Selain Tertua di Dunia, Ini Sederet Keunikan Lain Lukisan Dinding di Area Karst Sangkulirang Kutim

Lukisan dinding di area karst Sangkulirang-Mangkalihat berusia 40.000 tahun dan menjadi lukisan dinding gua tertua di dunia.

Selain Tertua di Dunia, Ini Sederet Keunikan Lain Lukisan Dinding di Area Karst Sangkulirang Kutim
infocitrabaru.blogspot.com dan humas Pemkab Kutim
Lukisan dinding dan Karst Mangkalihat di Sangkulirang, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur 

TRIBUNKALTIM.CO - Kawasan Karst Sangkulirang di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) belakangan ini menjadi sorotan karena berkaitan dengan rencana pembangunan pabrik semen di Kaltim.

Pendirian pabrik semen di Kaltim yang kabarnya akan berlokasi di Karst Sangkulirang ini sendiri masih terus menjadi perdebatan berbagai pihak.

Meski pemerintah, baik dari Provinsi Kaltim maupun Pemerintah Kabupaten Kutai Timur serta masyarakat setempat setuju soal rencana pembangunan pabrik semen di Kaltim yang berlokasi di Karst Sangkulirang tersebut, namun kalangan aktivis dan mahasiswa masih terus menggelorakan semangat penolakan.

Baru-baru ini, Wabup Kutim Kasmidi Bulang mengatakan bahwa area yang diusulkan menjadi kawasan pabrik semen di Kaltim dan ditambang, tidak masuk dalam area hasil delineasi Kawasan Cagar Budaya Karst Sangkulirang – Mangkalihat.

Kata Wabup Kasmidi, luasan cagar budaya hanya sekitar 14.000 hektar, terdiri dari 2.000 hektar merupakan zona inti dan 12.000 hektar sebagai zona penyangga.

Jumlah itu bagian dari total luasan Karts Sangkulirang –Mangkalihat yang mencapai 105.000 hektar.

“Usulan pabrik semen sudah keluar izinnya sejak 2003 lalu. Lokasinya, berada di luar cagar budaya tersebut. Karena di situ masih ada sekitar 1.071, 14 hektar dari 8.000 hektar luasan Kawasan Bentang Alam Karst (KBAK), yang merupakan kawasan Areal Penggunaan Lain (APL) yang bisa dimanfaatkan untuk usaha,” kata Kasmidi Bulang.

Meski belakangan, terbit Peraturan Gubernur Kaltim nomor 67 tahun 2012 yang menyatakan seluruh kawasan Sekerat, masuk dalam KBAK, seluas 8.000 hektar, bukan 7.000 hektar.

“Saat ini untuk Peraturan Gubernur Kaltim tersebut sedang kita tinjau kembali. Karena hal ini berbeda dengan RTRWK Kutai Timur,” ujarnya.

Pemkab Kutim, menurut Kasmidi, pada dasarnya mendorong investasi yang masuk. Tapi tetap memikirkan dampak lingkungan.

Halaman
1234
Penulis: Doan Ebenezer Pardede
Editor: Syaiful Syafar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved