Seputar Imlek - Mulai Dodol Coklat Nian Gao hingga Makan Bersama di Hotel

Dodol Nian Gao merupakan panganan dodol yang terwadah dalam keranjang, terbuat dari tepung ketan dan gula.

Seputar Imlek - Mulai Dodol Coklat Nian Gao hingga Makan Bersama di Hotel
(Tribunkaltim/BudiSusilo)
Tjan Hariyanto Chandra (62), sesepuh Tionghoa Kota Balikpapan, Kaltim. 

Seputar Imlek - Mulai Dodol Coklat Nian Gao hingga Makan Bersama di Hotel

TRIBUNKALTIM.CO, BALIKPAPAN - Saban perayaan Imlek, lebaran kaum Tionghoa tidak pernah terlepas dari beragam pernak-pernik kuliner yang selalu disajikan dalam kegiatan peribadatan maupun perkumpulan keluarga di rumah. 

Satu hal yang paling sering tersuguhkan setiap setahun sekali dalam Imlek biasanya menonjolkan kue keranjang seukuran mangkok, atau dodol coklat yang bahasa tionghoa disebut Nian Gao. 

Seiring berjalannya modernisme kehidupan di masyarakat perkotaan seperti di Kota Balikpapan, keberadaan dodol Nian Gao mulau bergeser sudah tergantikan dengan jenis makanan lain. 

Dapat Panggilan Polisi Kasus Prostitusi Online, Ibunda Sebut Della Perez Menangis Seharian

Kepesertaan BPJS Kesehatan, Dinkes PPU Daftarkan 26.759 Warga Masuk PBI APBD

Update - Pendaftaran CPNS 2019 Diundur ke Juni, PPPK atau P3K Tetap Februari, Cek Formasinya

Hal ini diakui oleh tokoh Tionghoa Balikpapan, Tjan Hariyanto Chandra (62), saat dikunjungi Tribunkaltim.co di tokonya, Jl Ahmad Yani, Gunungsari Ilir, Senin (4/2/2019) pagi.    

Ia menjelaskan, dodol Nian Gao merupakan panganan dodol yang terwadah dalam keranjang, terbuat dari tepung ketan dan gula. Memiliki rasa manis, disantap kenyal dan lengket. 

Zaman dahulu, sering dodol Nian Gao menjadi warna yang mengental dalam perayaan Imlek. Khusus di Balikapan tidak ada yang membuat dan menjual, mesti didatangkan dari Kota Surabaya Jawa Timur atau Kota Semarang Jawa Tengah. 

“Sudah berubah zamannya, bergeser. Sudah jarang yang hidangkan kue keranjang. Paling banyak sudah memilik kue tart, browines. Imlek itu ciri khas makanannya yang manis-manis. Yang penting manis saja,” ujarnya. 

Selain itu waktu zaman dahulu, sajikan juga tebu yang dikenal rasanya manis sekali. Soal tebu, ada suatu hikayat, cerita yang umum di tengah masyarakat Tionghoa, ada sebuah perkampungan diserang sama hewan buas berbentuk raksasa. 

Warganya pun mengungsi, bersembunyi di perkebunan tebu dan akhirnya selamat dan aman. Setelah hewan buas itu pergi dari perkampungan, warga keluar dari persembunyiannya sambil membawa tebu ke rumah. 

Halaman
12
Penulis: Budi Susilo
Editor: Anjas Pratama
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved