Mudik Lebaran 2019

Bank Indonesia Pwk Kaltim Sebut Jalan Rusak dan Longsor Berpotensi Ganggu Distribusi & Picu Inflasi

Yang menjadi kendala utama, adalah saat longsor terjadi. Kemudian, distribusi barang kebutuhan pokok ke daerah-daerah di Kaltim terganggu.

Bank Indonesia Pwk Kaltim Sebut Jalan Rusak dan Longsor Berpotensi Ganggu Distribusi & Picu Inflasi
TRIBUN KALTIM / CORNEL DIMAS SATRIO KUSBIANANTO
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Kaltim Muhammad Nur 

TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA - Sebanyak 210 titik jalan rusak  dan berpotensi longsor di jalan trans Kaltim bisa mengakibatkan terganggunya arus distribusi barang kebutuhan pokok dan memicu naiknya inflasi daerah maupun secara nasional di musim lebaran Idul Fitri 1440 Hijriah ini.

Demikian disampaikan, Kepala Kantor Bank Indonesia Perwakilan Kaltim, Muhammad Nur. "Yang menjadi kendala utama, adalah saat longsor terjadi. Kemudian, distribusi barang kebutuhan pokok ke daerah-daerah di Kaltim terganggu. Sampai-sampai tertunda pengiriman maka inflasi akan terjadi," ujarnya.

Ketika terjadi hal itu, jelas Nur, bukan hanya picu inflasi daerah saja. Target inflasi nasional pun akan terkena imbasnya. Menurutnya, target inflasi nasional sebesar 3,5 persen. Apabila terjadi hal itu, maka inflasi bisa naik. "Pastinya, kami tidak menginginkan hal tersebut terjadi. Oleh karenanya, harus menjaga kondisi jalan dengan baik selama menjelang lebaran Idul Fitri ini," ujarnya.

Apabila terjadi longsor pada titik-titik jalan tersebut, harapannya, pemerintah dapat segera melakukan penanganan agar tersendatnya arus lalu lintas distribusi jalan tak terganggu.

Soal inflasi, Nur menyatakan, sebulan sebelum Ramadhan inflasi sudah terjadi. Kenaikannya, dijelaskan olehnya, berkisar antara 0,7 persen-0,8 persen. Meskipun terjadi kenaikan, inflasi yang terjadi masih dalam tatanan wajar dan tidak mengkhawatirkan.

"Kondisi bulan Ramadan dengan bulan lainnya tentu berbeda. Jadi, biasanya sebulan sebelum Ramadhan itu inflasi sudah terjadi. Tapi, inflasi yang terjadi masih dalam tatanan wajar. Dengan catatan, semua kebutuhan pokok masyarakat dan distribusi barang-barang tersebut terpenuhi. Kalau tidak, ya inflasi akan tinggi," bebernya.

Hingga April 2019 ini, dituturkan Nur, inflasi sudah mencapai 2,4 persen. Dan di bulan April lalu, inflasi naik sampai 0,15 persen. Ia memperkirakan menjelang lebaran akan ada tekanan dan kembali akan menaikan inflasi.

"Saat ini, inflasi kita sebesar 2,4 persen. Atau bisa dikatakan di bawah target nasional. Artinya, inflasi daerah Kaltim tergolong aman. Namun, kembali harus waspada terhadap apa-apa saja yang dapat mengakibatkan inflasi Kaltim  bergerak naik melampaui target. Ya seperti adanya jalan longsor yang mengganggu distribusi kebutuhan barang pokok tadi," tuturnya.

Diketahui, dampak dari inflasi bisa bersifat positif dan negatif. Inflasi yang begitu tinggi berarti adanya peredaran uang di masyarakat tidak stabil. Akibatnya, harga kebutuhan pokok pun menjadi tinggi. Dengan lancarnya distribusi barang kebutuhan pokok, maka daya beli masyarakat menjadi normal.

Seperti diwartakan sebelumnya, terdapat 210 titik jalan rawan longsor di sepanjang jalan trans Kaltim. Kemudian, tercatat dari 210 titik jalan rawan longsor itu ada 47 titik jalan paling berpotensi longsor. Mengantisipasi hal tersebut, pemerintah telah membangun posko dan menyiapkan unit alat berat di beberapa titik jalan rawan longsor.(*)

Penulis: Purnomo Susanto
Editor: Fransina Luhukay
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved