Opini

Menikmati Keheningan dari Hoax

SEMAKIN mendekati hari pelaksanaan Pemilu pada 17 April 2019, semakin banyak informasi dan berita bertebaran di media sosial.

Menikmati Keheningan dari Hoax
HO
DR. Pitoyo. MKom, Praktisi Media dan Pemerhati Komunikasi Antaramanusia 

Informasi yang disajikan pun beragam dari sekedar just say hello, sampai informasi yang melewati batas disiplin ilmu penerima pesan. Bahkan tidak jarang penerima pesan seperti tidak berdaya dihujani informasi yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan.

Menjadi lebih runyam lagi ketika negeri ini, memasuki era kampanye Pemilihan Umum (Pemilu). Berbagai informasi tersebar setiap detik, tanpa henti.

Informasi yang disebar pun sering kali bukan buah pikiran teman yang menjadi pasangan komunikasi, namun hasil tulisan orang yang tidak jelas asal usulnya pun disajikan kepada teman atau penerima pesan yang sebenarnya pasif.

Nah, disinilah penyebarkan hoax atau berita palsu menemukan peluangnya. Kesenjangan pengetahuan akan informasi antara pengirim pesan dan penerima pesan menjadikan pesan yang masuk dan terup date secara aktual, dianggap sebagai infomasi yang benar.

Kapolresta Samarinda, Kombespol Vendra Riviyanto, bersama anggotanya dan personel Kodim 0901 Samarinda melakukan deklarasi anti Hoax jurnalis kaltim, TNI dan Polri di Taman Samarendah jalan Bhayangkara Kota Samarinda, Sabtu(17/3/2018). Jurnalis bersama aparat TNI Polri kompak menyerukan anti berita Hoax demi keamanan dan ketertiban.
Kapolresta Samarinda, Kombespol Vendra Riviyanto, bersama anggotanya dan personel Kodim 0901 Samarinda melakukan deklarasi anti Hoax jurnalis kaltim, TNI dan Polri di Taman Samarendah jalan Bhayangkara Kota Samarinda, Sabtu(17/3/2018). Jurnalis bersama aparat TNI Polri kompak menyerukan anti berita Hoax demi keamanan dan ketertiban. (TRIBUN KALTIM / NEVRIANTO HARDI PRASETYO)

Hoax atau berita bohong memang sulit untuk diabaikan karena tekanan waktu penerima pesan sehingga tidak memiliki waktu lagi untuk melakukan verifikasi data, dan akhirnya mempercayai, bahkan ikut menyebarkannya.

Penyebaran berita palsu (fake news) di media sosial, dapat diibaratkan seperti segitiga api. Segitiga api mewakili tiga elemen yang dibutuhkan api untuk membakar: oksigen, panas, dan bahan bakar.

Demikian pula, berita palsu membutuhkan tiga hal berbeda untuk berhasil. Ini secara kolektif mewakili Segitiga Berita Palsu: tanpa salah satu dari faktorfaktor ini, ia tidak dapat menyebar dan menjangkau audiens targetnya.

Persyaratan pertama: alat dan layanan untuk memanipulasi dan menyebarkan pesan di jaringan media sosial yang relevan, banyak di antaranya dijual di berbagai komunitas online dari seluruh dunia.

Kedua, tentu saja, agar alat ini bermanfaat, jejaring sosial harus ada sebagai platform untuk menyebarkan propaganda.

Ketiga, di media sosial ini banyak orang menghabiskan lebih banyak waktu di situssitus ini sebagai cara untuk mendapatkan berita dan informasi terbaru, pentingnya mereka dalam menyebarkan berita palsu tidak dapat diremehkan.

Halaman
1234
Editor: Sumarsono
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved