Pilpres 2019

Ketika Mahfud MD & Rizal Ramli Merasa Diadu Domba, 'Enggak Usah Diadu, Ini Teman Kita'

Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK), Mahfud MD, dan mantan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Rizal Ramli merasa diadu domba.

Ketika Mahfud MD & Rizal Ramli Merasa Diadu Domba, 'Enggak Usah Diadu, Ini Teman Kita'
TRIBUNNEWS/DANY PERMANA
Ekonom Rizal Ramli saat berkunjung ke redaksi Tribunnews.com di Palmerah, Jakarta Pusat, Rabu (6/2/2019). Rizal Ramli meyakini capres-cawapres nomor urut 01 Joko Widodo-Maruf Amin tidak akan menang dalam Pilpres 2019. 

TRIBUNKALTIM.CO - Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK), Mahfud MD, dan mantan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Rizal Ramli merasa diadu domba.

Hal tersebut terjadi saat pembawa acara program 'Catatan Demokrasi' tvOne mengajukan sebuah pertanyaan.

Kala itu Mahfud MD dan Rizal Ramli tengah membahas soal kecurangan pemilu 2019, seperti yang kerap mereka diskusikan di jagad media sosial Twitter.

Awalnya, Rizal Ramli membahas soal sistem IT KPU, di mana salah input data dalam situng pemilu kerap kali terjadi.

"Saya bukan ahli IT, tapi banyak bergaul sama staf saya ahli IT. IT itu kan ada 2. Bagian depan, bagian depan kalau kita salah entry, pasti otomatis ditolak," kata Rizal Ramli dikutip TribunJakarta.com, Rabu (1/5/2019).

"Misalnya kalau kita menulis nama kita salah dengan nomor ID kita, pasti ditolak. Atau maksimum 1 TPS 300 sekian, lebih dari segitu pasti ditolak. Atau jumlahnya, pasti ditolak. Atau kayak kita bayar credit card lah. Kalau kurang pasti ditolak."

Sementara yang kedua adalah bagian belakang.

Rizal Ramli menilai, permainan angka itu berada di bagian tersebut.

"Permainan itu ada di belakang. Di sinilah bisa diatur macam-macam. Saya melihat karena hari ini rakyat kita kan cerdas sekali. Mereka punya smartphone. Dia foto, dia lihat, ternyata beda," ungkap Rizal Ramli.

"Dan kesalahannya bukan sekali dua kali, karena kalau kesalahannya basic, dalam tabulasi misalnya, otomatis itu sistem nolak. Itu hanya bisa kalau dilakukan berbagai macam itu di belakang."

"Misal didahulukan dulu di Jawa Tengah sama Bali. Itu bisa diatur semua di back end. Oleh karena itu kami minta diauditlah yang bener supaya terbuka. Sementara sahabat saya Mas Mahfud baru berkunjung ke KPU sebentar saja, sudah bilang kesalahannya kecil," papar dia.

Halaman
1234
Editor: ade mayasanto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved