Penumpang PNS-BUMN, Garuda Bertahan Harga Tiket Tinggi, Menteri Pun Tak Berdaya Intervensi

Uang tiket para pejabat dan pegawai itu dibayar oleh negara dengan pola at cost. Tapi bagaimana dengan masyarakat kebanyakan?

Penumpang PNS-BUMN, Garuda Bertahan Harga Tiket Tinggi, Menteri Pun Tak Berdaya Intervensi
Istimewa
Ilustrasi Pesawat Lion Air 

Garuda Price Setter

Suasana kabin pesawat jenis Boeing 737 MAX 8 baru milik maskapai Garuda Indonesia saat akan lepas landas dari Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, menuju Bandara Juanda, Sidoarjo, Jawa Timur, Minggu (7/1/2018). Pergantian jenis mesin dari pesawat pendahulunya yakni Boeing 737 Next Generation membuat suasan kabin lebih senyap dan konsumsi bahan bakar lebih efisien.
Suasana kabin pesawat jenis Boeing 737 MAX 8 baru milik maskapai Garuda Indonesia saat akan lepas landas dari Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, menuju Bandara Juanda, Sidoarjo, Jawa Timur, Minggu (7/1/2018). Pergantian jenis mesin dari pesawat pendahulunya yakni Boeing 737 Next Generation membuat suasan kabin lebih senyap dan konsumsi bahan bakar lebih efisien. (KOMPAS/DIMAS WARADITYA NUGRAHA)

Problemnya, Garuda Indonesia adalah price setter, patokan harga bagi maskapai lain. Jadi, semua maskapai juga mematok harga tinggi.

Apalagi, kita tak bisa menutup mata, kini tinggal ada dua grup maskapai penerbangan, yakni Garuda dan Lion. Jika Garuda mematok harga mahal, Lion tentu tak mau lagi menerapkan harga murah.

Apalagi, dengan menerapkan harga murah selama ini, maskapai berdarah-darah.

Akan tetapi, praktik harga tinggi kini menuai efek negatif. Penumpang mengundurkan diri dan mencari alternatif moda transportasi lain. Penurunan ini terutama di Pulau Jawa dan Sumatera.

Keberadaan jalan tol yang sudah banyak tersambung membuat penumpang beralih ke kendaraan pribadi, bus, atau kereta api.

Angkutan laut yang sebelumnya mengalami penyusutan jumlah penumpang kini bahkan menunjukkan peningkatan.

Kapal Pelni KM Bukit Raya saat sandar di Pelabuhan Tarempa Minggu (9/7/2017) pagi.
Kapal Pelni KM Bukit Raya saat sandar di Pelabuhan Tarempa Minggu (9/7/2017) pagi. (TRIBUN BATAM/SEPTYAN MULIA ROHMAN)

Sebaliknya, penumpang angkutan udara turun.

Menurut laporan Kepala Otoritas Bandara Wilayah VI Sumatera Agoes Soebagio, penurunan jumlah penumpang di wilayahnya mencapai 15-20 persen. Angka itu sama dengan angka nasional.

Halaman
1234
Editor: Achmad Bintoro
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved