Berita Eksklusif

Harga TBS Sawit Anjlok, Gapki Kaltim Tetap Optimistis Harga Sawit Segera Membaik

Fenomena anjloknya harga TBS merupakan siklus tahunan. Biasanya, penurunan harga ini terjadi pada November hingga Januari.

Harga TBS Sawit Anjlok, Gapki Kaltim Tetap Optimistis Harga Sawit Segera Membaik
tribunkaltim.co/ Nevrianto
Sejumlah pekerja memindahkan kelapa sawit ke bak mobil saat panen di perkebunan kawasan Batu Batu, Kecamatan Muara Badak Kabupaten Kutai Kartanegara Senin(28/1/2019).Dalam sehari panen sawit mampu mencapai 3 ton. 

TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA - Fenomena anjloknya harga TBS merupakan siklus tahunan. Biasanya, penurunan harga ini terjadi pada November hingga Januari. Menurut Azmal, penurunan harga terjadi lantaran di Eropa sedang mengalami musim dingin. Sebelum musim dingin tiba, Eropa memaksimalkan impor sawit.

"Jadi, sebelum musim dingin mereka (Eropa) stok sawit. Sehingaa pas musim dingin, mereka tak beli sawit lagi. Lagi pula saat musim dingin mereka mengurangi aktivitas," kata Azmal, Selasa (29/1).

Berdasarkan rilis harga bulanan sawit bulanan Dinas Perkebunan (Disbun) Kaltim, harga TBS per kilogram hanya Rp 1.000-1.100. Bandingkan dengan harga TBS per April 2018, yang berada di kisaran Rp 1.600 per kilogram.

Baca: Ramalan Zodiak 31 Januari 2019, Ada yang Harus Siap-siap untuk Pengeluaran Besar

"Harga ini fenomena tahunan. Kenapa tahun ini kok lebih ramai dibicarakan? Karena bertepatan dengan banjir buah (sawit). Yang belum berbuah tahun lalu, berbuah tahun ini," kata Azmal, menjelaskan faktor yang menyebabkan harga sawit terjerembab.

Meski demikian, Azmal yakin harga sawit di pasar dunia akan semakin membaik. Keyakinan ini diperkuat lantaran produk turunan sawit sudah menjadi kebutuhan hidup penduduk dunia. "Nanti saat mereka (Eropa) kehabisan stok, mereka akan beli lagi. Ini hanya penjualan yang tertunda. Kecuali mereka tidak makan roti lagi, tak makan margarin, keju, tak pakai oli. Naik turun di akhir tahun itu biasa," urainya.

Penurunan harga TBS ini sempat dikeluhkan banyak petani. Pasalnya, harga jual petani, ke perusahaan, lebih rendah dibandingkan harga yang sudah ditetapkan oleh pemerintah. Soal ini, Azmal mengaku punya alasan tersendiri.

Azmal pun mengaku mendengar ada petani yang hanya diberi harga TBS Rp 300 per kilogram. "Karena petani itu tak mengantar langsung ke pabrik. Dia jual ke pengepul pertama, pengepul pertama jual ke pengepul kedua, karena pengepul kedua yang punya SPK (perjanjian kerja) dengan pabrik. Jadi, harga yang didapat petani rendah," kata Azmal.

Solusinya, petani harus berkoperasi. Petani, kata Azmal bisa menjual TBS mereka ke koperasi yang menjalin kerjasama dengan pabrik. "Jadi, yang perlu didorong itu, petani masuk ke koperasi," jelas Azmal.

Terkait pasar ekspor, meski terus berkampanye negatif soal kelapa sawit, Eropa, Amerika, kata Azmal, tetap menjadi pasar kelapa sawit Indonesia. "Bahkan Jerman, Rusia, itu pakai biodiesel kok," ujar Azmal.

Namun, Azmal juga menyarankan agar pemerintah mendorong dibukanya pasar sawit baru di Asia. Contohnya Cina dan India. "Kita perlu dorong pasar di tingkat Asia. Karena di Amerika itu impornya tak banyak. Hanya 1,2 persen saja," katanya lagi.

Baca: Fasilitas Hiburan Bakal Tersedia di Pesawat Sriwijaya Air Boeing 737-800 NG

Baca: Tanggapi Polemik Pembebasan Abu Bakar Baasyir, Ali Ngabalin: Ini Itu Dijadikan Bahan Gorengan

Halaman
12
Penulis: Rafan Dwinanto
Editor: Sumarsono
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved