Kesehatan

Terus Menerus Mencari Informasi Terkini, Apa Dampaknya untuk Kesehatan?

Terus menerus mengikuti informasi justru akan menghabiskan energi, lelah, emosi, stres, dan kadangkala terjebak oleh informasi palsu atau hoaks.

Terus Menerus Mencari Informasi Terkini, Apa Dampaknya untuk Kesehatan?
Yudha Pratomo/KompasTekno
Terus Menerus Mencari Informasi Terkini, Apa Dampaknya untuk Kesehatan? 

TRIBUNKALTIM.CO -- Mengikuti informasi terkini dengan membaca media sosial maupun situs berita kini jadi tuntutan. Apalagi dalam situasi rusuh seperti yang terjadi Rabu (22/5) di di Jakarta. 

Namun ada kalanya, terus menerus mengikuti informasi justru akan menghabiskan energi, lelah, emosi, stres, dan kadangkala terjebak oleh informasi palsu atau hoaks.

Penting untuk mengikuti informasi secara efektif.

Sebuah survei yang dilakukan American Psychological Association, tentu saja di Amerika Serikat, mengungkap bahwa mengikuti informasi tanpa henti justru menyakiti diri sendiri. Ini dialami oleh 1 diantara 10 responsen.

"Bagaimana informasi disajikan dan cara kita mengaksesnya telah berubah secara signifikan sejak 15 hingga 20 tahun terakhir. Perubahan ini kerap merusak kesehatan mental," ujar Graham Davey, profesor emeritus psikologi dari Universitas Sussex, Inggris, dilansir Time, (31/1/2018).

Davey yang juga menjadi pemimpin redaksi untuk Journal of Experimental Psychopathology menambahkan, infromasi di seluruh dunia cenderung dibuat bombastis sehingga bisa mengubah suasana hati menjadi sedih atau cemas.

"Studi kami menunjukkan, perubahan suasana hati dapat membuat penonton atau pembaca berita khawatir, meski kekhawatiran itu tidak berhubungan dengan informasi yang disiarkan," ujar Davey.

Ketika rasa cemas dan khawatir menumpuk, hormon kortisol yang berhubungan dengan stres akan memicu peradangan yang terkait dengan rheumatoid arthritis, penyakit kardiovaskular, dan penyakit serius lainnya.

Jika paham bahwa informasi tertentu membuat cemas dan takut, kenapa kita masih membaca berita tersebut dan mengikuti perkembangannya?

Menurut Davey, itu karena otak manusia suka memperhatikan informasi yang membuat takut dan cemas. Konsep ini dikenal dengan bias negatif.

Halaman
123
Editor: Trinilo Umardini
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved