Corporate Social Responsibility

Mulai Pakai Biogas, Warga Dusun Pulau Mas Kurangi Pembelian LPG

Dengan adanya biogas, penerima program ini dulunya membeli hingga 5 tabung LPG untuk memasak, kini hanya membeli 1 tabung LPG.

Mulai Pakai Biogas, Warga Dusun Pulau Mas Kurangi Pembelian LPG
HO/PAMA BAYA
Warga membangun wadah pembuatan biogas di Dusun Pulau Mas, Desa Bhuana Jaya, Kecamatan Tenggarong Seberang, Kabupaten Kutai Kartanegara. 

BERKONTRIBUSI dalam Program Kampung Iklim (Proklim). Ini dilakukan untuk membangun tanggung jawab sosial pilar lingkungan, yang sebenarnya turut berdampak ekonomis bagi masyarakat. Wujudnya, masyarakat mendirikan bank sampah serta pengolahan biogas dengan memanfaatkan limbah ternak di lingkungan permukiman.

TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA - Proklim merupakan program pemerintah yang digagas Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dan harus direalisasikan di setiap kabupaten/kota. Targetnya mendorong partisipasi masyarakat untuk meningkatkan ketahanan terhadap dampak perubahan iklim dan Gas Rumah Kaca (GRK), melalui kegiatan adaptasi dan mitigasi serta peningkatan kelembagaannya di masyarakat.

Manajemen PT Pamapersada Nusantara Distrik BAYA sangat mendukung. "Kami mendukung program tersebut di masyarakat. Jadi, kami membantu pendirian bank sampah serta pembuatan biogas di Dusun Pulau Mas, Desa Bhuana Jaya. Biogas ini merupakan pilot project," tutur Ghani Rasyid Ning, Corporate Social Responsibility (CSR) Officer PT Pamapersada Nusantara Distrik BAYA.

Dengan adanya program tersebut, tutur Ghani, warga mulai aktif melakukan pemilahan sampah ekonomis. Sedangkan dengan adanya biogas, mereka dapat memanfaatkan limbah ternak yang dapat menimbulkan efek GRK. "Bank sampah tentu meningkatkan ekonomi masyarakat, karena menghasilkan uang dari menabung sampah. Sedangkan dengan adanya biogas, penerima program ini dulunya membeli hingga 5 tabung LPG untuk memasak, kini hanya membeli 1 tabung LPG. Juga dapat memanfaatkan limbah hasil biogas untuk dijadikan pupuk bagi tanamannya," ujar alumni Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya ini.

Mamik, Ketua Proklim Dusun Pulau Mas, pun berkisah. Sapi yang diternak warga Dusun Pulau Mas cukup banyak jumlahnya. Setelah beberapakali berdiskusi, akhirnya manajemen PAMA BAYA setuju mengucurkan bantuan modal dana pada akhir 2018 lalu. Warga kemudian membangun fasilitas pembuatan biogas berkonstruksi permanen. Penampungan dan pengolahan limbah ternak dibangun berbentuk kubah dan berkapasitas tampung sekitar 6 meterkubik. Bahkan mereka mendatangkan konsultan dari salah satu kelompok tani di Malang, Jawa Timur, untuk mengedukasi khusus tentang biogas.

Alhasil, gas dari sentral biogas kini telah dialirkan ke rumah warga. Mamik mengakui, warga penerima bantuan biogas biasanya dalam sebulan menghabiskan 5-6 tabung LPG. Namun dengan adanya biogas, hanya membeli 1 tabung LPG. Artinya sangat berhemat. "Kedepannya warga yang menggunakan biogas akan bertambah lagi. Saat ini pengguna biogas masih terbatas karena jarak antara sentral biogas ke rumah penduduk cukup berjauhan. Dibutuhkan pemasangan banyak pipa paralon untuk mengalirkan gas ke rumah warga lain," ungkapnya.

Selain itu, lanjut Mamik, ada pula bantuan dari PAMA untuk pengelolaan bank sampah. Aktivitas bank sampah pun sangat dinamis. Hingga kini tercatat 165 nasabah bank sampah. Beberapa waktu lalu, tambah Mamik, tim dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Kukar dan DLHK Provinsi Kaltim berkunjung ke Dusun Pulau Mas untuk verifikasi penilaian proklim tingkat nasional.(*)

Editor: Fransina Luhukay
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved