Opini

Patroli CyberCrime Pasca Pemilu

PEMILIHAN Umum (Pemilu) serentak pada 17 April 2019 menjadi tonggak sejarah pemilihan umum serentak pertama sejak negeri ini merdeka.

Patroli CyberCrime Pasca Pemilu
net
Ilustrasi 

Rata-rata penghitungan suara untuk calon presiden sekitar 11,5 jam. Setelah itu, masyarakat pun bubar, namun saksi dari partai dan pengawas pemilu serta petugas KPPS tetap melajutkan penghitungan suara untuk calon legislatif tingkat kabutan/kota, provinsi dan pusat serta DPD.

Penghitungan suara para wakil rakyat ini ternyata menjadi pengalaman baru bagi KPU selaku penyelenggara pemilu juga pemerintah.

Penghitungan suara ternyata membutuhkan waktu lebih dari 12 jam, bahkan ada yang sampai 24 jam nonstop.

Bahkan, baru pertama dalam sejarah republik, sedikitnya 119 jiwa anggota KPPS yang meninggal karena kelelahan. (tribunnews.com, 23/4/2019).

Ilustrasi hoax
Ilustrasi hoax (Freepik)

Perang Hoaks
Babak baru di luar arena lokasi pencoblosan muncul perang hoaks di media sosial. Ini babak baru penyebaran hoaks tentang hasil hitungan suara pemilu.

Aparat keamanan polisi pun nampaknya juga selalu mewaspadai penyebaran informasi atau suara hoaks di media sosial yang kian banyak setelah pencoblosan.

Munculnya sebaran berita bohong itu saat pemerintah mengizinkan lembaga survei menanyakan hasil kinerja survei hitung cepat (quick count) di KPPS secara random sampling.

Hasilnya pun hampir sama, semua lembaga survei yang ditayangkan di televisi menyebutkan angka kemenangan bagi pasangan nomor urut 01. Hal ini menimbulkan reaksi keras dari pasangan Nomor 02.

Perang argumentasi dan video serta foto yang belum terverifikasi kebenarannya saling berhamburan di media sosial.

Masing-masing pendukung saling beradu argumen untuk mengomentari setiap tayangan yang disebar di media sosial.

Halaman
1234
Editor: Sumarsono
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved