Berita Eksklusif

Kecanggihan Instalasi Kedokteran Nuklir di RSUD AWS, Deteksi Sel Kanker Cukup 15 Menit

Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) RSUD Wahab Sjahranie Samarinda kini menjadi salah satu rumah sakit rujukan nasional.

Kecanggihan Instalasi Kedokteran Nuklir di RSUD AWS, Deteksi Sel Kanker Cukup 15 Menit
TRIBUN KALTIM/DOAN PARDEDE
dr Habursani Hapkido di salah satu ruangan di dalam Instalasi Kedokteran Nuklir RSUD AW Syahranie Kota Samarinda, Senin (29/1/2018). 

TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA - Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) RSUD Wahab Sjahranie Samarinda kini menjadi salah satu rumah sakit rujukan nasional. Tidak hanya tenaga dokter yang mumpuni, berbagai fasilitas kedokteran nan cangging pun sudah dimiliki RSUD AW Sjahranie.

Bahkan sejak awal 2018, rumah sakit milik Pemprov Kaltim ini dilengkapi fasilitas Instalasi Kedokteran Nuklir.

Mesin medis canggih yang diperkirakan bernilai belasan miliar rupiah tersebut memiliki kemampuan bisa mendeteksi seluruh sel kanker berbagai jenis dalam tubuh pasien. Tak hanya itu, hampir semua fungsi organ tubuh vital bisa dinilai akurat dalam hitungan persen.

Alat ini sangat membantu dokter memberikan obat dan perawatan tepat, demi mengobati dan memperpanjang harapan hidup pasien. Menurut Radiografer Instalasi Kedokteran Nuklir RSUD AW Syahranie, Riana Syhaputra, bentuk dan cara kerja alat ini mirip mesin pemindai CT-scan, namun lebih canggih.

Baca: Harga Tiket Pesawat dari Balikpapan masih Rp 1 Jutaan, Ini Penjelasan Maskapai

Baca: Jumlah Penduduk Miskin di Kaltara Turun Tapi Garis Kemiskinan Justru Naik

Ada dua metode perawatan yang digunakan untuk melihat perkembangan sel-sel kanker di jaringan lunak dan tulang. Pertama, dijelaskan Riana, lewat pemeriksaan dinamis.

"Pasien dipersilakan tidur terlentang di atas mesin yang perlahan bergerak dari kepala hingga kaki. Setelah itu, pasien disuntik di bawah kamera pemindai dengan obat yang mengandung zat radioaktif bernama Tecnitium 99m. Setalah itu, kita ikuti aliran radiofarmaka-nya dalam tubuh," ujar Riana kepada Tribun, Senin (14/1) kemarin di depan ruang operator camera gamma.

Pemeriksaan kedua, statis. Pasein disuntik dan harus menunggu beberapa jam kemudian dipersilakan naik ke mesin pemindai, untuk diperiksi semua bagian tubuh dari berbagai sisi. Untuk memeriksa sel kanker dan tumor, ada dua jenis pemeriksaan, yakni bone scane atau pemindai tulang. Sementara, untuk melihat tumor di jaringan lunak menggunakan sistem sidik onkologi.

Pemindaian sel kanker dalam tulang memakan waktu rata-rata 30 menit melihat dari kepala hingga ujung kaki. Deteksi ini, untuk melihat sejauh mana perkembangan sel kanker yang menyebar di tulang pasein.

Baca: Lima Saksi tak Hadiri Sidang Kasus RPU KM 13 Balikpapan, termasuk Ketua Dewan dan Sekkot

Durasinya beragam, antara 15 menit untuk melihat kanker Tyroid, 30 menitan sampai 3 jam, tergantung seberapa detail.

Wartawan Tribun mendapat kesempatan melihat langsung layar monitor operator hasil pindai. Nampak, kerangka tubuh pasien berwarna putih menandakan sehat tidak terjangkit, kanker. Beberapa titik di bagian tubuh berwarna gelap didindikasi kuat adalah sel kanker yang berhasil dipindai. Bahkan, di layar monitor, terpantu, ada sebuah titik kecil di bagian tulang punggung yang terdeteksi.

"Titik sel kanker pun bisa kita pindai," ujar Riana menunjukkan titik hitam di bagian punggung pasein yang terdeteksi sel kanker yang menyebar.

Baca: Sidang Kasus RPU KM 13 Balikpapan, Mantan Ketua Komisi II Akui Ada Usulan Perubahan Anggaran

Tak hanya, kanker, alat radiografer instalasi nuklir ini bisa digunakan untuk melihat fungsi organ vital lainnya. Semisal seberapa besar fungsi ginjal dan jantung pasien yang bisa dihitung tinggal berapa persen fungsinya. (*)

Selengkapnya Baca Harian Tribun Kaltim edisi Rabu (16/1)!

Penulis: Nalendro Priambodo
Editor: Sumarsono
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved