Breaking News:

Bina Juru Parkir Liar, Dishub Samarinda Berencana Bagikan 700 Rompi

Namun, upaya merangkul jukir liar sudah sering mereka lakukan. Selain jukir resmi, juga ada jukir binaan.

TRIBUN KALTIM / NALENDRO PRIAMBODO
Ilustrasi - Area parkir sepeda motor di Mal Lembuswana, Samarinda 

Laporan Wartawan Tribunkaltim.co, Nalendro Priambodo

TRIBUNKALTI.CO, SAMARINDA - Di tahun 2019 ini, Dinas Perhubungan Kota Samarinda berencana memberikan tanda pengenal bagi juru parkir resmi maupun binaan.

Anggaran sebesar Rp100 juta pun sudah disiapkan untuk atribut juru parkir itu.

"Nanti akan kita bikinkan rompi sebanyak 700 buah. Ini, agar memudahkan kami (membedakan) mana juru parkir yang resmi, binaan, maupun yang masih liar," ujar Kasi Perparkiran Dishub Samarinda Muhammad Zulsyam Khaidier.

Diakuinya, keberadaan jukir liar memang tergantung momentum.

Namun, upaya merangkul jukir liar sudah sering mereka lakukan. Selain jukir resmi, juga ada jukir binaan.

"Nah, yang binaan itu, dulunya jukir liar, makanya mereka kami bina untuk menyetor hasil parkir" ucapnya.

Sayangnya, masih ada kendala di lapangan. Salah satunya, tidak semua jukir binaan mau menetap dan mematuhi aturan dari Dishub. Hingga, tak jarang jukir binaan kembali liar mengincar lokasi lainnya.

"Dulu jumlahnya (jukir binaan) bisa sampai 300 orang, sekarang yang aktif menyetor hanya 125 orang saja. Personel kami juga terbatas hanya 15 orang bagaimana mau mengontrol," jelasnya.

Terpisah, Sekertaris Kota Samarinda, Sugeng Charuddin mengatakan, untuk mengatasi soal perparkiran ini, butuh dukungan banyak pihak, baik dari pilar pemerintah, pengusaha dan masyarakat yang bisa menjalankan kontrol sosial.

Baca juga:

Pertimbangkan Potensi Gempa di Selat Sunda, BMKG: Peringatan Waspada Tsunami Masih Berlaku

Stefano ''Teco'' Cugurra Berada di Pulau Bali, Bos Serdadu Tridatu: Tunggu Tanggal Mainnya

Ole Gunnar Solskjaer Akui Bersalah Saat Manchester United Tak Tampil Meyakinkan Kontra Reading

Ternyata Ini Alasan Christian Pulisic Lebih Memilih Chelsea Dibanding Liverpool

Dianugerahi Gelar Raden Wira Arsana dari Sultan Kutai Kartanegara, Ini Maknanya bagi Sandiaga Uno

Tak Ingin Terlena, Fabio Lopez Akan Buktikan di Lapangan Bersama Skuat Borneo FC

Selama ini, ia menilai, salah satu kesulitannya penataan perparkiran, karena kurangnya sinergi dan kesadaran, karena parkir liar dan pengguna; seperti sama-sama maklum.

"Susah jadi habit atau kebiasaan, dan ini yang harus kita benahi," ujarnya.

Kalaupun ada masyarakat yang keberatan jika ditarik pungutan parkir tanpa disertai karcis resmi dari jukir, bisa saja pihak itu melaporkan pada pihak berwajib.

"Kita ini kan negara hukum, bisa koordinasi dengan pihak terkait," ujarnya.

Urusan retribusi perparkiran di Samarinda memang belum terlalu baik. Antara realisisasi retribusi jasa pelayanan parkir di tepi jalan umum di Kota Samarinda selalu tak sesuai target yang ditetapkan.

Hal ini, terlihat dari data realisisasi pelayanan dan target retribusi parkir yang dikeluarkan Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kota Samarinda, sejak tahun 2013-2017.

Berikut box Target dan Realisisasi Pelayanan Parkir di Tepi Jalan Umum Kota Samarinda 2013-2017

Tahun      Target                 Realisisasi
2013.        Rp 1,56 miliar   Rp 985,8 juta
2014.        Rp 3,05 miliar.  Rp 1,16 miliar
2015.        Rp 3,3 miliar.    Rp 2,26 miliar
2016.        Rp 4,03 miliar.  Rp 2,05 miliar
2017.        Rp 2,5 miliar.    Rp 1,55 miliar

Sumber ; Bapenda Kota Samarinda (*)

Penulis: Nalendro Priambodo
Editor: Kholish Chered
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved