Corporate Social Responsibility

Poniyem Produksi Keripik Pare hingga 35 Kg, Sudilah Geluti Menjahit Pendapatan Tembus Rp 5 Juta

Sebelumnya jarang menyentuh Rp 1 juta, kini mencapai Rp 3 juta per bulan. Bahkan menjelang Lebaran ini, orderan bertambah dan bisa tembus Rp 5 juta.

Poniyem Produksi Keripik Pare hingga 35 Kg, Sudilah Geluti Menjahit Pendapatan Tembus Rp 5 Juta
HO/PAMA BAYA
Poniyem, warga Desa Bhuana Jaya didampingi Ghani Rasyid Ning, CSR Officer, memperlihatkan proses pembuatan keripik pare. 

Membangun lima pilar. Ada perekonomian, pendidikan, kesehatan, lingkungan, serta sosial budaya dan agama. Itulah konsep tanggungjawab sosial PT Pamapersada Nusantara (PAMA) terhadap masyarakat di sekitar wilayah kerjanya hingga sekarang. Kamis (16/5) lalu, saat media gathering sekaligus buka puasa bersama jurnalis di Samarinda, realisasi Corporate Social Responsibility (CSR) tersebut dibeberkan secara gamblang.

TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA - Satu persatu penanggungjawab CSR dari site PAMA di Kalimantan Timur (Kaltim) memaparkan progress program berikut dampaknya. Dari Distrik BAYA salahsatunya. Ini merupakan site PAMA yang bekerja di lahan konsesi Jembayan Group (JMB) dan PT Khotai Makmur Insan Abadi (KMIA) di Kecamatan Tenggarong Seberang, Kabupaten Kutai Kartanegara.

Menurut Ghani Rasyid Ning, CSR Officer PT Pamapersada Nusantara Distrik BAYA, untuk pilar perekonomian ada beberapa program yang direalisasikan. Di antaranya melakukan pembinaan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) berupa pengembangan usaha amplang di Desa Separi dan usaha keripik pare di Desa Bhuana Jaya. "Kami beri bantuan modal untuk pembelian alat-alat produksi sekaligus membantu pemasaran melalui koperasi karyawan PAMA atau Galeri UMKM PAMA yang berada di Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman (SAMS) Sepinggan Balikpapan," ungkap Ghani.

Tak hanya itu. PAMA BAYA, lanjut Ghani, juga mendirikan Koperasi Bina Tani Jaya Bersama yang dibina dan dikelola untuk dapat memfasilitasi permodalan bagi para pelaku usaha di desa-desa sekitar. Kelak, koperasi inipun akan dilepas dari pembinaan jika dinilai telah mandiri.

Perusahaan kontraktor pertambangan ini juga berperan membina warga disalibilitas. Terdapat dua penyandang disabilitas yang dibina. "Bantuan yang diberikan juga berupa modal untuk pembelian peralatan mengembangkan usaha," tambah Ghani.

Adalah Poniyem, warga Desa Bhuana Jaya, Kecamatan Tenggarong Seberang, yang mengembangkan usaha keripik pare. Ia menggelutinya sejak tiga tahun lalu. Awal membuat keripik pare langsung disajikan kepada para tamu di balai desa. Poniyem pun menuai pujian. Sejak itulah ia bertekad mengembangkan usaha keripik pare.

Bantuan kemudian mengalir dari PAMA berupa modal peralatan produksi. Poniyem menyebut ada plastik kemasan, filler pengepakan, dan spinner peniris minyak. Didukung peralatan cukup modern, keripik pare tentu higienis dan awet hingga sebulan. "Proses pembuatan keripik pare tidak mudah seperti singkong. Harus telaten. Pare diiris tipis kemudian dicampur tepung yang telah dibumbui, lalu diproses lebih lanjut," tutur Poniyem.

Kini, keripik pare dapat ditemukan di Galeri UMKM Bandara SAMS Sepinggan Balikpapan, di BUMDes kantor desa, maupun secara online, dan saat pameran di Kaltim. Dijual seharga Rp 85.000 per kilogram. "Usaha ini sangat membantu ekonomi keluarga, terutama menyekolahkan anak," tutur ibu dua anak ini.

Tiap bulan, produksinya cukup banyak. Menjelang Idul Fitri 2019, orderan meningkat mencapai lebih 35 kilogram keripik pare. Bahan baku sayuran pare didapatkan dari petani setempat. "PAMA tidak hanya membantu modal peralatan namun pemasarannya juga," tambahnya.

Tak jauh berbeda dengan Sudilah Tri Hariani, salah seorang penyandang disabilitas. Kondisi fisik tidak menghalanginya berkarya. Warga Bukit Pariaman Separi 1 Tenggarong Seberang ini hampir empat tahun terakhir menekuni jahit-menjahit. "Sejak kecil saya kena polio jadi menggunakan kursi roda. Meski begini saya bisa menjahit dengan baik. Saya terima jahitan baju seragam sekolah, kebaya atau busana wanita, dan lainnya tergantung permintaan konsumen," tutur ibu dua anak ini.

Tahun 2018 lalu, Sudilah mendapatkan bantuan modal dari PAMA untuk pembelian mesin obras dan mesin lubang kancing. Peralatan tersebut sangat membantu memperlancar usahanya yang dinamai Dilla Taylor. "Sebelumnya, untuk obras dan pembuatan lubang kancing harus meminjam dari orang lain. Hasilnya, pendapatan meningkat dari sebelumnya jarang menyentuh angka Rp 1 juta, kini mencapai Rp 3 juta per bulan. Bahkan menjelang Lebaran ini, orderan bertambah dan pendapatan bisa tembus Rp 5 juta," cerita Sudilah.(bersambung)

Editor: Fransina Luhukay
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved