KEK Maloy Bakal Jadi Pusat Industri Turunan CPO Sawit, Gapki Kaltim Menunggu Kapan Beroperasi

Pelaku usaha kelapa sawit tak sabar menantikan beroperasinya Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Maloy.

KEK Maloy Bakal Jadi Pusat Industri Turunan CPO Sawit, Gapki Kaltim Menunggu Kapan Beroperasi
TRIBUN KALTIM / MARGARET SARITA
Pemkab Kutim, PT MBS dan Dewan Nasional KEK saat peninjauan ke fasilitas air bersih untuk KEK Maloy. 

TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA - Pelaku usaha kelapa sawit tak sabar menantikan beroperasinya Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Maloy. Diketahui, KEK yang berlokasi di Kabupaten Kutai Timur ini dbangun khusus sebagai pusat industri berbasis oleochemical alias industri turunan sawit.

Ketua Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Kaltim Muhammad Sjah Djafar menuturkan, pengusaha sudah menunggu beroperasinya Maloy. "Apakah mau masuk ke Maloy? Pasti, itu sudah ditunggu-tunggu pengusaha," kata Djafar.

Gapki sangat berharap Maloy segera rampung. Selama ini, para pengusaha sawit harus ekspor melalui Pelabuhan Ekspor Kariangan Balikpapan hingga melalui Surabaya. Kondisi ini, diakui Djafar tak efisien untuk bisnis.

Baca: Pelabuhan Maloy Siap Dioperasikan, Ekspor CPO dari Kaltim Tinggal Tunggu Tanki Timbun

Baca: Begini Tim Jokowi Balas Andi Arief Sebut Pembeli Pisang & Martabak Turun Gegara Dhani Ditahan

"Kami berharap mengharapkan Maloy bisa terealisasi dengan cepat. Kan sudah lama sekali itu. Kita ekspor masih lewat Kariangau, juga Surabaya. Ada juga pembeli yang langsung ke parking terminal kita," kata Djafar.

Beroperasinya Maloy, menurut Djafar akan membuat aktivitas industri sawit menjadi terfokus pada satu titik. Hal ini akan memudahkan koordinasi antara penjual dan pembeli. Fasilitas kawasan industri yang lengkap, diyakini Djafar akan membuat usaha semakin efisien.

"Kalau Maloy jadi, akan fokus di satu pintu. Akan lebih mudah dan efisien. Mungkin harga juga bisa di up lebih tinggi. Karena biaya transpor rendah kalau sudah satu pintu," urainya.

Meski demikian, Djafar mengaku tak mengetahui penyebab belum beroperasinya Maloy, hingga kini. "Kami tak tahu juga kenapa prosesnya lambat," katanya lagi.

Selain belum beroperasi, Djafar juga meminta pemerintah memikirkan transportasi dari perkebunan yang berada du remote area, menuju Maloy. Contohnya perkebunan yang berada di Kembang Janggut, dan Tabang di Kutai Kartanegara. Perkebunan yang terpusat di dua kecamatan ini, tak memiliki akses untuk ke Maloy.

Baca: BLACKPINK Ungkap Tipe Pria Ideal Mereka, Lisa Suka Pria Lebih Tua, Rose Suka Cowok yang Bisa Nyanyi

"Dulu, sempat digagas waktu Gubernur Awang Faroek. Akan dibangun jalur transportasi kereta api, tapi sampai sekarang tak jadi. Itu saja (transport dari remote area) yang menurut saya jadi kendala," kata Djafar.

Selain Maloy, pengusaha juga berharap dukungan kemudahan perizinan dari pemerintah. Terlebih pembangunan industri hilir sawit. "Kan Pemda sudah mencanangkan untuk hilirisasi industri. Jadi perizinannya bisa dipermudah. Di Kaltim, instansi pemerintahnya sudah cukup membantu," ungkap Djafar.

Halaman
12
Editor: Sumarsono
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved