TERPOPULER - Kisah Membasmi Preman Era Soeharto, Jempol Tangan Diikat Tembak Mati Taruh di Jalanan

Presiden Soeharto masih berkuasa ada cerita menarik dalam berantas preman yang dianggap resahkan masyarakat. TNI Polri dilibatkan berantas preman!

TERPOPULER - Kisah Membasmi Preman Era Soeharto, Jempol Tangan Diikat Tembak Mati Taruh di Jalanan
Facebook/Wiranto
Sosok Soeharto saat masih menjadi presiden Indonesia, zaman Orde Baru. Presiden Soeharto masih berkuasa ada cerita menarik dalam berantas preman yang dianggap resahkan masyarakat. TNI Polri dilibatkan berantas preman! 

TRIBUNKALTIM.CO - Keberadaan preman di sebuah perkotaan metropolitan selalu saja menjamur.

Sejak zaman dahulu, era Presiden Soeharto masih berkuasa, preman sudah merebak di kota-kota besar di Indonesia.

Eksistensi preman dianggap sampah masyarakat, meresahkan masyarakat, keberadaan preman di perkotaan menjadi momok menakutkan bagi masyarakat biasa, sipil.

Identik dengan preman membuat onar, merampok, memalak, hingga sampai mengancam nyawa masyarakat. Tugas utama preman memang memeras dengan kekerasan kepada seseorang.

Sebab itulah, kala itu, masa pemerintahan Soeharto memberi perhatian khusus soal penanganan preman di tengah kehidupan masyarakat.

Cara Soeharto dalam menumpas preman kala itu pun dianggap kontroversi, tidak lagi melalui jalur hukum di pengadilan. Jalan yang diambil melalui terapi kejut ditumpas ke akar-akarnya melalui pembunuhan atau yang istilahnya Petrus

Mewabahnya preman di Indonesia saat itu terjadi sekitar di tahun 1980-an. Penumpasan preman sampai presiden turun langsung memberi instruksi supaya diberantas sampai habis.

Era 1980-an waktu itu, rezim Soeharto memberi cap istilah preman dengan sebutan kelompok Gali yang merupakan singkatan dari gabungan anak liar.

Isitilah Gali kala itu populer di tengah kehidupan masyarakat dan bahasa media massa. Jelas saja jika ada orang atau kelompok yang membuat onar atau kriminal masuk ketegori preman yang dicap Gali.

Ramai bahas preman sebab keberadaan preman saat itu disalahkan sebagai pengganggu kehidupan ekonomi masyarakat saat itu.

Halaman
1234
Penulis: Budi Susilo
Editor: Doan Pardede
Sumber: Surya
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved