Ibu Kota Baru

Setelah Jakarta tak Lagi Ibu Kota dan Prioritas Pembangunan Beralih ke Ibu Kota Baru

Kabar akan ada pemindahan ibu kota Indonesia, maka Jakarta tak lagi jadi ibu kota, Kalimantan Timur dan Kalimantan Tengah calon lokasi Ibu Kota Baru.

Setelah Jakarta tak Lagi Ibu Kota dan Prioritas Pembangunan Beralih ke Ibu Kota Baru
tribunkaltim.co/fachmi rachman
Presiden Jokowi bersama sejumlah menteri meninjau calon lokasi Ibu Kota Baru di kawasan Bukit Soeharto, di Provinsi Kalimantan Timur pada Selasa (7/5/2019). Peninjauan ini terkait dengan rencana pemindahan ibu kota Indonesia. 

Jadi meski diatas kertas kepadatan penduduk berkurang, tidak terlalu signifikan untuk mengurangi kepadatan penduduk di Jakarta yang tidak merata.

Apalagi jika berkembangnya Jakarta sebagai pusat ekonomi akan memicu migrasi penduduk ke Jakarta. Bisa jadi pendatang yang masuk akan lebih banyak dibandingkan ASN pemerintah pusat yang keluar.

Lingkungan

Bagaimana dampak pada kebutuhan air dan sampah yang dihasilkan? Menurut Standar Kementerian Pekerjaan Umum, setiap harinya setiap orang menghasilkan sampah 0,4 kilogram. Pindahnya 1,5 juta penduduk, di atas kertas sampah akan berkurang 600.000 kg/hari atau 600 ton/hari.

Namun, berkurangnya volume sampah tersebut hanya mengurangi volume sampah 6.400 ton dari 7.000 ton yang setiap harinya dihasilkan warga Jakarta. Sampah tetap akan membebani TPST Bantargebang. Kecuali ada langkah besar untuk melakukan pemilahan sampah organik dan anorganik sehingga hanya tersisa sampah anorganik yang ditumpuk di pengolahan akhir Bantargebang.

Sampai saat ini, sampah yang mengalir ke Bantargebang berkisar 6.500 hingga 7.000 ton. Hal itu berarti, belum ada upaya pengolahan sampah signfikan dari masyarakat untuk mengurangi beban sampah yang masuk ke Bantargebang.

Ketersediaan air yang masih defisit juga menjadi persoalan bagi Jakarta. Catatan PAM Jaya pada 2015 menunjukkan, dengan 10,6 juta jiwa, membutuhkan 29.474 liter/detik. Padahal kapasitas produksi air hanya 17.875 liter/detik. Hasilnya, Jakarta masih kekurangan air sekitar 10.099 liter/detik.

Jika 1,5 juta penduduk pindah hanya akan mengurangi kebutuhan air menjadi 18.807 liter.detik. Namun berkurangnya kebutuhan air tersebut tidak diikuti dengan peningkatan kapasitas produksi air. Bahkan diprediksi oleh PAM Jaya, tahun 2030, kapasitas produksi akan berkurang menjadi 16.500 liter/detik.

Berkurangnya jumlah penduduk tidak akan membuat Jakarta surplus air. Peningkatan kapasitas produksi air perpipaan yang selama ini mengandalkan dari sumber air permukaan Waduk Jatiluhur dan Sungai Cisadane tersebut harus dilakukan. Pasalnya penduduk mulai beralih menggunakan air tanah sebagai sumber air baku sehari-hari.

Halaman
1234
Editor: Budi Susilo
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved