tidak bisa dilintasi kendaraan roda empat meski ada jembatan gantung. 

Satu di antara warga Gunung Kidul Yogyakarta, Sutadi, yang sudah lima tahun tinggal di Kampung Tiong Ohang, mengaku, keberadaan jembatan sangat pokok, dibutuhkan warga untuk akses hubungan antara kampung yang dipisahkan Sungai Mahakam. 

“Jembatannya menggantung. Tidak pernah sepi, selalu dipakai, banyak yang melintas,” ujar pria yang berprofesi sebagai Tentara Nasional Indonesia yang bertugas di Tiong Ohang ini. 

Baca: Ngaping Umaa’ Berlangsung, Masyarakat Adat Mahulu Lakukan Pungan atau Nyepi

Sisi lainnya, Adrianus Imat, warga kelahiran Tiong Ohang, menginginkan, pemerintah pusat semestinya mau ikut membantu membangunkan jembatan yang bisa dilintasi kendaraan roda empat. Selama ini hanya bisa dilewati sepeda motor saja. 

“Mobil tidak bisa lewat. Motor saja kalau sampai ada lima lebih yang lewat, jembatan bisa goyang. Rawan jatuh, bisa hilang keseimbangan. Gantian kalau mau lewat pakai motor,” ujarnya. 

Jembatan tersebut ibaranya sebagai urat nadi, menghubungkan warga dari berbeda kampung. Jembatan gantung ini hubungkan warga seperti di antaranya ada Kampung Tiong Ohang, Kampung Long Paneneh, dan Kampung Tiong Bu’u. 

Saban harinya, jembatan gantung ini diperlukan sebab warga banyak yang mendatangi Kampung Tiong Ohang, karena di perkampungan ini ada kantor Camat Long Apari, serta lembaga pendidikan Sekolah Menengah Atas.

Penulis: Budi Susilo
Editor: Januar Alamijaya
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved