Pemilu 2019

Soal Hoax Penghitungan Suara di Luar Negeri, KPU akan Lapor ke Cybercrime Mabes Polri

Komisioner Komisi Pemilihan Umum atau KPU ungkap melaporkan hoax penghitungan suara pemilu 2019 di media sosial. KPU lapor ke Cybercrime Mabes Polri.

TRIBUN KALTIM/MUHAMMAD ARFAN
ILUSTRASI - Suasana simulasi pemungutan suara di TPS yang digelar KPU Kalimantan Utara di Gedung Wanita Tanjung Selor, Kabupaten Bulungan, Kamis (4/4/2019). 

TRIBUNKALTIM.CO, JAKARTA - Komisioner Komisi Pemilihan Umum atau KPU, Viryan Aziz mengatakan, pihaknya bakal melaporkan hoax atau berita bohong terkait penghitungan suara pemilu 2019 di sejumlah negara yang tersebar lewat broadcast, pada beberapa waktu lalu.

Hal itu ia sampaikan, saat menghadiri diskusi di hotel kawasan Gelora, Jakarta, pada Jumat (12/4/2019).

Ia mengatakan, KPU bakal melaporkannya kepada Cybercrime Mabes Polri pada hari ini.

"Insya Allah hari ini kami akan laporkan kembali ke Cybercrime Mabes Polri. Sederhana saja, hasil pemilu itu baru diketahui setiap surat suara di TPS LN atau di luar negeri itu pada tanggal 17 april," ujar dia.

Viryan menegaskan, sesuai aturan pemungutan suara pemilu 2019 di luar negeri dilakukan pada 8 sampai 14 April, dan semua perhitungan suara dilakukan pada 17 April 2019, baik di dalam maupun di luar negeri.

ILUSTRASI FOTO LOGO KPU - Berikut pengumuman 10 besar calon anggota KPU Balikpapan, Kabupaten Paser, PPU, Kubar dan Mahulu.
ILUSTRASI FOTO LOGO KPU - Komisioner Komisi Pemilihan Umum atau KPU menyatakan akan melaporkan hoax penghitungan suara pemilu 2019 di luar negeri. KPU akan lapor ke Cybercrime Mabes Polri.

"KPU mengambil kebijakan melakukan early voting, pemungutan suara awal di luar negeri tanggal 8 hingga 14 April. Namun penghitungan suaranya baru tanggal 17 april, sehingga bisa dipastikan itu hoax pemilu," ungkap dia.

"Disebutkan di negara-negara tertentu perolehan suaranya sekian persen, sekian persen, itu sepenuhnya tak benar. Insya allah hari ini akan kami laporkan ke cyber crime mabes polri," lanjut Viryan.

Diketahui terdapat perbedaan metode dan waktu pencoblosan di dalam dan di luar negeri.

Di luar negeri ada 3 metode pencoblosan yaitu Pos, Kotak Suara Keliling (KSK) dan TPS.

Untuk metode KSK dilakukan mulai tanggal 8-14 April.

ILUSTRASI - Suasana lingkungan TPS saat simulasi pemungutan suara oleh KPU Kalimantan Utara di Gedung Wanita Bulungan, Kamis (4/4/2019) lalu.
ILUSTRASI - Suasana lingkungan TPS saat simulasi pemungutan suara oleh KPU Kalimantan Utara di Gedung Wanita Bulungan, Kamis (4/4/2019) lalu. (Tribunkaltim.co/ M.Arfan)

Untuk TPS, Peraturan membolehkan PPLN memilih antara tanggal 8 hingga 14 April sesuai dengan kondisi setempat, perbedaan metode dan waktu pencoblosan di dalam dan di luar negeri.

Sebagian PPLN di Timur Tengah misalnya menyelenggarakan tanggal 12 April karena hari liburnya adalah Jumat. PPLN Sanaa bahkan menyelenggarakan pencoblosan (TPS) di Hadramaut, Yaman, pada 8 April. Eropa, Amerika dan Asia pada umumnya mengambil tanggal 13 April, Sabtu.

Soal surat suara tercoblos di Malaysia Bukan Hoaks, Bagaimana Kelanjutan Kasusnya?

Sehari sebelumnya, publik dikejutkan oleh video yang diduga surat suara tercoblos untuk Pemilu 2019 di Selangor, Malaysia.

Video itu tersebar melalui WhatsApp dan media sosial. Ada sekitar tiga video yang beredar.

Seluruh video menggambarkan situasi penemuan kantong yang berisi surat suara oleh sejumlah warga di Bandar Baru Bangi, Taman Universiti Bangi, Selangor, Malaysia.

Disebutkan pula, surat suara itu tercoblos untuk pasangan capres-cawapres nomor urut 01 dan caleg Partai Nasdem.

Dibenarkan oleh Bawaslu Temuan ini dibenarkan oleh anggota Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu), Fritz Edward Siregar.

Menurut Fritz, surat suara yang tercoblos ini kali pertama ditemukan oleh pengawas pemilu di Kuala Lumpur.

"Benar (ada surat suara yang tercoblos). Panwaslu Luar Negeri Kuala Lumpur sebagai penemu," kata Fritz saat dikonfirmasi, Kamis (11/4/2019).

Pernyataan itu dipertegas oleh anggota Bawaslu, Rahmat Bagja.

Ia memastikan, video surat suara tercoblos di Selangor, Malaysia, bukan berita bohong.

"Dari perbincangan yang ada ini bukan hoaks," kata Bagja.

Bawaslu juga belum dapat menyampaikan apakah surat suara yang dicoblos hanya surat suara calon anggota DPR atau ada yang lainnya.

Bawaslu Sebut Ada Hal Janggal

Rahmat Bagja menyebut, ada sejumlah hal yang janggal terkait pelaksanaan pemungutan suara Pemilu 2019 di Malaysia.

Sejumlah hal janggal itu misalnya saat pelaksanaan pemungutan suara menggunakan metode kotak suara keliling (KSK), Panitia Pemilihan Luar Negeri (PPLN) menolak untuk didampingi Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) Luar Negeri.

"Kami sudah meminta KPU kepada PPLN agar pengawas TPS diikutkan dalam (pemungutan suara metode) KSK, tapi mereka menolak. Itu kan sudah ada tanda-tandanya," kata Bagja saat dihubungi, Kamis (11/4/2019).

Seharusnya untuk Pemilu via Pos Sebuah video yang beredar di Facebook menunjukkan adanya satu ruangan berisi kantong-kantong plastik terisi penuh surat suara yang sudah tercoblos.

 Nama Indonesia Tercoreng, Penggerebekan Surat Suara Tercoblos di Malaysia Jadi Pemberitaan Dunia

 Nasdem Ungkap Sejumlah Keganjilan Surat Suara Dicoblos di Malaysia, Ini Faktanya

 Surat Suara Tercoblos, BPN Prabowo Minta Presiden Copot Dubes Malaysia Rusdi Kirana

 Inilah Sosok Davin Kirana, Caleg Nasdem yang Namanya Sudah Tercoblos di Surat Suara Malaysia

Sebuah video yang beredar di Facebook menunjukkan adanya satu ruangan berisi kantong-kantong plastik terisi penuh surat suara yang sudah tercoblos. Video ini menyebutkan bahwa surat suara itu ditemukan di sebuah gedung di Malaysia dan surat suara itu sudah dicoblos lebih dulu.
Sebuah video yang beredar di Facebook menunjukkan adanya satu ruangan berisi kantong-kantong plastik terisi penuh surat suara yang sudah tercoblos. Video ini menyebutkan bahwa surat suara itu ditemukan di sebuah gedung di Malaysia dan surat suara itu sudah dicoblos lebih dulu. (Facebook)

"Kami bilang ini sudah ada tanda-tanda mereka mau aneh-aneh," katanya.

Selain itu, Bagja menyebut, ada seorang Wakil Duta Besar Indonesia untuk Malaysia yang saat ini menjabat sebagai anggota PPLN.

Padahal, anak dari Duta Besar Indonesia untuk Malaysia saat ini sedang ikut mencalonkan diri sebagai anggota DPR Dapil DKI Jakarta 2 yang meliputi wilayah luar negeri.

Kondisi tersebut, kata Bagja, berpotensi menimbulkan konflik kepentingan.

"Kami sudah mengirimkan surat kepada KPU untuk mengganti yang bersangkutan agar tidak terjadi konflik kepentingan karena Pak Duta Besar punya anak yang sedang running (nyaleg)," ujar Bagja.

Menanggapi hal ini, KPU mengaku tak pernah mendapat rekomendasi dari Bawaslu soal penggantian petugas PPLN yang juga Wakil Duta Besar Indonesia untuk Malaysia itu.

Pernyataan ini menegasikan keterangan Rahmat Bagja yang mengatakan telah merekomendasikan KPU untuk mengganti anggota PPLN yang bersangkutan.

"Disampaikan ke mana ya rekomendasinya? Ke mana? Kok saya belum tahu," kata komisioner KPU, Hasyim Asy'ari, di kantor KPU, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (11/4/2019).

Hasyim mengatakan, petugas PPLN terdiri dari beberapa elemen, seperti pegawai Kedutaan Besar, mahasiswa, hingga warga.

"PNS itu kan boleh jadi PPLN. PNS itu kan asumsinya netral. Saya PNS, saya anggota KPU. Bu Ratna Dewi (anggota Bawaslu) PNS jadi (anggota) Bawaslu," ujar Hasyim.

Minta KPU Hentikan Pemungutan Suara di Malaysia Atas kejadian tersebut, Fritz Edward meminta KPU menghentikan sementara pemungutan suara Pemilu 2019 di Malaysia.

"Kami akan meminta KPU menghentikan pemungutan suara di seluruh Malaysia sementara, sampai semua jelas. Ada kegiatan yang terstruktur, sistematis, masif (TSM)," kata Fritz.

Menurut dia, kejadian ini menunjukkan bahwa PPLN tidak melaksanakan tugas dengan benar.

Selain meminta KPU untuk mengevaluasi kinerja PPLN, Bawaslu juga telah membuat surat rekomendasi kerja PPLN yang meragukan.

Sementara itu, hingga Kamis (11/4/2019) pihak KPU belum menerima surat dari Bawaslu soal permintaan penghentian sementara pemungutan suara Pemilu 2019 di Malaysia.

Tumpukan yang disebut berisi surat suara Pemilu 2019 tercoblos di Malaysia.

Oleh karena itu, KPU belum akan mengambil langkah hingga Bawaslu bersurat secara resmi.

"Kami belum bisa merespons pernyataan Bawaslu karena sampai dengan saat ini, sampai dengan sore ini, KPU belum mendapatkan surat secara resmi dari Bawaslu," kata komisioner KPU, Wahyu Setiawan, saat dikonfirmasi, Kamis (11/4/2019).

Wahyu mengatakan, prinsipnya KPU ingin mendapatkan informasi lebih dahulu.

KPU akan melakukan klarifikasi sehingga mendapat informasi yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.

"Jadi sebelum mendapatkan informasi data yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan, tentu kami belum bisa mengambil langkah berikutnya," ujar Wahyu.

Surat Suara untuk Metode Pos Anggota Bawaslu, Mochammad Afifuddin, menyebut, surat suara pemilu yang tercoblos di Malaysia seharusnya digunakan untuk pemungutan suara dengan metode pos.

Namun, diduga surat itu tak sampai ke alamat pemilih dan sudah tercoblos.

Hal ini sudah dipastikan oleh panwaslu di Kuala Lumpur.

"Kami juga memastikan berulang kali kepada jajaran kami. Pertama, 'memang itu (surat suara tercoblos yang ditemukan) orientasi untuk pos?' Dijawab jajaran kami, memang ini surat suara untuk pos," kata Afif di kantor Bawaslu, Jakarta Pusat, Kamis (11/4/2019).

Afif mempertanyakan, bagaimana bisa surat suara yang semestinya disimpan di KBRI itu keluar dari tempat seharusnya dan tidak sampai ke alamat pemilih.

Ia juga mempertanyakan lokasi penyimpanan surat suara yang terekam dalam video.

Mengecek ke Malaysia KPU bersama Bawaslu bertolak ke Malaysia menindaklanjuti kabar surat suara pemilu yang tercoblos.

Hasyim dan Ilham Saputra serta anggota Bawaslu, Ratna Dewi Pettalolo, bertolak ke Malaysia, Kamis (11/4/2019) malam.

KPU akan memastikan, apakah surat suara yang tercoblos itu merupakan surat suara asli yang dikeluarkan oleh KPU atau bukan.

Komisioner KPU, Ilham Saputra, mengatakan, pihaknya punya cara khusus untuk mengecek keaslian surat suara pemilu.

"Adalah ada caranya (memastikan keaslian surat suara) makanya KPU ke sana (Malaysia)," kata Ilham di kantor KPU, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (11/4/2019).

"Ada kode khusus yang saya enggak bisa disebutkan di sini, yang hanya diketahui oleh beberapa orang di KPU," katanya.

KPU juga mempertanyakan pengamanan surat suara yang diduga akan digunakan untuk metode pemungutan suara pos itu.

Menurut Hasyim, ada prosedur operasi standar (SOP) yang seharusnya dijalankan oleh petugas PPLN.

Namun, dari video yang beredar, terlihat ada hal yang ganjil terkait penyimpanan surat suara.

"Bagi kami itu jadi pertanyaan, ini kok (surat suara) di dalam karung? Apa istilahnya, kantong ya, kantong," kata Hasyim di kantor Bawaslu, Jakarta Pusat, Selasa (11/4/2019).

"Kok orang begitu mudah masuk ke situ, buka-buka kantong? Kemudian buka barang-barang cetakan itu? Ini gimana ceritanya bisa begini," katanya.

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul KPU Akan Laporan Hoax Penghitungan Suara di Luar Negeri ke Cybercrime Mabes Polri, http://www.tribunnews.com/pilpres-2019/2019/04/12/kpu-akan-laporan-hoax-penghitungan-suara-di-luar-negeri-ke-cybercrime-mabes-polri.
Penulis: Rina Ayu Panca Rini
Editor: Malvyandie Haryadi

Artikel lainnya: 

Soal Pemilihan dan Penghitungan Suara Pemilu 2019 di Luar Negeri, Ini Penjelasan KPU

Sidang Perdana Kasus Hoaks Surat Suara 7 Kontainer Tercoblos Digelar di Balikpapan

KPU dan Bawaslu Terbangkan Tim Telusuri Kasus Surat Suara Tercoblos di Malaysia

Terbukti Berbuat Asusila, Komisioner KPU Ini Dipecat, Kepolisian Belum Terima Laporan Korban

CEK FAKTA - Soal Temuan Surat Suara Dicoblos di Malaysia, Ini Kata KPU, Bawaslu, dan Polisi

Ikuti Juga perkembangan info lainnya di Twitter Tribunkaltim.co:

Ikuti info lainnya dengan Follow Instragram Tribunkaltim.co:

Saksikan juga Newsvideo Tribunkaltim.co berikut ini: 

Editor: Budi Susilo
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved