Kisah Kampung Naha Aruq Mahulu, Inspirasi dari Batu Karang yang Panjang

Lahirnya Kampung Naha Aruq masuk dalam pangkuan wilayah Kecamatan Long Pahangai, Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu

Kisah Kampung Naha Aruq Mahulu, Inspirasi dari Batu Karang yang Panjang
Tribun Kaltim/Budi Susilo
Panorama batu putih memanjang di kawasan Daerah Aliran Sungai Mahakam yang melewati Kampung Naha Aruq, Kecamatan Long Pahangai, Kabupaten Mahakam Ulu, Provinsi Kalimantan Timur, Senin (26/11/2018) pagi 

Laporan Wartawan Tribunkaltim.co Budi Susilo 

TRIBUNKALTIM.CO, LONG PAHANGAI – Lahirnya Kampung Naha Aruq masuk dalam pangkuan wilayah Kecamatan Long Pahangai, Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu), Provinsi Kalimantan Timur, memiliki cerita sejarah yang terinspirasi dari asal muasal masyarakatnya dan alam tempat tinggalnya kala itu.

Belum lama ini Tribunkaltim.co berkesempatan berbincang dengan Kapala Kampung Naha Aru, Bayau Lejau, di dalam lamin adat Titing Batang Kawit Devuq Kampung Long Pakaq pada Rabu (28/11/2018) siang.  

Lejau tanpa sungkan, menjelaskan kisah kelahiran Kampung Naha Aruq di bumi Mahakam Ulu. Mulanya, masyarakat Naha Aruq tinggal berada di paling hulu Kalimantan Timur tepatnya berada di Sungai Melaseh sebuah anak Sungai Mahakam. 

“Kami sudah ada, dikenal sejak tahun 1916,” ujarnya. 

Baca: Melihat Kehidupan Wanita Berkuping Panjang di Long Pakaq Mahulu, Sejarah dan Keberadaannya Kini

Secara geografis Sungai Melaseh ini berada dekat dengan kawasan Serawak Malaysia. Kala itu, masyarakat Naha Aruq yang bersuku Dayak Bahau awalnya selalu berpindah-pindah tempat, atau nomanden. Kemudian menetaplah di hulu Sungai Melaseh.

Pernah suatu ketika, tinggal di kawasan Sungai Melaseh, saat masih zaman ekspansi kolonial Hindia Belanda di tanah Long Pahangai, Kalimantan Timur, sebelum lahirnya negara Republik Indonesia, pemukiman penduduk Naha Aruq mengalami bencana kebakaran.

Kontan, warga pun memutuskan mencari tempat yang aman. Lokasi perkampungan yang sudah terbakar membuat anggapan bagi sebagian warga sangat tidak nyaman untuk ditinggali. 

Masyarakat Naha Aruq berpindah, memilih tempat ke Uma’ Lirai yang secara perhitungan perjalanan kala itu memakan waktu sekitar lima menit menggunakan perahu ces ketinting.

“Menetap lama di Uma’ Lirai, sampai puluhan tahun. Tapi kemudian sempat kembali lagi ke kampung daerah asal yang pernah kebakar,” ujar Lejau, pria kelahiran 16 Juli 1971 ini.

Baca: Jalan - jalan ke Kampung Batu Majang Mahulu, Suara Air tak Pernah Berhenti Mengalir

Singkat cerita, melalui pemerintahan di Kecamatan Long Pahangai, ada kebijakan yang memutuskan untuk memindahkan Kampung Naha Aruq ke Datah Suling yanga berada di Daerah Aliran Sungai (DAS) Mahakam. 

“Perjalanannya sekitar 15 menit dari daerah asal ke DAS Mahakam, sekarang tempat kami mendiami,” tutur Lejau.

Tujuan pemindahan oleh pemerintah kala itu untuk memudahkan pelayanan birokrasi pemerintahan, ada upaya mendekatkan dengan kampung-kampung lain yang dianggap terisolasi dan terpencil untuk bisa saling berdekatan jaraknya.

Perpindahan Kampung Naha Aruq ke Datah Suling DAS Mahakam diberi kebebasan membentuk tata pemerintahan sendiri dan adat istiadat warga Naga Aruq tetap diakui, boleh diberlakukan ditempat yang baru.

“Kan supaya tidak ada lagi kesan kampung yang terpinggirkan, terisolasi, ya semua didekatkan biar mudah jika ada urusan,” ungkapnya.  

Baca: Jembatan Gantung Tiong Ohang-Tiong Bu’u, Urat Nadi Kehidupan Antar Kampung di Mahulu

Selain Kampung Naha Aruq, waktu itu kampung yang dikumpulkan ke Datah Suling kawasan DAS Mahakam ada Kampung Lirung Ubing, Kampung Long Isun dan Kampung Datah Naha. 

“Warga menerima saja dipindahkan. Kami setuju. Pindah tempat masih dibebaskan memakai nama Naha Aruq. Dikasih kebebasan membentuk tata pemerintahan sendiri. Adat istiadat kami diakui,” katanya.

Istilah penggunaan nama Kampung Naha Aruq ada maknanya. Lejau menjelaskan, kata Naha itu bermakna Batu Karang sedangkan Aruq itu artinya panjang. Jadi pemakaian nama Naha Aruq, inspirasinya dari lokasi asal muasal tempat tinggal pertama di hulu Sungai Melaseh. 

“Tempat tinggal kami dahulu itu disana dekat sungai, yang kondisi alamnya memang ada batu-batu kali sepanjang sungai, panjang sekali. Makanya dikasih nama kampung batu karang yang panjang,” ungkap Lejau. 

Baca: Batu Majang, Kampung Dekat Ibukota Mahulu Yang Belum Terjamah Internet

Alam lingkungan yang dijadikan tempat tinggal warga Naha Aruq memberikan ide bagi masyarakatnya. Tidak heran, warganya pun dalam kesehariannya selalu menyatu dengan alam. 

Sikap menghormati terhadap alam lingkungan sangat dijunjung tinggi, tindak tanduk sehari-hari tetap berkomitmen mempertahankan kelestarian alam, niat untuk selalu menjaga keseimbangan alam menjadi hal yang utama. 

“Kami sebagian besar mata penariannya sebagai nelayan sungai sama berkebun ladang. Kebun kakao paling banyak di kampung kami,” ujarnya. 

Masih Berstatus Sangat Tertinggal

Saat ini, catatan perhitungan tahun 2018, Kampung Naha Aruq jumlah mendudukanya sudah menyentuh angka 240 jiwa atau ada 68 kepala keluarga. Status Kampung Naha Aruq oleh Dinas Pemberdayaan Masyarakat Kampung Mahakam Ulu di tahun 2017 masih dianggap kampung sangat tertinggal. 

Menurut Bayau Lejau (47), ketersediaan infrastruktur kampung masih sangat minim. Seperti di antaranya sinyal telekomunikasi telepon seluler tidak sepenuhnya tersedia secara baik. Mencari sinyak telepon harus mencari di titik-titik tertentu barulah tersambung. 

“Cari sinyal susah sekali. Hanya tempat-tempat tertentu tidak seluruh tempat. Jaringan internet tidak ada sama sekali di tempat kami, belum masuk sampai disini,” ungkapnya. 

Sementara beberapa infrastruktur jalan kampung sudah mulai ada yang dibuat dan ditata menggunakan semenisasi yang diambil dari dana desa dari pemerintah pusat Republik Indonesia dan pemerintah Kabupaten Mahakam Ulu. 

Pemenuhan akan infrastruktur tenaga listrik di Kampung Naha Aruq sampai sejauh ini bisa dibilang mencukupi. Listrik sudah masuk di era tahun 2013, yang mengadalkan sumber listrik tenaga mesin disel hingga kini. 

“Penggunaan masih pakai disel milik kampung. Menyala dari jam enam sore sampai jam 12 tengah malam,” ungkap Lejau, yang lahir di Kampung Naga Aruq ini. 

Belum lama ini, pemerintahan kampung memakai dana desa untuk membeli lagi perlengkapan mesin disel dengan daya mesin 55 kilo volt ampere untuk tahun 2018 dengan mengahabiskan anggaran dana desa sebesar Rp 300 juta. 

Tahun sebelumnya, Kampung Naha Aruq juga telah memiliki mesin disel pembangkit listrik bertenaga 15 kilo volt ampere. Kesemua ini untuk menambah daya, menjangkau banyak rumah tangga di Kampung Naha Aruq

“Sekarang ada 53 rumah yang tersambung aliran listrik dari mesin disel kampung, sisanya ada 13 titik dialirkan ke tempat-tempat fasilitas umum di kampung,” kata Lejau. 

Dia pun sangat berharap, infrastruktur listrik seperti dari Perusahaan Listrik Negara bisa mengusahakan untuk masuk ke kampungnya supaya keberadaan listrik bisa berperan untuk mengembangkan kampung bisa lebih maju, dari tertinggal naik status menjadi kampung berkembang dan ke arah desa mandiri. 

Ke depan, sebagai pemasukan daerah kampung, pihaknya melalui Badan Usaha Kampung di tahun 2019 berencana akan membuat terobosan meluncurkan produk jasa transportasi air sungai berupa perahu longboat mesin motor. Permodalan diambil dari dana desa, yang nanti peruntukannya mencari keuntungan buat pemasukan kas bagi kampung. 

“Mau beli satu dahulu. Kan disini banyak yang butuh Longboat. Orang-orang dari luar kampung yang mau ke Naha Aruq bisa sewa. Bisa dipakai untuk antar dari satu kampung ke kampung lain yang ada di Long Pahangai,” ungkap Lejau. 

Penulis: Budi Susilo
Editor: Januar Alamijaya
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved