Opini

Daya Rusak dan Akar Masalah Prostitusi Online

TERUNGKAPNYA kasus prostitusi online artis berinisial VA dan AS di Surabaya, Jawa Timur mengundang keprihatinan sendiri.

Daya Rusak dan Akar Masalah Prostitusi Online
surya.co.id/mohammad romadoni
Vanessa Angel didampingi Jane Shalimar memberi keteranga pers usai pemeriksaan dirinya di Polda Jatim. Polisi akhirnya melepaskan Vanessa yang berstatus saksi korban dalam dugaan kasus prostitusi online. 

Jika akhir 2018 beberapa pemda sesuai target Kemensos RI sedang berjuang keras mengembalikan para pelacur ke tengah keluarganya dengan membubarkan lokalisasi maka terungkapnya prostitusi jenis ini menjadikan program mulia ini menjadi seolah–olah menjadi tidak ada artinya. Hal ini terjadi karena daya rusak isu ini saat ini yang bila ditakar sangatlah hebat.

Daya Rusak
Selama ini menurut sepengetahuan penulis memang belum ada penelitian mendalam yang arahnya ke prostitusi on line. Namun melihat betapa luasnya jangkauan internet di negara kita dan besarnya pemakai media sosialnya maka hampir dapat dipastikan bahwa pemasaran prostitusi melalui media ini juga bisa jadi akan mengikuti polanya.

Jika penetrasi internet bisa dikatakan menembus batas ruang, jarak dan waktu (terus menerus) maka pemasaran prostitusi on line juga demikian adanya. Bahwa ‘jualan’ ini bisa dilihat dari pojok bumi manapun sepanjang ada jaringan.

Tentu saja “keunggulan’ dari yang online dibanding offline adalah promosi bisa berjalan secara total dan habishabisan. Bagian-bagian yang diidentifikasi paling diminati oleh konsumen dapat dengan detail tergambar atau tershoot (gambar bergerak) secara jelas, bukan hanya sekedar wajah saja.

Berbeda dengan lokalisasi yang untuk sekedar melihat wajah dan sosoknya harus mendekat secara fisik ke lokasi dan ini dianggap “berbahaya” untuk kalangan tertentu seperti public figure misalnya, karena akan mudah teridentifikasi sosoknya oleh orang lain. Itupun kalau mau melihat hanya lewat jendela kaca seperti layaknya melihat barang pajangan di sebuah toko.

Hal itu yang dulu tergambar di beberapa di rumah bordil di kawasan gang Dolly lokalisasi yang cukup legendaris di Surabayayang sekarang sudah ditutup. Tambahan informasi hanya bisa didapat melalui mucikari atau penghubungnya.

Pada yang pemasaran online maka produk yang ditawarkan atau si artis bisa terpampang dengan detail dalam waktu 24 jam non stop. Sementara pada yang konvensional maka jika matahari sudah terbit alias sudah beranjak pagi maka keriuhan “pasar” malam hari itu juga seketika akan menurun.

Jika pada yang offline para konsumen atau katakan lelaki hidung belangnya biasanya adalah para pekerja biasabiasa yang domisilinya relative tidak jauh dari lokasi. Walaupun dalam kasus tertentu adalah para lelaki kesepian yang sedang ‘transit’ di sebuah kota yang jauh dari keluarganya.

Online kebanyakan penikmatnya adalah kalangan berduit –mengingat mahalnya tariff antara lokasi wanita PSK sebagai ‘pemberi jasa’ dan lelaki hidung belang sebagai konsumen bisa jadi sangat dekat atau bahkan sangat jauh maupun diantara keduanya. Namun khusus pada penikmat promosi PSK on line bisa jadi sangat lebar rentang umur dan latar belakangnya.

Baca: UPDATE - Polda Jatim Ungkap 6 Artis Terlihat Kasus Prostitusi, Ada Mantan Finalis Puteri Indonesia

Baca: Daftar 8 Tempat Paling Aneh dan Menakjubkan di Dunia, 2 di Antaranya ternyata Ada di Indonesia

Maka akan sangat beralasan bila dibandingkan dengan prostitusi off line yang mempengaruhi banyak hal “hanya” dalam skala lokal, maka prostitusi on line menurut hemat penulis bisa jadi lebih luas dalam skala nasional, regional bahkan global (bila berupa sindikat perdagangan antar manusia antar Negara).

Halaman
1234
Editor: Sumarsono
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved