Opini

Mengurai Benang Kusut Hoax

Berita bohong ini seolah diproduksi setiap detik juga, dan disebarkan secara masif ke berbagai media sosial (medsos)

Mengurai Benang Kusut Hoax
HO
DR. Pitoyo. MKom, Praktisi Media dan Pemerhati Komunikasi Antaramanusia 

Hoax beredar menurut Shcram, karena masyarakat pasif, dalam arti tidak mencari informasi rujukan dan mudah sekali percaya. Namun era masyarakat pasif terhadap informasi yang tersaji itu tdak berlangsung lama.

Pada tahun 1970an, Schram menyatak secara resmi bahwa teorinya tidak berlaku lagi. Scrham menganggap bahwa masyarakat ternyata tidak pasif dan tidak homogen alias heterogen dalam menerima informasi.

Ketidakpasifan massa terdapa informasi yang menerpa iniseiring dengan perkembangan media dalam memberi pencerahan pada masyarakat guna memilah informasi yang bohong yang layak dipercaya.

Namun, sungguh aneh di era digital abad 21 ini. Penyebaran berita hoax yang terjadi pada tahun 1950an, seolah terulag kembali. Massa demikian mudah percaya pada informasi yang disebar oleh oknum melalui media sosial.

Fenomena ini bukan hanya di negeri kita saja, namun juga meneyrang ke seantero dunia. Setidaknya ada dua hal yang menyebabkan penyebaran hoax menjadi viral, pertama, faktor pendidikan yang rendah dan kedua, rendahnya konsumsi media massa.

Serahkan Laporan Keuangan ke BPK, Gubernur Kaltim Ajak Pemda Lebih Maksimal Koordinasi

Mutasi Pejabat, Ini 3 Wajah Baru Pejabat Utama Polda Kaltim

Di sisi lain, aktor penyebar hoax, bukan hanya membuat isi berita palsu untuk penyesatan, namun juga memahami gerak algoritma di media sosial sehingga dengan mudah membuat viral.

Langkah untuk mengehentikan penyebaran hoax, tentu dengan terus menerus melakukan literasi media sosial, dengan memberi pemahaman bahwa informasi yang diterima perlu diteliti kebenarannya dengan merujuk pada media main stream.

Kedua, tidak menyebarkan berita yang diyakini tidak jelas sumber dan kebenaran fakta yang dimuatnya. ketiga perlu adaya penegakkan hukum terhadap pelaku peneybar hoax agar masyarakat terlindungi dari serangan masif berita bohong yang menyesatkan.

Patroli media sosial menjadi salah satu langkah untuk menghindari penyebaran hoax. Jumlah akun portla berita 43.000 bukan jumlaha sedikit, membutuhkan personel yang luar biasa banyak.

Karena itu, tidak cukup hanya menyerahkan pengawasan penyebaran hoax ini menjadi domian kepolisian, pemerintah daerah perlu juga membentuk tim khusus untuk mendeteksi berita hoax bekerja sama dengan komunitas masyarakat yang peduli literasi media sosial.

Semakin banyaknya rambur-ambu tentang hoax tentu akan mempersempit ruang gerak para pembuat hoax. (*)

*) Penulis: Praktisi Media dan Pemerhati Komunikasi Antaramanusia

Editor: Sumarsono
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved