Hari Kartini

Meriahkan Hari Kartini, Platinum Hotel Balikpapan and Convention Hall Bagi 100 Mantau di Lokasi Ini

Salah satu bentuk perayaan hari Kartini bermacam-macam. Pas hari ini 21 April hari Kartini. Platinum Hotel Balikpapan and Convention Hall rayakan.

Meriahkan Hari Kartini, Platinum Hotel Balikpapan and Convention Hall Bagi 100 Mantau di Lokasi Ini
Dok Tribunkaltim.co/ist
Merayakan hari Kartini, Minggu (21/4/2019), Platinum Hotel Balikpapan and Convention Hall memberikan 100 buah mantau gratis di area kawasan Lapangan Merdeka, Kota Balikpapan, Provinsi Kalimantan Timur. Mantau yang diberikan memiliki bentuk seperti bunga berwarna merah dan putih. 

TRIBUNKALTIM.CO, BALIKPAPAN - Hari Kartini yang jatuh di tanggal 21 April hari ini dirayakan oleh semua masyarakat Indonesia.

Salah satu bentuk perayaannya bermacam-macam dengan berbagai pola dan ciri khas masing-masing.

Nah, kenapa muncul hari Kartini di Indonesia ? Yang muncul setiap tanggal 21 April diperingati sebagai Hari Kartini.

Sejarahnya bermula, Presiden Soekarno mengeluarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No.108 Tahun 1964, tanggal 2 Mei 1964.

Kebijakan ini menetapkan Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional sekaligus menetapkan hari lahir RA Kartini, tanggal 21 April, untuk diperingati setiap tahun sebagai hari besar yang kemudian dikenal sebagai Hari Kartini.

pojoksatu.id
RA Kartini
pojoksatu.id RA Kartini ()

Raden Adjeng Kartini atau RA Kartini, adalah seorang Pahlawan Nasional yang lahir lahir di Jepara, Hindia Belanda, 21 April 1879 – meninggal di Rembang, Hindia Belanda, 17 September 1904 pada umur 25 tahun.

Raden Adjeng Kartini atau RA Kartini adalah seorang tokoh Jawa dan Pahlawan Nasional Indonesia. Raden Adjeng Kartini atau RA Kartini dikenal sebagai pelopor kebangkitan perempuan pribumi.

Soal pemikiran RA Kartini, berpikir maju, mampu melihat jangka panjang. Hal ini terlihat dari surat-surat Kartini, tertulis pemikiran-pemikirannya tentang kondisi sosial yang ada di sekitarnya, terutama tentang kondisi perempuan pribumi.

Sebagian besar surat-suratnya berisi keluhan dan gugatan khususnya menyangkut budaya di Jawa yang dipandang sebagai penghambat kemajuan perempuan.

Dia ingin wanita memiliki kebebasan menuntut ilmu dan belajar.

Halaman
1234
Penulis: Jino Prayudi Kartono
Editor: Budi Susilo
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved