Dua Penyebab Tingginya Harga Barang di Kampung Long Apari

DPRD Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu), Provinsi Kalimantan Timur, angkat bicara mengenai mahalnya harga-harga pangan se

Dua Penyebab Tingginya Harga Barang di Kampung Long Apari
TRIBUN KALTIM/BUDI SUSILO
Kondisi dermaga perahu motor di Kampung Long Apari, Kecamatan Long Apari, Kabupaten Mahakam Ulu, Provinsi Kalimantan Timur pada Selasa (27/11/2018) pagi. 

Novita imbau, kebutuhan yang belum ada di sebuah kampung semestinya bisa disediakan, jadi peluang pasar baru.  

“Kadang pengusahanya tidak membaca peluang pasar. Memang pembelinya (konsumen) harga berapa saja dibeli saat pas mau mengadakan acara. Mereka membeli saja, tidak lagi mempermasalahkan harganya,” katanya. 

Sebagai contoh, informasi harga daging ayam broiler di Kampung Long Apari tersiar kabar dinilai sangat mahal. Karena memang, di lokasi Kampung Long Apari tidak ada yang ternak ayam secara besar-besaran. 

Karena, ujar Novita, pasokan komoditi pangan daging ayam paling banyak didatangkan dari daerah Kabupaten Kutai Barat, atau dari Kampung Long Bagun Kabupaten Mahakam Ulu.  

“Orang ngomong mahal, ya memang mahal. Harga ayamnya memang tidak sampai Rp 1 juta, paling berkisar antara Rp 400 ribu sampai 500 ribu per ekor,” tutur wanita berkulit putih ini. 

Dia pun mengimbau, melalui Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Mahakam Ulu untuk terus tingkatkan kinerja dengan melakukan pemberdayaan masyarakat desa untuk bisa melakukan swasembada pangan yang ragam.

“Diberdayakan masyarakatnya, kan ada penyuluh-penyuluh,” ujarnya. 

Gelar Juara Liga 1 2018, Ketatnya Persaingan Persija Jakarta dan PSM Makassar

Harbolnas Jatuh 12 Desember, Begini Tips Berburu Barang Incaran Saat Flash Sale

Selain itu, melalui anggaran dana desa yang dimiliki setiap kampung pun bisa digunakan untuk pemberdayaan ekonomi masyarakat kampung.

Tahun 2019, penggunaan dana desa setiap kampung manfaatkan peluang potensi yang bisa dimanfaatkan sebagai kebangkitan ekonomi masyarakat kampung. 

“Buat usaha peternakan. Ada yang mau usaha mebel kayu silakan saja, kan ada yang pintar mengukir kayu. Disini banyak kayu, daripada beli mebel didatangkan dari Kutai Barat, ya mending masyarakat kita sendiri yang buat,” tuturnya. 

Halaman
123
Penulis: Budi Susilo
Editor: Trinilo Umardini
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved