Pilpres 2019

Pria Ini Pernah Nazar Robohkan 1.000 Rumah Janda Tua Jika Jokowi Menang Pilpres, Langsung Direnovasi

KPU telah menetapkan rekapitulasi hasil penghitungan suara tingkat nasional dari 34 provinsi dan 130 PPLN untuk Pilpres 2019, Selasa (21/5/2019)

Pria Ini Pernah Nazar Robohkan 1.000 Rumah Janda Tua Jika Jokowi Menang Pilpres, Langsung Direnovasi
(KOMPAS.com/PUTRA PRIMA PERDANA.)
Dedi Mulyadi dan Maruf Amin 

Ketua Tim Pemenangan Jokowi-Maruf Amin wilayah Jawa Barat, Dedi Mulyadi memiliki nazar (janji personal) jika Jokowi-Ma’ruf terpilih di Pilpres 2019.

Menurut Dedi, ia siap merobohkan dan membangun kembali atau merenovasi seribu rumah janda tua di Jawa Barat.

Hal itu disampaikannya seusai pengukuhan tim kampanye Jokowi-Ma’ruf Jawa Barat di Hotel Asrilia, Jalan Pelajar Pejuang No 123, Kota Bandung, Minggu (14/10/2018).

Menurut Dedi, seribu rumah tersebut harus memenuhi kriteria tidak layak huni.

Selama ini, mantan Bupati Purwakarta dua periode itu kerap menerima keluhan tentang rutilahu melalui kanal media sosial miliknya. Keluhan itu berasal dari berbagai daerah di Jawa Barat.

“Sok saya mah, Jokowi-Ma’ruf menang, saya robohkan seribu rumah tidak layak huni milik janda tua. Tentu, kita bangun lagi. Ini bentuk keberpihakan kita kepada mereka yang membutuhkan,” katanya.

Menurut Dedi, keberpihakan tersebut telah lama dia tunaikan bahkan sejak menjabat sebagai Wakil Bupati Purwakarta.

Sejak tahun 2003, pria yang lekat dengan iket Sunda jenis makutawangsa itu kerap membangun rutilahu milik janda tua.

Ketua DPD Golkar Jawa Barat itu berpandangan, bahwa membantu sesama tidak boleh berhenti karena tidak memegang jabatan publik.

“Tanpa kaum ibu, kita ini tidak akan menjadi apa-apa. Jadi, sudah seharusnya sebagai bentuk rasa syukur kita nanti, emak-emak ini kita perhatikan,” ujarnya.

Dedi Mulyadi
Dedi Mulyadi (Grafis Tribunwow/Kurnia Aji Setyawan)

Penguatan Basis Teritorial

Demi memenangkan Jokowi-Ma’ruf di Jawa Barat, Dedi Mulyadi sudah menyiapkan sejumlah strategi.

Seluruh strategi tersebut akan fokus pada penguatan basis teritorial pemilih. Meskipun, dia tidak memungkiri, perang udara akan tetap dijalankan untuk melawan hoax.

Basis teritorial yang dimaksud Dedi adalah pembagian wilayah berdasarkan jumlah Tempat Pemungutan Suara (TPS).

Setiap TPS akan dihuni oleh tim yang profesional menjaring suara sampai unit sosial terkecil dalam komunitas masyarakat.

“Sering kita temui ada orang yang saat ditanya apakah bisa memenangkan di TPS sendiri, mereka gak jawab. Nah, yang seperti ini mungkin kita alihkan untuk fungsi lain. Intinya, kita fokus sampai tingkat TPS. Ada 136 ribu TPS di Jawa Barat ini,” katanya.

Selain itu, tim Jokowi-Ma’ruf Jawa Barat juga berkomitmen untuk menghilangkan varian acara seremonial. Acara jenis ini, menurut Dedi, sama sekali tidak melahirkan dampak elektoral terhadap kandidat.

Sebagai gantinya, mendatangi masyarakat dari pintu ke pintu menjadi strategi andalan. Tim melakukan persuasi secara langsung sehingga tercipta kedekatan personal antara kandidat, tim dan calon pemilih.

“Tinggal kita petakan ada jalur merah, kuning dan hijau. Masing-masing kader partai koalisi memiliki cara tersendiri untuk mengolah basisnya secara langsung. Saat masuk ke suatu ceruk, ada caranya,” ujarnya.

(TribunKaltim.co/Doan Pardede)

Subscribe official YouTube Channel

BACA JUGA:

Tito Karnavian, Luhut, Wiranto, hingga Adian Napitupulu jadi Target Ancaman Penculikan & Pembunuhan

SEJARAH HARI INI: 22 Tahun Lalu Ratusan Orang Meninggal akibat Tragedi Jumat Kelabu di Banjarmasin

Di Balik Kerusuhan 22 Mei, Reporter Cindy Permadi Mendadak Viral di Sosial Media, Begini Faktanya

Jubir MK: Gugatan Sulit Diterima jika Tuduhan Kecurangan hanya Berupa Klaim tanpa Alat Bukti

Musibah Kebakaran Kembali Terjadi di Kota Samarinda, Tiga Relawan Tersengat Listrik







Penulis: Doan Ebenezer Pardede
Editor: Januar Alamijaya
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved