Ramadhan 2019

Tantangan Ramadhan Era 4.0 tanpa Hoax

Ibadah puasa terasa menyenangkan, bahkan tanpa mengenal lelah. Namun sayang, dicederai dengan rusuh saat aksi massa dan maraknya berita bohong (hoax)

Tantangan Ramadhan Era 4.0 tanpa Hoax
HO
DR. Pitoyo. MKom, Praktisi Media dan Pemerhati Komunikasi Antaramanusia 

Oleh : Dr. Pitoyo, M.IKom
Praktisi Media & Pemerhati Komunikasi Antarmanusia

TRIBUNKALTIM.CO - UMAT Islam menyambut dengan suka cita, dan rasa penuh harap di bulan suci Ramadan ini, untuk mendapatkan rahmat dan ampunan dari sang Maha Pencipta, Allah SWT.

Waktu untuk ibadah pun terasa menyenangkan, bahkan tanpa mengenal lelah. Namun sayang, dicederai dengan rusuh saat aksi massa dan maraknya berita bohong (hoax).

Ramadhan sebagaimana dicantumkan dalam kitab suci Al Quran, merupakan rangkaian bulan dalam kalender Hijriyah, dimana umat Islam diwajibkan melaksanakan puasa lahir dan bathin selama sebulan penuh.

Puasa lahir bermakna menahan kebutuhan jasmani, makan minum dan lainnya yang diatur oleh agama Islam. Puasa bathin yakni mengendalikan diri dari hawwa nafsu.

Hawa nafsu, ini adalah merupakan hasrat seseorang untuk berbuat keburukan atau bertindak menyimpang dari jalur yang telah digariskan oleh ajaran Islam.

Hawa nafsu, bergerak bisa berdasar referensi yang terpendam dalam memori pikiran, atau bisa juga dalam bentuk spontan. Manusia yang dikendalikan oleh hawwa nafsunya, akan selalu melakukan penyimpangan dalam berprilaku.

Wakil Pemimpin Umum sekaligus Pemimpin Perusahaan Tribun Kaltim Pitoyo memberikan materi seputar pencegahan hoax di masjid Assalam komplek perumahan Palm Hills Wika, Sabtu (18/1/2019). Kegiatan bernama Kajian Subuh & Ngopi Bareng ini menjadi kegiatan rutin setelah ibadah shalat subuh.
Wakil Pemimpin Umum sekaligus Pemimpin Perusahaan Tribun Kaltim Pitoyo memberikan materi seputar pencegahan hoax di masjid Assalam komplek perumahan Palm Hills Wika, Sabtu (18/1/2019). Kegiatan bernama Kajian Subuh & Ngopi Bareng ini menjadi kegiatan rutin setelah ibadah shalat subuh. (TRIBUN KALTIM/JINO PRAYUDI KARTONO)

Al Ghazali, seorang pemikir Islam, dalam kitab Minhajul Abidin, 7 Tahapan Menuju Puncak Ibadah, (2006:13) menyatakan, hawwa nafsu manusia cenderung bergerak liar, bisa berdasarkan pengalaman diri atau bukan dalam melakukan tindakan negatif.

Hawa nafsu melekat pada diri dan lebih menekan kesadaran manusia bahwa dirinya melakukan tindak yang merendahkan harga dirinya.

Perang melawan hawa nafsu ini bukan hal mudah, karena posisi dan keberadaan hawwa nafsu tidak dapat diindra. Nabi besar Muhammad saw menyatakan, bahwa perang paling besar bagi umat Islam yakni memerangi hawwa nafsunya.

Halaman
1234
Editor: Sumarsono
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved