Kamis, 23 April 2026

Inilah 5 Risiko Menggunakan VPN untuk Akses Medsos, Waspada Pencurian Data!

VPN bisa diartikan sebagai koneksi antar jaringan yang bersifat pribadi dan tanpa pengawasan dari pemerintah.

Kolase TribunStyle.com
Bahaya Penggunakan VPN, Aplikasi yang Banyak Digunakan saat WhatsApp dan Instagram Down 

TRIBUNKALTIM.CO - Setelah pembatasan penggunaan media sosial yang dilakukan sejak Rabu (22/5/2019) sore, para pengguna menggunakan VPN atau Virtual Private Network untuk mengakses sosial media seperti Instagram dan aplikasi berbagi pesan, WhatsApp.

VPN bisa diartikan sebagai koneksi antar jaringan yang bersifat pribadi dan tanpa pengawasan dari pemerintah.

Dengan menggunakan VPN, masyarakat bisa kembali menggunakan WhatsApp dan Instagram secara normal.

Berikut bahaya menggunakan VPN untuk berselancar di internet yang Tribunnews rangkung dari berbagai sumber.

1. Pencurian data

Ilustrasi - Pencurian data
Ilustrasi - Pencurian data (cctvman.co.id)

Penggunaan layanan VPN untuk menembus pembatasan akses pemerintah berpotensi terjadi pencurian data pengguna.

Risiko tersebut akan bertambah besar bila menggunakan VPN yang tidak dipercaya.

Data yang dicuri bisa meliputi nama pengguna, alamat, username, password, dan data penting lainnya.

Penjualan data tersebut salah satunya akan digunakan untuk menaruh iklan di ponsel atau komputer pengguna.

2. Penyebaran Malware

Ilustrasi - Malware
Ilustrasi - Malware (istockphoto.com)

Dalam dunia internet, ada istilah Malvertising.

Malvertising adalah proses penyaluran Malware ke perangkat komputer maupun smartphone yang menggunakan VPN gratis.

Saat kita berselancar di web menggunakan VPN, secara tidak sadar virus atau malware dapat dengan mudah masuk ke perangkat melalui iklan yang terpasang dalam sebuah web.

3. Risiko serangan 'Man in the Middle'

Ilustrasi MITM (Man in the Middle)
Ilustrasi MITM (Man in the Middle) (clickssl.net)

Beberapa layanan VPN dapat berpotensi melancarkan serangan Man in the Middle.

Man in the Middle adalah serangan terhadap sebuah sistem perangkat yang salah berkomunikasi satu dengan yang lainnya.

Sementara sang penyerang berada di tengah jalur komunikasi tersebut untuk membaca, membajak, dan mencuri data bahkan hingga menyisipkan malware.

4. Pengguna digunakan sebagai Network End-Poin

Ilustrasi Network Endpoint
Ilustrasi Network Endpoint (healthitsecurity.com)

Pihak ketiga dapat menggunakan IP Address kita sebagai Network End-Poin.

Network Endpoint berguna untuk meningkatkan bandwith layanan VPN untuk meningkatkan kecepatan internet pemakai internet lainnya.

Bahkan, beberapa sumber menyebut ada kemungkinan Network Endpoint dijual.

5. Kebocoran alamat IP

Ilustrasi - IP Address
Ilustrasi - IP Address (gohacking.com)

VPN merupakan sebuah terowongan 'rahasia' yang digunakan untuk sampai ke tujuan, yaitu internet.

Namun, sejumlah layanan VPN memiliki jalur rahasia yang mempunyai banyak lubang.

Lubang tersebut memperbesar kemungkinan untuk pencurian data hingga kebocoran alamat IP.

Kebocoran alamat IP bisa saja digunakan oleh orang tak bertanggung jawab untuk meretas dan mencuri data si pengguna VPN.

Virtual Private Network (VPN) banyak dibicarakan setelah Menteri Komunikasi dan Informasi (Menkominfo) Rudiantara membatasi akses di beberapa sosial media.

Namun, VPN ini dianggap berbahaya bagi sistem internet pada handphone.

Hal tersebut dikatakan Rudiantara saat menjadi narasumber di acara Kompas Petang, Kamis (23/5/2019).

Mulanya, pembawa acara bertanya soal kebijakan Rudiantara yang dianggap masih bisa kecolongan.

"Pak Rudiantara banyak pihak yang mengingatkan bahwa ketika diambil kebijakan pembatasan sosial media dan juga saluran tertentu masih ada saluran lain yang bisa digunakan untuk hal-hal yang tidak baik atau hal-hal yang berpotensi untuk menyebarkan juga informasi-informasi yang belum bisa diverifikasi, bagaimana pemerintah melihat ini?," tanya pembawa acara.

Rudiantara lalu menjawab beberapa kelemahan VPN.

"Itu sudah diperhitungkan, salah satunya adalah melalui VPN, kan selalu dikatakan kita bisa by pass melalui VPN Virtual Private Network saya justru sarankan hati-hati, hindari VPN," ujar Rudiantara.

Ada beberapa alasan Menkominfo melarang untuk menggunakan VPN.

"VPN yang gratis terutama ya, VPN yang gratis ini bisa kita terdampak terbukanya data-data pribadi kita itu satu," kata Rudiantara.

"Kedua itu bisa menjadi masuknya malware ke ponsel kita jadi hindari itu."

"Juga kalau yang gratis tetap saja begitu menggunakan aplikasi WA melalui VPN itu tetap saja kalau video dan gambarnya tidak bisa atau minimal lemot gitu lo."

Rudiantara lalu mencontohkan negara maju sekelas Tiongkok yang juga dibatasi dalam penggunaan WhatsApp (WA).

"Ini sebaiknya kalau kita lihat Tiongkok sekalipun negara yang semuanya dikontrol, WA tidak bisa, WA call tidak bisa di sana tapi menggunakan VPN bisa," ujar Rudiantara.

Pembawa acara lalu menegaskan bahwa VPN bisa berbahaya untuk akses ke media sosial.

"Ini juga berbahaya juga ya menggunakan VPN untuk akses ke media sosial dan juga aplikasi pesan singkat?," tanya pembawa acara lagi.

Rudiantara lalu membenarkan pernyataan pembawa acara Kompas TV itu, lalu mengecualikan VPN yang tidak berbahaya.

"Betul, kecuali mau bayar 2 juta tiga juta mungkin ya tapi siapa sih yang mau bayar 2,3 juta," kata Rudiantara sambil tertawa.

Lihat videonya di menit awal:

Diberitakan sebelumnya dari Kompas.com, sekitar seperempat pemakai internet telah menggunakan VPN.

Alasannya, orang menggunakan VPN untuk melindungi privasi mereka ketika menggunakan WiFi.

Selain itu ada pula yang memakai VPN yang khawatir mengenai pengintaian dari pemerintah dan penyedia jasa internet.

Alternatif Pilihan

Penggunaan media sosial dibatasi oleh Pemerintah sebagai dampak aksi 22 Mei yang berujung kerusuhan.

Selama beberapa hari kedapan komunikasi melalu saluran media sosial yang biasa dengan mudah diakses bakal mengalami gangguan.

Mereka yang terbiasa menggunakan WhatsApp ataupun facebook dan Instagram untuk berkomunikasi bakal mengalami gangguan sampai situasi kembali normal.

Untuk menyikapi hal tersebut sebenarnya ada beberapa aplikasi media sosial untuk menggantikan sementara peranan WhatsApp atau facebook dan Instagram yang bisa kita pakai sehari-hari.

Untuk pengganti WhatsApp misalnya ada aplikasi Telegram yang sebenarnya sudah banyak digunakan oleh masyarakat Indonesia.

Beberapa fitur aplikasi Telegram yang tak jauh beda dengan WhatsApp.

Melansir Tribun Wow.com, ada beberapa keunggulan dari Telegram dibandingkan WhatsApp.

1. Cara akses dan Platform yang Mendukung

Syarat utama untuk dapat menggunakan layanan WhatsApp dan Telegram adalah memiliki sebuah nomor ponsel untuk menerima SMS kode keamanan dan login.

WhatsApp tersedia di perangkat iPhone, Windows Phone dan Android.

Kamu bisa menggunakan WhatsApp Web alias akses WhatsApp lewat komputer namun harus dalam 1 jaringan Wi-Fi bersama dengan ponsel tersebut.

Telegram Messenger mendukung platform iOS, Windows Phone, Android, Web, macOS, PC dan juga Linux.

Telegram Messenger bahkan dapat digunakan di komputer tanpa harus terhubung dalam jaringan yang sama dengan ponsel.

Jadi misalkan kamu kehabisan baterai untuk iPhone dan sudah pernah login Telegram Messenger di Mac, tinggal buka Telegram Messenger di Mac dan selamat melanjutkan percakapan chat.

2. Kirim Dokumen Ukuran Besar 

WhatsApp mendukung mode kirim berbagai jenis dokumen dengan aturan maksimal ukuran 100MB untuk sebuah dokumen.

Telegram juga mendukung mode kirim berbagai jenis dokumen baik di perangkat smartphone atau lewat komputer. Bedanya Telegram mendukung mode kirim dokumen hingga 1.5GB.

Kamu bisa mengirim video, foto atau dokumen dalam ukuran yang besar dengan Telegram Messenger kapan saja saat diperlukan.

3. Backup Chat

Pengguna WhatsApp di perangkat iOS hanya bisa mencadangkan data dari WhatsApp ke layanan iCloud yang dibuat oleh Apple.

Telegram Messenger punya sistem yang berbeda. Semua data chat dan dokumen yang kamu unggah dan bagikan ke teman atau grup, disimpan ke Cloud Chat milik Telegram.

Itu artinya saat kamu ganti iPhone atau bahkan menggunakan sebuah akun Telegram di 2 buah iPhone bersamaan, semua data di dalamnya dapat diakses secara mudah.

4. Voice Call dan Perlu Video Call

Untuk bagian ini, WhatsApp menang jauh daripada Telegram Messenger.

WhatsApp sudah mendukung fitur Voice Call dan Video Call. Bahkan kamu bisa melakukan Voice Call atau Video Call hingga 4 orang secara bersamaan.

Sedangkan Telegram Messenger baru mendukung Voice Call dan bentuknya adalah personal, tidak tersedia di mode grup chat. Layanan ini juga tidak mendukung Video Call untuk saat ini.

5. Mode Grup Pesan

Telegram mendukung mode grup pesan hingga 200 pengguna.

Jika jumlah ini dirasa masih kurang, kamu bisa minta upgrade ke Supergroups hingga 100 ribu anggota.

Catatan terakhir menunjukkan WhatsApp mendukung anggota grup hingga 300 orang di tahun 2017.

6. Fitur Sticker

Gunakan VPN

Semenatar itu pasca pembatasan media soial oleh pemerintah, banyak netizen memilih untuk mendownload aplikasi VPN.

Aplikasi ini diyakini mampu membuat kegiatan berselancar di media sosial kembali lancar. 

Layanan Facebook, WhatsApp dan Instagram mengalami kesulitan teknis atau down di seluruh dunia pada Minggu sore (14/4/2019) waktu Indonesia.
Layanan Facebook, WhatsApp dan Instagram mengalami kesulitan teknis atau down di seluruh dunia pada Minggu sore (14/4/2019) waktu Indonesia. (vocfm.co.za)

VPN atau Virtual Private Network adalah sebuah teknologi komunikasi yang memungkinkan untuk dapat terkoneksi jaringan publik dan lokal.

Namun kekurangan VPN adalah kurangnya keamaan sehingga informasi sensitif dapat diakses secara global.

Bagi pengguna android, aplikasi VPN bisa didapatkan dengan sangat mudah di Playstore.

Bahkan VPN banyak tersedia gratis.

Namun penggunaan aplikasi VPN untuk memperlancar akses media sosial, sebenarnya tak selalu berjalan mulus.

Terutama menggunakan VPN gratis yang tersedia di Playstore, cukup memiliki sejumlah potensi risiko.

Dilansir dari Tribunstyle.com, aplikasi VPN gratis terbukti berisiko.

Ini berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan para peneliti dari Data61/CSIRO, UC Berkeley, UNSW Sydney dan UCSI.

Penelitian mereka menunjukkan jika aplikasi Android VPN ternyata cukup berisiko.

Total ada 283 aplikasi VPN yang diuji oleh para peneliti tersebut.

Hasilnya ada beberapa bahaya seperti adware, trojan, malvertising, atau bahkan spyware.

Anda juga pantas was-was, sebab 18% dari total aplikasi VPN di Android tersebut sama sekali tidak mengenkripsi data penggunanya. (*)

Subscribe official YouTube Channel

BACA JUGA:

Pilot Jepang Ungkap Misteri Hilangnya Pesawat Malaysia Airlines MH-370, Ada Hal Yang Disembunyikan

BERITA terkini: Wapres Jusuf Kalla Buka Suara Terkait Demo 22 Mei 2019, 'Tak Mengubah Hasil Pemilu'

KABAR TERKINI Demonstran Tinggalkan Lokasi Perempatan Sarinah Jakarta, Beri Salam Polri dan TNI

Pemerintah Rilis Daftar Tiga Kelompok Dibalik Kerusuhan 22 Mei Jakarta, Incar Tembak Pejabat

Artikel ini telah tayang di Tribunwow.com dengan judul 5 Bahaya Menggunakan VPN untuk Berselancar di Media Sosial, Hati-hati Pencurian Data

Sumber: TribunWow.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved