Berita Eksklusif

Izin Pemanfaatan Kayu tak Dibatasi, Industri Kayu di Kaltim Terancam 3 Tahun Habis

Produksi kayu yang melimpah diakui turut membantu penyediaan bahan baku bagi industri Kaltim.

Izin Pemanfaatan Kayu tak Dibatasi, Industri Kayu di Kaltim Terancam 3 Tahun Habis
TRIBUN KALTIM/NEVRIANTO HP
Kayu gelondongan mengalir menyusuri Sungai Mahakam 

TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA - Produksi kayu yang melimpah diakui turut membantu penyediaan bahan baku bagi industri Kaltim. Selain industri sawmill dan moulding, industri kayu lapis juga turut menikmati kayu IPK (Izin Pemanfaatan Kayu).

"Komposisinya rata-rata kita pakai kayu IPK 30 persen dan kayu dari HPH itu 70 persen," kata Novel Chaniago, salah satu pengusaha industri kayu lapis di Kaltim, sekaligus Ketua Asosiasi Pengusaha Nasional Indonesia (Apindo) Samarinda.

Namun, melimpahnya bahan baku kayu ini tak sepenuhnya jadi berkah. Lantaran, tak semuanya mampu diserap industri perkayuan di Kaltim. Sebagian besar justru dijual ke luar pulau, terutama Jawa. Walhasil, industri perkayuan di Jawa kini justru jauh lebih menggeliat dibanding Kaltim.

Khairul-Effendhi Djuprianto Resmi Nakhodai Kota Tarakan hingga 2024

Novel menyebut secara jumlah, industri perkayuan di Jawa sudah berkali lipat mengalahkan Kaltim. Berdasarkan data dari perusahaan penerbit sertifikat verifikasi legalitas kayu (SVLK), kata Novel, di Jawa, terutama Jateng dan Jatim, kini muncul 1.700 industri perkayuan. Sedangkan di Kaltim, jumlahnya hanya sekitar 100-an perusahaan.

Dari sisi produksi, produk kayu yang dihasilkan industri di Jawa sudah 3 hingga 4 kali lipat dari produk kayu yang dihasilkan pabrik-pabrik kayu di Kaltim.

Ketua ISWA Kaltim Azharin mengaku cukup khawatir dengan produksi kayu secara besar-besaran. Khususnya yang berasal dari IPK. Jika kayu yang berasal dari IPK habis, dipastikan industri moulding dan sawmill yang kini bermunculan di Kaltim, bakal terpukul.

Keluarga Sandiaga Uno di Gorontalo Deklarasi Dukung Jokowi-Maruf Amin, Ini Alasan Mereka

Hal ini rupanya sudah disadari oleh Azharin. Dirinya mengaku, mendirikan sawmill yang hanya ditargetkan beroperasi selama tiga tahun. "Saya saja hanya targetkan pabrik ini tiga tahun saja. Oke tahun ini kita melimpah bahan baku. Tahun depan, siapa yang menjamin kalau produksi besar-besaran begini dari IPK," ujar Azharin.

Azharin berpendapat, harus ada pembatasan produksi kayu dari IPK. Seperti yang berlaku pada HPH, atau yang sekarang disebut Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu (IUPHHK).

"Sebetulnya mungkin industri bisa 10 tahun, tapi jika begini mungkin 3 tahun saja sudah habis. Jika dari IPK habis, mungkin kita cari bahan baku lk hutan rakyat atau hutan tanaman saja," katanya.

Berlimpahnya bahan baku, lanjut Azharin, juga membuat harga kayu semakin menurun. Sebagai gambaran, produksi kayu lapis Kaltim berkisar 400 ribu kubik per tahun. Sedangkan kapasitas produksi IUPHHK Hutan Alam, berkisar 1-1,2 juta kubik per tahun.

Untuk memproduksi 400 ribu kubik kayu lapis, diperlukan bahan baku sekitar 800 ribu kubik. Artinya, ada kelebihan pasokan sekitar 200 ribu kubik per tahun. Sementara, rata-rata setiap moulding dan sawmill di Kaltim maksimal hanya memproduksi 6.000 kubik per tahun. Jika dikalikan dengan 28 perusahaan baru yang muncul, produksninya hanya sekitar 168 ribu kubik per tahun.

Gempa Hari Ini - Deli Serdang Diguncang Gempa 3.1 Magnitudo Jumat Dinihari

Sementara, satu IPK kebun, kata Azharin, memiliki luas lebih dari 50 ribu hektare. Dengan asumsi per hektare menghasilkan 5 kubik kayu.

"Katakanlah satu konsesi itu 50 hekktare. Dari 50 hektare itu, yang ada kayunya 5.000 hektare saja. Tiap hektarenya ada 5 kubik kayu. Kalikan 10 konsesi, artinya 50 ribu hektare kali 5 kubik kayu, maka produksinya sudah 2,5 juta kubik kayu," ujar Azharin.

Sementara, Ketua Apkindo Kaltim Taufan Tirkaamiana menuturkan, IPK tak dapat dibatasi lantaran bukan industri kehutanan. IPK, menurutnya hanyalah dampak dari pembukaan lahan. "Sulit IPK dibatasi, karena memang tidak ada aturannya," katanya. (*)

Penulis: Rafan Dwinanto
Editor: Sumarsono
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved