Berita Eksklusif

Praktik Politik Uang Jelang Pemilu masih Terjadi, Pengamat Unmul Sebut Tradisi Politik Pragmatis

PENGAMAT hukum dan politik dari Unmul Herdiansyah Hamzah tak sependapat dengan jargon "Ambil Uangnya dan Jangan Pilih Orangnya".

Praktik Politik Uang Jelang Pemilu masih Terjadi, Pengamat Unmul Sebut Tradisi Politik Pragmatis
TRIBUNKALTIM.CO/BUDHI HARTONO
Herdiansyah Hamzah alias Castro 

TRIBUNKALTIM.CO - PENGAMAT hukum dan politik dari Universitas Mulawarman, Herdiansyah Hamzah tak sependapat dengan jargon yang selama ini berkembang di masyarakat yang sering menyebut "Ambil Uangnya dan Jangan Pilih Orangnya".

Menurut Dosen Hukum Tata Negara Fakultas Hukum ini, mengiyakan pemikiran seperti itu, sama saja melegalkan politik uang.

"Bagaimana mungkin moralitas publik dibuat kontradiktif seperti itu, satu sisi menolak politik uang, tapi sisi lain menganjurkan ambil uangnya," kata Herdiasnyah yang kerap disapa Castro ini, Rabu (3/4).

KALTARA TERPOPULER - Pengembangan dan Penataan Tanjung Selor, Ibukota Kaltara Perlu Disayembarakan

Praktik Politik Uang Jelang Pemilu di Kaltim, Modusnya mulai Bayar DP hingga Model MLM

Yusril Sebut Habib Rizieq Si Raja Bohong, Beber Percakapannya Lewat WA Soal Prabowo

Castro menilai, ada banyak faktor penting yang mendorong peserta menggunakan politik uang. Di antaranya, tradisi politik kita yang memang serba pragmatis.

Tidak teruji berpolitik, tidak teruji keberpihakannya, tidak mengakar di basis pemilih, semua serba instan.

Stiker tolak politik uang
Stiker tolak politik uang (HO/ Bawaslu Kaltim)

Ia juga mengamati, ada faktor penting yang mendorong peserta menjadi konsisten tak bisa diukur, dan, pada akhirnya figur politik itu tak dikenal alias tidak populer di basis pemilih.

"Atas dasar itulah, banyak yang menggunakan politik uang sebagai jalan pintas untuk meraih simpati massa," kata pria yang sedang melanjutkan studi S3-nya di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta ini.

Di sisi lain, Castro menilai, kultur politik lama ala orde baru masih melekat di masyarakat. Kultur itu mewujud dalam budaya diam dan `nrimo' yang berdampak kepada lambatnya kesadaran politik massa tumbuh.

Hal ini, memicu mayoritas basis massa pemilih mengambang (floating mass) yang cendrung tak punya pilihan ideologis yang rasional.

Ratna Sarumpaet Keluhkan Ruang Tahanan tak Layak, Begini Kata Kabid Humas Polda Metro Jaya

Mantan PM Malaysia Didakwa Beli Barang Mewah di Hawaii Dengan Kartu Kredit Rp 1,8 Miliar

"Belum lagi parpol yang gagal membangun kesadaran politik rakyat. Walhasil, massa mengambang ini mudah dipengaruhi dengan politik uang," katanya.

Halaman
12
Penulis: Nalendro Priambodo
Editor: Sumarsono
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved