Gempa 8,9 SR Berpeluang Terjadi di Mentawai, Begini Kedahsyatannya Bila Benar-benar Terjadi

Wagub Sumbar Nasrul Abit mengatakan, informasi ancaman gempa tidak boleh membuat masyarakat takut dan harus membuat meningkatkan kewaspadaan.

Editor: Doan Pardede
Thekidswindow
Ilustrasi. 

TRIBUNKALTIM.CO - Badan Metereologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Geofisika Kelas III Gunungsitoli, menggelar Sekolah Lapang Geofisika (SLG), di Kaliki Resto, Kota Gunungsitoli, Sumatera Utara.

Sekolah lapang tersebut diikuti berbagai unsur mulai dari kelompok masyarakat, para siswa, anggota BPBD Kabupaten Nias Utara, hingga aparat TNI Polri.

Kepala Balai Besar Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Wilayah I, Edison Kurniawan mengatakan SLG adalah upaya untuk meningkatkan pemahaman terhadap adanya potensi kegempaan yang terjadi di Kabupaten Nias Utara.

Dengan mengikuti sekolah ini, para pemangku kebijakan di Kabupaten Nias Utara memahami peringatan dini gempa bumi dan tsunami sehingga dapat memberikan informasi yang tepat pada masyarakat.

"BMKG mengelar Sekolah Lapang Geofisika untuk melakukan mitigasi kebencanaan, terhadap potensi potesi bencana yang ada di Kepulauan Nias," kata Edison, Selasa (25/6/2019).

Pada SLG, juga dijelaskan tentang adanya ancaman besar yang terjadi di Zona Megathrust Nias Mentawai yang menyimpan energi besar yang belum terlepaskan dalam kurun waktu lama, dengan magnitudo 8,9 SR dan pergeseran tiap tahun mencapai 4 sentimeter.

“Utamanya koordinasi antara BMKG dengan BPBD dan pemangku kepentingan lainnya, sehingga dalam Sekolah Lapang Geofisika ini akan meningkatkan kapasitas masyarakat tentang upaya penyelamatan jika terjadi gempabumi dan tsunami,” jelasnya.

Sementara itu, Bupati Nias Utara Marselinus Ingati Nazara menyambut baik kegiatan tersebut dan berharap Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di wilayahnya dapat menindaklanjuti materi yang disampaikan.

“Kabupaten Nias Utara rawan gempa, banyak warga berada di pesisir pantai mulai dari Sawo, Tuhemberua, Lahewa, hingga Afulu. Mereka rentan menjadi korban gempa dan tsunami," kata Marselinus.

Ia menjelaskan akan tetap berkoordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Geofisika Kelas III Gunungsitoli, setiap terjadi bencana terutama gempa dan tsunami.

"Kegiatan ini dapat berlangsung terus setiap tahun, guna membuka wawasan stakeholder yang ada di wilayahnya," harapnya.

Penjelasan BMKG

Kepala Bidang Informasi Gempabumi dan Peringatan Dini Tsunami BMKG, Daryono mengatakan, ancaman gempa bermagnitudo 8,9 di Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat (Sumbar) dan daerah sekitarnya memang ada.

Baca juga :

Halaman
123
Sumber: Kompas.com
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved