Kisah Kampung Naha Aruq Mahulu, Inspirasi dari Batu Karang yang Panjang

Lahirnya Kampung Naha Aruq masuk dalam pangkuan wilayah Kecamatan Long Pahangai, Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu

Kisah Kampung Naha Aruq Mahulu, Inspirasi dari Batu Karang yang Panjang
Tribun Kaltim/Budi Susilo
Panorama batu putih memanjang di kawasan Daerah Aliran Sungai Mahakam yang melewati Kampung Naha Aruq, Kecamatan Long Pahangai, Kabupaten Mahakam Ulu, Provinsi Kalimantan Timur, Senin (26/11/2018) pagi 

Sikap menghormati terhadap alam lingkungan sangat dijunjung tinggi, tindak tanduk sehari-hari tetap berkomitmen mempertahankan kelestarian alam, niat untuk selalu menjaga keseimbangan alam menjadi hal yang utama. 

“Kami sebagian besar mata penariannya sebagai nelayan sungai sama berkebun ladang. Kebun kakao paling banyak di kampung kami,” ujarnya. 

Masih Berstatus Sangat Tertinggal

Saat ini, catatan perhitungan tahun 2018, Kampung Naha Aruq jumlah mendudukanya sudah menyentuh angka 240 jiwa atau ada 68 kepala keluarga. Status Kampung Naha Aruq oleh Dinas Pemberdayaan Masyarakat Kampung Mahakam Ulu di tahun 2017 masih dianggap kampung sangat tertinggal. 

Menurut Bayau Lejau (47), ketersediaan infrastruktur kampung masih sangat minim. Seperti di antaranya sinyal telekomunikasi telepon seluler tidak sepenuhnya tersedia secara baik. Mencari sinyak telepon harus mencari di titik-titik tertentu barulah tersambung. 

“Cari sinyal susah sekali. Hanya tempat-tempat tertentu tidak seluruh tempat. Jaringan internet tidak ada sama sekali di tempat kami, belum masuk sampai disini,” ungkapnya. 

Sementara beberapa infrastruktur jalan kampung sudah mulai ada yang dibuat dan ditata menggunakan semenisasi yang diambil dari dana desa dari pemerintah pusat Republik Indonesia dan pemerintah Kabupaten Mahakam Ulu. 

Pemenuhan akan infrastruktur tenaga listrik di Kampung Naha Aruq sampai sejauh ini bisa dibilang mencukupi. Listrik sudah masuk di era tahun 2013, yang mengadalkan sumber listrik tenaga mesin disel hingga kini. 

“Penggunaan masih pakai disel milik kampung. Menyala dari jam enam sore sampai jam 12 tengah malam,” ungkap Lejau, yang lahir di Kampung Naga Aruq ini. 

Belum lama ini, pemerintahan kampung memakai dana desa untuk membeli lagi perlengkapan mesin disel dengan daya mesin 55 kilo volt ampere untuk tahun 2018 dengan mengahabiskan anggaran dana desa sebesar Rp 300 juta. 

Halaman
1234
Penulis: Budi Susilo
Editor: Januar Alamijaya
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved