Opini

Patroli CyberCrime Pasca Pemilu

PEMILIHAN Umum (Pemilu) serentak pada 17 April 2019 menjadi tonggak sejarah pemilihan umum serentak pertama sejak negeri ini merdeka.

Patroli CyberCrime Pasca Pemilu
net
Ilustrasi 

Kedua, Periksa situs web penerbit dengan cermat. Beberapa situs biasanya secara terbuka mengakui cerita mereka adalah fiksi atau sindiran, dapat dilihat di bagian "Tentang Kami" di situs web (jika ada).

Ketiga, Periksa kualitas. Banyak situs web berita palsu bahkan berita bohong, menghindari tradisi seperti tanda baca, ejaan, dan tata bahasa yang tepat. Hantaman berita utama dengan katakata dalam huruf kapital adalah taktik favorit penulis berita palsu lainnya.

Juga waspada untuk tanda seru dan tajuk berita yang mendesak Anda "HARUS BACA". Keempat, perhatikan sumber yang dikutip, apakah sumbernya adalah tokoh atau pakar yang kredibel atau abal-abal.

Pembaca yang hatihati mencermati informasi bohong yang senagaj disebar, dan tidak ikutan menyebarkan informasi tersebut baik di media sosial atau aplikasi berupa grup whatsapp, tentu sudah membantu pemerintah dalam melawan hoaks.

Hal ini tentu saja membantu aparat kepolisian khususnya Tim CyberCrime dalam memerangi hoaks.

Kesadaran masyarakat dalam mendeteksi dini informasi hoaks akan menjadi penghambat laju pembuat berita palsu beraksi untuk menggandakan pendapatannya, juga mengurangi gaduh tentang surat suara pada pemilu di negeri ini. (*)

Surat Suara Tercoblos di Malaysia Bukan Hoaks, Bagaimana Kelanjutan Kasusnya?

Jawab Sandiaga, Maruf Amin Akan Revitalisasi SMK dan Dorong Pembentukan Cyber University

Fadli Zon Bantah Terjadi Pertengkaran Hebat di Kubu 02, Rahayu Saraswati: Hoax Sandi Dikick Out PS

Likes Fanpage Facebook

Follow Twitter

Follow Instagram

Subscribe Channel YouTube

Editor: Sumarsono
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved