Breaking News:

Perwali Larangan Parkir Diterapkan, Pedagang di Klandasan Keluhkan Sepi Pembeli

Diakuinya, sebelum diterapkan aturan larangan parkir di kawasan itu, dalam sehari dirinya bisa menghabiskan sekitar 10 kilogram nasi kuning.

Penulis: Aris Joni | Editor: Anjas Pratama
Tribunkaltim.co/ Aris Joni
Suasana Kompleks Pertokoan Cemara Rindang di Klandasan, Balikpapan tampak terlihat sepi, Selasa (22/1/2019) 

Perwali Larangan Parkir Diterapkan, Pedagang di Klandasan Keluhkan Sepi Pembeli

TRIBUNKALTIM.CO, BALIKPAPAN - Pedagang yang berjualan di ruko Klandasan sepanjang jalur Kawasan Tertib Lalu Lintas (KTL) jalan Sudirman, Balikpapan mengeluhkan sepinya pembeli sejak diterapkannya aturan larangan parkir oleh Pemerintah Kota Balikpapan.

Terlebih, semakin banyaknya supermarket yang bermunculan dianggap sangat berpengaruh terhadap penghasilan pedagang di kawasan kelandasan tersebut.

Saat di konfirmasi, salah seorang pedagang di Kompleks Pertokoan Cemara Rindang Klandasan, Mira mengungkapkan, dirinya berjualan nasi kuning di kawasan tersebut sudah sekitar empat tahun.

Balikpapan Terindikasi Rawan Penyalahgunaan Kekuasaan di Pemilu, Begini Sikap Bawaslu Kota

Abah Kumis Tersangka Kasus Gay di Balikpapan Bakal Segera Disidang di Pengadilan

Bagasi Berbayar Lion Air Group Sudah Berlaku, Cek Tarif Lengkapnya di SAMS Sepinggan Balikpapan

Diakuinya, sebelum diterapkan aturan larangan parkir di kawasan itu, dalam sehari dirinya bisa menghabiskan sekitar 10 kilogram nasi kuning.

"Tapi setelah diterapkan aturan itu, sehari habis lima kilo saja sudah beruntung sekali kita," ujarnya, Selasa (22/1/2019).

Menurutnya, selama diterapkan aturan larangan parkir di KTL tersebut, dirinya banyak kehilangan pelanggan. Sebab, ia menjelaskan banyak warga yang ingin mampir ke warungnya namun terkendala soal lokasi parkir.

"Pelanggan takut parkir di depan toko. Kalau kondisinya begini terus, kita bisa bangkrut," ungkapnya.

Menanggapi persoalan tersebut, anggota Komisi III DPRD Kota Balikpapan, Rustam mengatakan, Pemerintah Kota Balikpapan perlu mengkaji kembali perwali tentang larangan parkir di kawasan KTL tersebut. Menurutnya, jangan sampai demi menata kota, sampai mengorbankan dan mematikan usaha masyarakat.

"Aturan ini harus dikaji ulang lagi. Boleh saja kita menata kota, tapi di lihat juga kesejahteraan masyarakatnya," tegasnya.

Mantan Pemain Persiba dan Mitra Kukar Resmi Gabung ke Barito Putera, Bakal Duet Bareng Evan Dimas

Bakal Bebas 2 Hari Lagi, Ahok Disebut Minta Ketua DPRD DKI Jakarta Jadi Saksi Pernikahan

Sosok 5 Member TXT, Rapper Jadi Leader hingga Sosok Kai yang Berdarah Korea - Amerika

Lanjut dia, penurunan pendapatan hampir 50 persen dari pedagang di sepanjang Kompleks Pertokoan Cemara Rindang ini sangat memprihatinkan, terlebih dengan menjamurnya minimarket-minimarket modern yang memiliki lahan parkir sendiri di kawasan tersebut.

"Harus dipikirkan nasib pedagang disitu. Apalagi mereka yang berjualan di Kompleks Pertokoan Cemara Rindang ini rata-rata warga asli Balikpapan juga," ucapnya.

Ia menambahkan, Pemkot Balikpapan harus mengkaji kembali aturan perwali soal larangan parkir di kawasan KTL tersebut, terutama masalah waktu atau jam parkirnya. Karena ia berpendapat, aturan tersebut boleh diterapkan, namun dengan waktu dan jam yang tepat serta dapat disesuaikan.

"Intinya, pemkot perlu evaluasi Perwali itu, jangan egois. Mereka warga asli Balikpapan, bukan pendatang loh. Malah titik macet itu tidak ada di daerah Klandasan ini. Yang macet malah di kawasan lampu merah BP dan pasar Baru. Itupun kalau memang pas lagi rame-ramenya," pungkasnya. (*) 

Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved