Kamis, 23 April 2026

Hari Lahir Pancasila

1 Juni Hari Lahir Pancasila, Kontemplasi Soekarno dari Timur Indonesia dan Dua Pemuka Agama

Jauh daripada itu, ide tentang Pancasila muncul saat benak seorang Soekarno berkecamuk di pengasingan.

Penulis: Cornel Dimas Satrio | Editor: Syaiful Syafar
Dok Kompas
Hari Lahir Pancasila - Kontemplasi Soekarno dari Timur Indonesia dan Dua Pemuka Agama. 

TRIBUNKALTIM.CO - Hari Lahir Pancasila diperingati bangsa Indonesia pada Sabtu (1/6/2019).

Pancasila merupakan tonggak sejarah bangsa Indonesia dalam menjalani falsafah kehidupan.

Pancasila tak serta merta lahir saat negeri ini memproklamasikan kemerdekaannya.

Hari Lahir Pancasila 1 Juni
Hari Lahir Pancasila 1 Juni (Tribunkaltim.co/Fiy)

Jauh daripada itu, ide tentang Pancasila muncul saat benak seorang Soekarno berkecamuk di pengasingan.

Pancasila lahir berkat kontemplasi panjang Soekarno dari Timur Indonesia.

Dalam buku Bung Karno dan Pancasila, Ilham dari Flores untuk Nusantara, tercantum jelas histori pemikiran akan nilai-nilai kehidupan yang kelak menjadi ideologi dan falsafah hidup bangsa ini..

Pancasila berasal kata Panca dan Sila dalam bahasa Sansekerta.
Panca berarti Lima, dan Sila berarti Dasar.

Maka Lima Dasar buah pemikiran Soekarno dari Timur Indonesia itu yang menjadi dasar negara hingga saat ini.

Dalam buku Bung Karno dan Pancasila, Ilham dari Flores untuk Nusantara, tercantum jelas bagaimana Soekarno terilhami deburan ombak di pantai Kota Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur.

Di Ende, Soekarno menjalani masa pengasingan nan sepi.

Rumah pengasingan Bung Karno di Jalan Perwira, Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur.
Rumah pengasingan Bung Karno di Jalan Perwira, Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur. (KOMPAS.COM/I MADE ASDHIANA)

Namun situasi tersebut justru tak menyurutkan gejolak hatinya memikirkan masa depan bangsa ini.

Selama pengasingan Soekarno menghabiskan hari-harinya dengan menggeluti berbagai macam seni.

Dalam buku Bung Karno dan Pancasila, Ilham dari Flores untuk Nusantara disebutkan juga Soekarno kerap mengisi hari-harinya dengan bertukar pandangan bersama dua pemuka agama.

Soekarno memyempatkan berkirim surat dengan tokoh Islam di Bandung bernama T A Hassan.

Sementara di sisi lain, Soekarno juga kerap bercengkerama dengan misionaris Katolik, Pastor Pater Huijtink.

Hasil diskusi bersama dua tokoh agama itu terus teringiang di kepala dan benak Soekarno.

Hingga terus dibawanya dalam renungan mendalam di bawah pohon sukun berbatang lima, jaraknya 700 meter dari rumah pengasingannya.

Patung Soekarno dan Pohon Sukun di Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur
Patung Soekarno dan Pohon Sukun di Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur (KOMPAS.COM)

Setiap malam Jumat, di tempat itu, Soekarno duduk merenung menghadap laut Flores.

Soekarno merenungkan nilai-nilai yang tersemat dalam pendiskusian dengan dua pemuka agama tersebut.

Pusaran Kosmologi kian menguatkan keteguhan Soekarno dalam perenungannya.

“Suatu kekuatan gaib menyeretku ke tempat itu hari demi hari… Di sana, dengan pemandangan laut lepas tiada yang menghalangi, dengan langit biru yang tak ada batasnya dan mega putih yang menggelembung.., di sanalah aku duduk termenung berjam-jam," kata Soekarno dalam bukunya.

"Aku memandangi samudera bergolak dengan hempasan gelombangnya yang besar memukuli pantai dengan pukulan berirama. Dan kupikir-pikir bagaimana laut bisa bergerak tak henti-hentinya. Pasang surut, namun ia tetap menggelora secara abadi.

Keadaan ini sama dengan revolusi kami, kupikir. Revolusi kami tidak mempunyai titik batasnya. Revolusi kami, seperti juga samudra luas, adalah hasil ciptaan Tuhan, satu-satunya Maha Penyebab dan Maha Pencipta.

Dan aku tahu di waktu itu bahwa semua ciptaan dari Yang Maha Esa, termasuk diriku sendiri dan tanah airku, berada di bawah aturan hukum dari Yang Maha Ada,” ungkap Soekarno dalam bukunya.

Benih-benih nilai tentang pandangan hidup bangsa ini mulai muncul setelahnya.

Sebelas tahun setelah kontemplasi itu, barulah rumusan Pancasila diserukan Soekarno dalam sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) 1 Juni 1945 di Jakarta.

Presiden RI Pertama, Soekarno
Presiden RI Pertama, Soekarno (Dok Kompas)

Di depan banyak orang, Sang Proklamator menyerukan itu tanpa secarik kertaspun dibacanya.

Dari sinilah dasar Presiden Jokowi menetapkan tanggal 1 Juni sebagai peringatan besar Hari Lahir Pancasila.

Sejak 2016 Pemerintah Republik Indonesia menetapkan Hari Lahir Pancasila 1 Juni sebagai hari libur nasional.

Meski Pohon sukun itu telah mati puluhan tahun lalu, buah pemikiran Soekarno masih kokoh di samubari bangsa hingga saat ini. .

Selamat Hari Lahir Pancasila. (*)

(TRIBUNKALTIM.CO / Cornel Dimas Satrio K)

Subscribe official YouTube Channel

BACA JUGA:

Frank Garcia Unggah Foto dan Video Vulgar Cinta Laura, Herdiana Keihl: Editan Karena Diputusin

30 Ucapan Selamat Hari Lahir Pancasila 1 Juni 2019, Cocok Kirim via WA, IG dan Facebook

PREDIKSI STARTING XI Tottenham vs Liverpool Jelang Kick Off, Final Liga Champions Live di RCTI

Hari Ini Mulai Jam 10.00 WIB Pengumuman Hasil UTBK Gelombang Dua, Cek Melalui Link Ini

Keluarga SBY Diserang Bertubi-tubi, Setelah Dituduh Pura-pura Sakit Kini Ibu Ani Dikabarkan Wafat

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved