Opini

Daya Rusak dan Akar Masalah Prostitusi Online

TERUNGKAPNYA kasus prostitusi online artis berinisial VA dan AS di Surabaya, Jawa Timur mengundang keprihatinan sendiri.

Daya Rusak dan Akar Masalah Prostitusi Online
surya.co.id/mohammad romadoni
Vanessa Angel didampingi Jane Shalimar memberi keteranga pers usai pemeriksaan dirinya di Polda Jatim. Polisi akhirnya melepaskan Vanessa yang berstatus saksi korban dalam dugaan kasus prostitusi online. 

Hal-hal seperti di atas kemungkinan juga sudah terjadi juga sejak tahun –tahun pertama diungkapnya prostitusi dalam jaringan. Namun tahun ini menjadi cukup heboh karena ada beberapa isu yag mengiringinya. Isu artis VA oleh beberapa orang pada akhirnya dipakai sebagai bahan olokolok pada lembaga pernikahan dan keluarga.

Sesuatu yang oleh masyarakat timur sangat diagungkan. Awalnya seorang netizen remaja yang memposting bahwa value atau nilai diri seorang VA yang dikaitkan dengan nama merek produk yang terkenal mahal dianggap lebih berkelas daripada kedudukan istri – dari sebuah rumah tangga/ keluarga normal.

Bayaran seorang VA yang fantastis yaitu 80 juta “sekali main” vs “bayaran” seorang istri yang hanya 10 juta per bulan untuk memainkan berbagai peran seperti koki, babby sitter ataupun pembantu untuk merujuk tugas istri sekaligus ibu rumahtangga tentu saja memantik reaksi keras sebagian besar netizen yang menganggap perandingan yang tidak apple to apple.

Apalagi dalam beberapa tanggapan/komen yang muncul berikutnya disebutkan bahwa seperangkat alat shalat sebagai mahar dalam pernikahan dalam Islam serta sejumlah rupiah saja sudah mengikat seseorang istri/ibu melakukan tugas sekitar dapur, sumur serta kasur dalam seumur hidupnya.

Sesuatu yang penulis anggap sebagai daya rusak yang tertinggi karena sudah menyentuh wilayah paling sensitive bagi wanita yang menjadikan ketulusan pengabdian dalam menjalankan peran sebagai istri bagi suami serta ibu bagi anak-anaknya diusik secara serampangan.

Walaupun pada akhirnya diklarifikasi bahwa postingan tersebut adalah upaya supaya tidak hanya menyorot perempuan saja saat ada kasus prostitusi, namun pemilihan diksi yang kurang tepat mengakibatkan diolok-oloknya ajaran agama yang semestinya menjadi dihormati adalah sebuah blunder bagi si pengunggah.

Baca: Pulang Umrah, Cita Citata Langsung ke RS Temani Ibunda yang Sakit, Penampilannya Kini Berbeda

Akar Masalah
Menurut hemat penulis, ini menjadi blessing in disguise. Ada semacam berkah di dalam musibah. Bahwa ternyata kasus ini dapat mengungkap dan memetakan pola pikir kebanyakan dari remaja kita.

Adalah apa yang bisa jadi menjadi akar masalah dari semuanya adalah adanya pola pikir hedonism yang hanya berkutat pada kesenangan dan kenikmatan materi sebagai tujuan utama dalam hidupnya. Bersenang-senang, berpesta pora dan hurahura dengan menghamburkan materi menjadi gaya nya seharihari.

Bahkan pada saat dalam kondisi kekurangan materi pada keluarganya pun seringkali para penganutnya akan mencari biaya sendiri sebagai penopang gaya hidupnya dengan cara main seks bebas dengan imbalan sedikit uang dari para omom (pada beberapa kasus pelajar dan ‘ayam kampus’).

Hal ini juga sebagai cerminan dari pola pikir pragmatism dimana sisi praktis atas hasil akhir dengan mengabaikan nilai moral yang ada sudah sangat menggejala di kalangan masyarakat.

Halaman
1234
Editor: Sumarsono
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved