Kisah Kampung Naha Aruq Mahulu, Inspirasi dari Batu Karang yang Panjang

Lahirnya Kampung Naha Aruq masuk dalam pangkuan wilayah Kecamatan Long Pahangai, Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu

Kisah Kampung Naha Aruq Mahulu, Inspirasi dari Batu Karang yang Panjang
Tribun Kaltim/Budi Susilo
Panorama batu putih memanjang di kawasan Daerah Aliran Sungai Mahakam yang melewati Kampung Naha Aruq, Kecamatan Long Pahangai, Kabupaten Mahakam Ulu, Provinsi Kalimantan Timur, Senin (26/11/2018) pagi 

Singkat cerita, melalui pemerintahan di Kecamatan Long Pahangai, ada kebijakan yang memutuskan untuk memindahkan Kampung Naha Aruq ke Datah Suling yanga berada di Daerah Aliran Sungai (DAS) Mahakam. 

“Perjalanannya sekitar 15 menit dari daerah asal ke DAS Mahakam, sekarang tempat kami mendiami,” tutur Lejau.

Tujuan pemindahan oleh pemerintah kala itu untuk memudahkan pelayanan birokrasi pemerintahan, ada upaya mendekatkan dengan kampung-kampung lain yang dianggap terisolasi dan terpencil untuk bisa saling berdekatan jaraknya.

Perpindahan Kampung Naha Aruq ke Datah Suling DAS Mahakam diberi kebebasan membentuk tata pemerintahan sendiri dan adat istiadat warga Naga Aruq tetap diakui, boleh diberlakukan ditempat yang baru.

“Kan supaya tidak ada lagi kesan kampung yang terpinggirkan, terisolasi, ya semua didekatkan biar mudah jika ada urusan,” ungkapnya.  

Baca: Jembatan Gantung Tiong Ohang-Tiong Bu’u, Urat Nadi Kehidupan Antar Kampung di Mahulu

Selain Kampung Naha Aruq, waktu itu kampung yang dikumpulkan ke Datah Suling kawasan DAS Mahakam ada Kampung Lirung Ubing, Kampung Long Isun dan Kampung Datah Naha. 

“Warga menerima saja dipindahkan. Kami setuju. Pindah tempat masih dibebaskan memakai nama Naha Aruq. Dikasih kebebasan membentuk tata pemerintahan sendiri. Adat istiadat kami diakui,” katanya.

Istilah penggunaan nama Kampung Naha Aruq ada maknanya. Lejau menjelaskan, kata Naha itu bermakna Batu Karang sedangkan Aruq itu artinya panjang. Jadi pemakaian nama Naha Aruq, inspirasinya dari lokasi asal muasal tempat tinggal pertama di hulu Sungai Melaseh. 

“Tempat tinggal kami dahulu itu disana dekat sungai, yang kondisi alamnya memang ada batu-batu kali sepanjang sungai, panjang sekali. Makanya dikasih nama kampung batu karang yang panjang,” ungkap Lejau. 

Baca: Batu Majang, Kampung Dekat Ibukota Mahulu Yang Belum Terjamah Internet

Alam lingkungan yang dijadikan tempat tinggal warga Naha Aruq memberikan ide bagi masyarakatnya. Tidak heran, warganya pun dalam kesehariannya selalu menyatu dengan alam. 

Halaman
1234
Penulis: Budi Susilo
Editor: Januar Alamijaya
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved