Penumpang PNS-BUMN, Garuda Bertahan Harga Tiket Tinggi, Menteri Pun Tak Berdaya Intervensi

Uang tiket para pejabat dan pegawai itu dibayar oleh negara dengan pola at cost. Tapi bagaimana dengan masyarakat kebanyakan?

Penumpang PNS-BUMN, Garuda Bertahan Harga Tiket Tinggi, Menteri Pun Tak Berdaya Intervensi
Istimewa
Ilustrasi Pesawat Lion Air 

Penumpang Umumnya PNS-BUMN, Garuda Bertahan Harga Tinggi Tiket Pesawat, Menteri Pun Tak Berdaya Intervensi

TRIBUNKALTIM.CO - Keluhan masyarakat mengenai mahalnya harga tiket pesawat tidak membuat maskapai terketuk untuk menurunkan harga.

Garuda Indonesia misalnya, tetap bertahan dengan harga tinggi hingga kini. Pasar mereka umumnya adalah para pejabat negara, pegawai negeri sipil (PNS) hingga karyawan Badan Usaha Milik Negara (BUMN). 

Uang tiket para pejabat dan pegawai itu dibayar oleh negara dengan pola at cost.  Tapi bagaimana dengan masyarakat kebanyakan?

Upaya pemerintah untuk mengintervensi harga tiket pesawat terkesan tidak membuahkan hasil. Harga tiket penerbangan tetap saja mahal, dan akhirnya berdampak ekonomi kepada semua hal.

Diketahui, gonjang-ganjing harga tiket mahal sudah menyeruak sejak akhir tahun lalu dan berlanjut hingga kini. Kementerian Perhubungan sudah mengimbau semua maskapai menurunkan harga tiket.

Kemenhub sebatas mengimbau karena harga tiket dinilai sebagai ranah bisnis yang jadi hak pelaku usaha. Selain itu, harga tiket belum melewati batas atas ketetapan pemerintah.

Awalnya, Indonesia National Air Carriers Association (Inaca) mendeklarasikan akan menurunkan harga.

Memang ada yang turun, tetapi tak semua maskapai menurunkan harga tiketnya. Garuda Indonesia tetap menggunakan tarif Y atau tarif tertinggi.

Kalaupun turun, harga tiket tak sepenuhnya turun karena dikemas dengan pameran perjalanan daring dalam kurun waktu tertentu atau hanya di rute terbatas.

Halaman
1234
Editor: Achmad Bintoro
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved