Ekspor Kaltim 2018 Capai USD 16,78 Miliar, BPS Sebut Masih Didominasi Barang Migas

Neraca perdagangan Kaltim, hingga November 2018, mengalami surplus sebesar USD 12,52 miliar.

Ekspor Kaltim 2018 Capai USD 16,78 Miliar, BPS Sebut Masih Didominasi Barang Migas
TRIBUN KALTIM/NALENDRO PRIAMBODO
Satu diantara 40 kontainer berisi komoditas 3 provinsi di Kalimantan diangkut ke kapal kontainer sepanjang 220 meter, langsung menuju pelabuhan Shanghai, Tiongkok dari Pelabuhan Kariangau, Balikpapan, Senin (26/3/2018). Lewat program Internasional direct call ini, ekspor Kaltim, yang sebelumnya melewati pelabuhan di provinsi lain, bisa langsung melewati pelabuhan ini, dengan masa tempuh 17 hari pengiriman sampai Pelabuhan Shanghai, yang sebelumnya memakan 35 hari. 

TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA - Neraca perdagangan Kaltim, hingga November 2018, mengalami surplus sebesar USD 12,52 miliar. Hal ini menunjukkan ekspor Kaltim selalu lebih besar dibandingkan impor. Kondisi terjadi hampir setiap tahun.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim, secara kumulatif, nilai ekspor Kaltim periode Januari-November 2018 mencapai USD 16,78 miliar atau naik 5,59 persen dibanding periode yang sama tahun 2017.

"Dari seluruh ekspor periode Januari-November 2018, ekspor barang migas mencapai USD 2,98 miliar atau turun 22,12 persen dan barang non migas mencapai USD 13,79 miliar atau naik sebesar 14,39 persen dibanding periode yang sama tahun 2017," kata Kepala BPS Kaltim, Atqo Mardiyanto.

Baca: Lion Air tak Lagi Gratiskan Bagasi, Ini Tarif Bagasi Penumpang dari Bandara Balikpapan

Negara tujuan utama ekspor non migas Kaltim pada November 2018 yakni India, Tiongkok dan Jepang masing-masing mencapai USD 295,00 juta, USD 266,06 juta dan USD 164,26 juta, dengan peranan ketiga negara tersebut mencapai 97,67 persen.

"Kenaikan terbesar ekspor non migas November 2018 jika dibandingkan dengan Oktober 2018 terjadi ke Vietnam sebesar 60,13 persen, yaitu dari USD 16,28 juta menjadi sebesar USD 26,06 juta. Sedangkan penurunan terbesar ekspor non migas terjadi ke negara Tiongkok sebesar 22,05 persen, yaitu dari USD 341,31 juta menjadi sebesar USD 266,06 juta," kata Atqo.

Sementara, secara komulatif nilai impor Kaltim periode Januari-November 2018 mencapai USD 4,25 miliar atau naik sebesar 48,30 persen dibanding periode yang sama tahun 2017. Dari seluruh impor periode Januari-November 2018, impor barang migas mencapai USD 3,03 miliar atau naik 42,99 persen dan barang non migas mencapai USD 1,22 miliar atau naik sebesar 63,40 persen.

Baca: Wow, Harga Ikan Tuna Termahal di Dunia, Pengusaha Resto di Jepang Rela Rogoh Kocek Rp 44,9 Miliar

Atqo menjelaskan, penurunan impor November 2018 disebabkan oleh turunnya barang non migas sebesar 12,78 persen. Persentase penurunan terbesar impor pada November 2018 terhadap Oktober 2018 terjadi pada golongan kendaraan selain yang bergerak diatas rel kereta api, dan bagian serta aksesorisnya (87) sebesar 46,89 persen. Yakni dari USD 22,24 juta menjadi USD 11,81 juta.

"Sedangkan persentase kenaikan terbesar terjadi pada golongan gumpalan, kain kempa dan bukan tenunan, benang khusus; benang pintal, tali tambang dan kabel serta barang daripadanya (56) sebesar 60 237,49 persen, yaitu dari USD 0,01 juta menjadi sebesar USD 3,36 juta," kata Atqo. (*)

Penulis: Rafan Dwinanto
Editor: Sumarsono
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved