Ini Analisis Rhenald Kasali soal Sorotan Tajam pada Kondisi Keuangan dan Kinerja Garuda Indonesia

Guru besar UI ini membandingkan keberatan yang diajukan 2 orang komisaris Garuda (2019) dengan yang diajukan segelintir orang pada tahun 1999

Ini Analisis Rhenald Kasali soal Sorotan Tajam pada Kondisi Keuangan dan Kinerja Garuda Indonesia
HO - Garuda Indonesia Airlines
Garuda Indonesia - Bombardier CRJ1000 NextGen SkyTeam 

TRIBUNKALTIM.CO - Bukan baru kali ini Garuda heboh. Ia memperhatikan, setiap kali kondisi keuangan dan kinerjanya membaik hampir dapat dipastikan selalu ada yang mempertanyakan.

Setelah menderita rugi sebesar Rp 3T (2017), pada tahun 2018 Garuda dinyatakan untung hampir 100 Miliar Rupiah.

Lalu pada kwartal pertama 2018 laba bersihnya USD 19,7 juta.

Sebelumnya, antara tahun 1995-1998 Garuda rugi sekitar Rp 5T. Tetapi tahun 1999 sudah bisa untung sekitar Rp 0,4T.

“Saat itu Garuda kurs rupiah anjlok lebih parah dari keadaan tahun 2015-2018 dan menjadi sapi perah dari oknum pejabat yang lalu diikuti oknum-oknum orang dalam. Akibatnya, cash flow Garuda negatif. Servisnya memburuk. Hutangnya membesar. Ketepatan waktunya rendah sekali. Satu-satunya yang tersisa tinggal keandalan keamanan (safety). Meski begitu karyawan percaya Garuda mustahil dipailitkan karena ia milik negara.”

“Kerugian yang diderita Garuda beberapa tahun belakangan ini ada kemiripannya, tetapi konteksnya sudah berbeda,” ujarnya.

Ia melanjutkan, “Saat perusahaan diperbaiki di tahun 1999, para pegawai di dalam pun sulit mempercayai akan adanya keajaiban. Apalagi mereka semua dituntut berkorban. Korupsi dibabat, governance diperbaiki. Oknum-oknum yang memainkan penjualan tiket ditertibkan. Demikian pula yang merongrong bisnis kargo dan catering. Semua ditertibkan. Termasuk jatah tiket gratis untuk pegawai yang biasa dinikmati keluarga di masa liburan, terpaksa saat itu dipindahkan.”

“Tahun ini, saya melihat direksi Garuda juga melakukan penertiban serupa. Jadi pasti ada yang bisnisnya terganggu. Bedanya keadaan internal kini lebih solid sehingga mereka lebih mendukung. Lagi pula kini salah satu rekan bisnisnya menjadi pemegang saham."

"Kedudukan direksi mudah digoyang karena Garuda Indonesia adalah gunung emas yang banyak bisnisnya. Ibarat sapi perah, susunya diperas sampai kering dan kalau gizinya tidak diberi. Sapinya bisa mati,” lanjutnya.

“Keadaan seperti itu selalu muncul kembali begitu direksi lengah dan menjadi rugi. KPK saja pernah tunjukkan titik-titik penyebab kerugiannya. Dan selalu heboh begitu direksi baru mengumandangkan transformasi, termasuk hari ini,” tambahnya.

Bahkan BPK pun turut memberi perintah atas temuan-temuannya untuk dibenahi direksi.

Halaman
1234
Editor: Kholish Chered
Sumber: TribunWow.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved