Kasus Perceraian Meningkat, Kemenag di Berau Diminta Bentuk Konseling Keluarga

Dalam kesempatan ini, Lukman Hakim juga menyoroti tingginya kasus perceraian.

Kasus Perceraian Meningkat, Kemenag di Berau Diminta Bentuk Konseling Keluarga
Tribun Kaltim/GEAFRY NECOLSEN
Peringatan Hari Amal Bhakti ke-73 Kementerian Agama, Sekretaris Daerah Kabupaten Berau, secara simbolis menyerahkan sertifikat tanah wakaf, pada hari Kamis (3/1/2019). 

Kasus Perceraian Meningkat, Kemenag di Berau Diminta Bentuk Konseling Keluarga

Laporan wartawan Tribun Kaltim, Geafry Necolsen

TRIBUNKALTIM.CO, TANJUNG REDEB -  Memperingati Hari Amal Bhakti ke-73 Kementerian Agama, Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin berpesan, agar para pegawai di kementerian yang dipimpinnya, agar melaksanakan amanah, serta menunjukkan kinerja yang baik kepada masyarakat, khususnya dalam layanan keagamaan.

Dalam kesempatan ini, Lukman Hakim Saifuddin juga menyoroti tingginya kasus perceraian.

Melalui sambutannya yang dibacakan oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Berau, Muhammad Gazali saat memimpin upacara peringatan itu, menyinggung soal meningkatnya kasus perceraian, Kekerasan Dalam Rumah Tangga dan pernikahan dini yang semakin meningkat.

Maia Estianty Jodohkan Dul Jaelani dengan Aaliyah Massaid, Ini Sosok Putri dari Reza Artamevia

2 Alasan Diet Mediterania Bakal Jadi Diet Terbaik 2019, Patut Dicoba!

 

"Tugas Kementerian adalah memberikan pelayanan di bidang keagamaan, mulai dari layanan haji sampai pencatatan nikah yangbterus ditingkatkan. Di sisi lain, angka Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), pernikahan dini dan perceraian juga meningkat," ungkapnya, Kamis (3/1/2019).

Karena itu, Lukman Hakim Saifuddin meminta, agar seluruh Kementerian Agama di tingkat daerah, membuka konseling keluarga, untuk menekan ketiga persoalan itu.

Sepanjang tahun 2018 saja, pengadilan agama telah memutus 637 perkara rumah tangga. Jumlah tersebut meningkat jika dibanding tahun 2017 yang 'hanya' 580 perkara.

Akhir 2018, Lagu BTS Fake Love Cetak Rekor Baru, Geser Gangnam Style Milik Psy!

 

Dari 637 perkara tersebut, 509 kasus atau 65 persen dari perkara persidangan merupakan kasus perceraian.

Banyaknya kasus perceraian ini tidak hanya dipicu malasah ekonomi maupun pihak ketiga, juga disebabkan kasus KDRT.

Pengadilan agama terpaksa mengabulkan putusan cerai, lantaran mereka yang mengajukan persidangan enggan rujuk kembali, meski dalam kasus perceraian, proses mediasinya cukup panjang untuk mencegah perceraian terjadi.

Selain kasus perceraian, pernikahan dini juga mengalami peningkatan.

Data Pengadilan Agama menyebutkan, ada 20 remaja yang mengajukan dispensasi pernikahan dini. Mayoritas disebabkan kehamilan di luar nikah.

Stuart Collin dan Angela Gilsha Unggah Foto yang Mirip di Tahun Baru, Ada Hubungan Asmara?

Menikah Selama 20 Tahun, Begini Potret Keharmonisan Rumah Tangga Anjasmara dan Dian Nitami

Untuk menutupi aib keluarga maupun untuk melindungi hak anak yang dilahirkan nanti, para remaja itu memutuskan menikah, meski pasangan menikah dini itu sama-sama belum memiliki pekerjaan untuk menopang perekonomian keluarga.

Meski pemohonan dispensasi menikah dini ini dikabulkan, namun muncul kekhawatiran, pernikahan yang disebabkan keterpaksaan situasi dan kondisi ini, akan memicu terjadinya perceraian, maupun KDRT di kemudian hari karena pasangan nikah dini yang masih usia remaja belum memiliki kematangan emosional. (*)

Penulis: Geafry Necolsen
Editor: Trinilo Umardini
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved