Jadi Suvenir, Sisik Penyu yang Dilindungi Itu Dijual Murah di Berau

Suvenir tersebut dijual dalam berbagai bentuk aksesoris, seperti gelang, mata kalung dan cincin yang dijual dengan harga bervariasi dan dengan harga y

Jadi Suvenir, Sisik Penyu yang Dilindungi Itu Dijual Murah di Berau
Tribun Kaltim/GEAFRY NECOLSEN
Penyu termasuk turunannya, yakni telur, daging dan karapasnya tidak boleh dimanfaatkan untuk apapun, karena dilindungi oleh undang-undang. 

Jadi Suvenir, Sisik Penyu yang Dilindungi Itu Dijual Murah di Berau

TRIBUNKALTIM.CO, TANJUNG REDEB - Sebuah lembaga yang begerak di bidang konservasi, Protection of Forest & Fauna (Profauna), terus menyoroti perdagangan suvenir yang terbuat dari karapas penyu di Pulau Derawan yang masih marak, meski aparat kepolisian, BPSPL Pontianak dan Pemkab Berau sudah seringkali melakukan razia dan mengingatkan warga.

Siti Nur Hasanah, Koordinator Profauna Borneo melalui press releasenya yang diterima Tribunkaltim.co, Selasa (4/12/2018) menyebutkan, dari pantauan organisasinya, pada bulan November 2018 sedikitnya terdapat 8 toko dan lapak dengan lebih dari 600 buah suvenir yang terbuat dari karapas penyu sisik yang dijual di Pulau Derawan.

Suvenir tersebut dijual dalam berbagai bentuk aksesori, seperti gelang, mata kalung dan cincin yang dijual dengan harga bervariasi dan dengan harga yang relatif murah, mulai dari harga Rp 5.000 hingga Rp 70.000 per item.

Tips Memotong Buah agar Nutrisi Tak Hilang

Jelang Harbolnas 12.12, Xiaomi Redmi 6 dan Redmi S2 Diskon hingga Rp 500 Ribu!

 

Maraknya perdagangan aksesoris berbahan dasar karapas Penyu sisik ini sangat memprihatinkan, karena sebelumnya pada bulan Februari 2016 perdagangan penyu di Pulau Derawan ini sempat menurun setelah pihak Kementrian Kelautan dan Perikanan melakukan razia.

"Perdagangan aksesoris berbahan karapas penyu itu adalah melanggar hukum, karena penyu merupakan satwa yang sudah dilindungi undang-undang Indonesia, diperlukan adanya tindakan tegas dari pemerintah agar perdagangannya tidak semakin meluas", kata tegasnya.

Menurut UU nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, perdagangan satwa dilindungi seperti penyu, diancam dengan hukuman penjara maksimum 5 tahun dan denda Rp 100 juta.

Penyu sisik sudah dimasukan dalam kategori spesies sangat terancam punah dan dimasukan dalam daftar merah dalam International Union of Concervation for Nature (IUCN).

Akhir Tahun saatnya Beli Mobil Baru! Daihatsu, Honda, Mitsubishi, Toyota, Wuling Diskon 28 Juta!

 

Pihaknya menduga, karapas penyu yang dipakai untuk membuat aksesoris berasal dari kawasan Kepulauan Derawan yang menjadi habitat penyu sisik dan penyu hijau.

"Populasi penyu sisik di Kepulauan Derawan tidaklah sebanyak penyu hijau, sehingga setiap tindakan yang membunuh penyu sisik itu akan berpengaruh terhadap populasi penyu sisik tersebut," ujar Siti.

Semua jenis penyu, menurutnya memiliki fungsi alamiah, penyu sisik memiliki fungsi yang lebih penting terhadap ekosistem terumbu karang. Penyu sisik memangsa polip, yaitu mahluk yang berkompetisi dengan terumbu karang.

Gelar Juara Liga 1 2018, Ketatnya Persaingan Persija Jakarta dan PSM Makassar

Harbolnas Jatuh 12 Desember, Begini Tips Berburu Barang Incaran Saat Flash Sale

Terlalu banyak jumlah polip tidak berakibat positif pada terumbu karang.

Terlebih lagi, tidak semua ikan dapat memakan polip, karena polip memiliki mantel yang tebal.

"Dengan mulut penyu yang keras, penyu sisik dapat merobek mantel polip dan memakan isinya. Ikan yang lain pun turut memakan sisa-sisa polip itu tadi. Terumbu karang pun menjadi lestari dan semakin banyak ikan yang dapat berlindung di sekitarnya," paparnya. (*)

Penulis: Geafry Necolsen
Editor: Trinilo Umardini
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved