Residivis Hendak Jual 20 Ribu Double L ke Hulu Mahakam, Ditangkap saat Ingin Jual ke Polisi

Ribuan pil double L diamankan Satreskoba Polresta Samarinda dari seorang residivis. Pengungkapan kasus tersebut dilakukan pada, Sabtu (18/5) lalu,

TribunKaltim.Co/Christoper Desmawangga
DARURAT NARKOBA - KBO Satreskoba Polresta Samarinda, Iptu Suji Haryanto membeber barang bukti berupa 20 ribu pil double L, beserta pelaku, Senin (20/5/2019). 

TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA - Ribuan pil double L diamankan Satreskoba Polresta Samarinda dari seorang residivis.

Pengungkapan kasus tersebut dilakukan pada, Sabtu (18/5) lalu di Pasar Kedondong, Jalan Ulin, Kelurahan Karang Asam Ilir, Kecamatan Sungai Kunjang.

Helmi (34) warga Jalan P Bendahara, Kelurahan Masjid, Kecamatan Samarinda Seberang tidak dapat berkutik saat diringkus  petugas.

Helmi merupakan mantan narapidana kasus narkotika yang pernah mendekam di tahanan pada tahun 2016 lalu.

Helmi tidak pernah menyangka, petugas sudah mengawasi gerak-geriknya. Bahkan, ketika membukakan tas plastik berisi 20 bungkus pil double L, ia juga belum menyadari bila dihadapannya adalah petugas kepolisian.

20 ribu butir pil double L itu didapatkan  dari seseorang yang mengantarkan pil tersebut ke sekitar Pasar Kedondong.

Selain mengamankan barang bukti double L, juga diamankan handphone (HP).

Helmi mengaku, sebungkus pil double L seharga Rp 800 ribu, namun  menjual  sebungkus seharga Rp 1 Juta.

"Jualnya langsung sebungkus. Ini rencananya mau saya jual ke Hulu Mahakam. Laris sih enggak di sana, tapi ada saja yang beli," ucapnya, Senin (20/5/2019).

Ia mengaku terpaksa kembali menjual obat-obatan terlarang akibat tidak ada pekerjaan. Pasalnya, buruh bangunan yang digelutinya tidak selalu ada pekerjaan.

"Saya kan buruh bangunan, kadang ada kadang tidak. Jadi ya saya jual ini (double L), sekalinya yang beli polisi," imbuhnya.

Sementara itu, Kaur Bin Ops (KBO) Satlantas Polresta Samarinda, Iptu Suji Haryanto membenarkan pelaku merupakan residivis.

"Pernah masuk dia (pelaku) ini, vonisnya 4 tahun 7 bulan. Ini masuk lagi," jelasnya.

Akibat perbuatannya, pelaku dijerat Pasal 196 - pasal 198 UU RI Nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan, dengan ancaman kurungan maksimal 15 tahun. (*)

Halaman
12
Sumber: Tribun Kaltim
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved