Pemilu 2019

Tragedi Grace Natalie Partai Solidaritas Indonesia, Tragedi bagi Demokrasi?

PSI atau Partai Solidaritas Indonesia apakah dianggap tragedi bagi demokrasi? Inilah ulasan Litbang Kompas soal sepak terjang PSI dan partai lainnya.

Tragedi Grace Natalie Partai Solidaritas Indonesia, Tragedi bagi Demokrasi?
Antara Foto
Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Grace Natalie (kiri) bersama Calon Legislatif (Caleg) PSI yang juga Ketua DPP PSI Bidang Eksternal Tsamara Amany (kanan) menunjukkan formulir pendaftaran Tsamara Amany sebagai Caleg PSI di Kantor DPP PSI, Tanah Abang, Jakarta, Kamis (26/10/2018). Dalam kesempatan tersebut Tsamara Amany juga mendeklarasikan gerakan Solidaritas Kaum Muda Melawan Korupsi (SIKAP) yang merupakan sayap gerakan PSI untuk mengajak anak-anak muda berjuang memerangi korupsi. 

Akan tetapi, Grace menegaskan, politik PSI adalah politik nilai dan politik ideologis. Dengan itu, seolah ia ingin menggarisbawahi bahwa PSI tidak takut terhadap kecaman-kecaman apa pun atas misi yang diperjuangkannya.

KOMPAS/RADITYA HELABUMI
Presiden Joko Widodo didampingi ketua umum partai politik pendukung Koalisi Indonesia Kerja (dari kiri ke kanan) Ketua Umum Perindo Harry Tanoesoedibjo, Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar, Ketua Umum Partai Hanura Osman Sapta Odang, Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri, Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh, Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto, Ketua Umum PPP Romahurmuziy, Ketua Umum PSI Grace Natalie, dan Ketua Umum PKPI Diaz Hendropriyono mendeklarasikan calon wakil presiden yang akan mendampingi Joko Widodo di Jakarta, Kamis (9/8/2018). Joko Widodo menunjuk Ma’ruf Amin sebagai calon wakil presiden dalam Pilpres 2019.

Meskipun demikian, kegarangan PSI dan ingar-bingar polemik yang diciptakan partai dengan nomor urut 11 itu belum berhasil dikonversi menjadi dukungan riil.

Selama beberapa bulan hingga saat-saat menjelang Pemilu 2019 hasil survei sejumlah lembaga survei tetap menempatkan PSI sebagai partai papan bawah dengan perolehan suara di kisaran 1 persen.

Litbang Kompas, dalam survei terakhir sebelum pemilu, Maret 2019, mendeteksi suara untuk PSI hanya sebesar 0,7 persen.

Dengan margin of error 2,2 persen, pencapaian maksimal untuk PSI adalah 2,9 persen. Sulit bagi partai ini lolos ke parlemen.

Tampaknya tak ada harapan jika tidak ada hasil exit poll dari luar negeri yang mendadak mengabarkan partai baru ini mendapat respons yang sangat baik dari warga negara Indonesia di banyak negara.

Pemilu di luar negeri memang dilaksanakan lebih dulu sehingga memungkinkan dilakukan survei pasca-pemilihan lebih cepat daripada di Indonesia.

Berdasarkan exit poll yang banyak beredar di media sosial, PSI mendapatkan suara terbesar, mengalahkan PDI-P dan partai-partai besar lainnya.

Di Singapura perolehannya mencapai 19,8 persen, Di Melbourne 39,09 persen, Sydney 30,83 persen, Berlin 19,42 persen, Toronto 50,9 persen, New York 18,81 persen, London 35,9 persen, dan Arab Saudi 12,6 persen. Tidak jelas apakah hasil itu benar atau hoaks. Tetapi, jika melihat hasil pemilu yang saat ini sudah dihitung KPU, tampaknya hasil exit poll itu memang cukup realistis.

Meski demikian, kegarangan PSI dan ingar-bingar polemik yang diciptakan partai dengan nomor urut 11 itu belum berhasil dikonversi menjadi dukungan riil.

Halaman
1234
Editor: Budi Susilo
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved