Selang dari Kompor Tiba-tiba Terlepas, Tiga Warga Alami Luka Bakar Serius saat Ngaben Massal di Bali

Dari 4 warga yang terkena musibah saat ngaben massal di Bali tersebut, 3 warga alami luka bakar cukup serius sehingga harus dilarikan ke rumah sakit

Selang dari Kompor Tiba-tiba Terlepas, Tiga Warga Alami Luka Bakar Serius saat Ngaben Massal di Bali
Tribun Bali/Eka Mita Suputra
Salah seorang warga dari Desa Negari harus dilarikan ke RSUD Klungkung untuk mendapatkan perawatan intensif di UGD RSUD Klungkung, Minggu (7/7/2019), karena mengalami luka bakar cukup serius. Tiga warga di Desa Negari mengalami luka bakar ketika terjadi insiden saat prosesi ngaben massal. Tiga Warga Alami Luka Bakar Serius saat Ngaben Massal di Desa Negari Klungkung 

TRIBUNKALTIM.CO - Empat orang warga terbakar saat pelaksanaan ngaben massal di Desa Negari, Banjarangkan, Klungkung, Bali, Minggu (7/7/2019).

Dari 4 warga yang terkena musibah saat ngaben massal tersebut, tiga warga tersebut mengalami luka bakar cukup serius sehingga harus dilarikan ke RSUD Klungkung.

//

Puluhan warga di Desa Negari sekitar pukul 13.30 Wita, tampak menyambangi UGD RSUD Klungkung.

Mereka menunggu kabar kerabat mereka yang mengalami luka bakar saat pelaksanaan ngaben massal di Desa Negari.

Ketika itu, selang dari kompor mayat tiba-tiba terlepas dan membuat api dengan liar menyambar beberapa orang yang sedang berkerumun di lokasi itu. (*)

Upacara Ngaben

Ngaben merupakan ritual kremasi jenazah yang dilaksanakan oleh Umat Hindu di Bali.
Pada pelaksanaan tradisi ini, jenazah yang masih utuh, tanpa dikubur terlebih dahulu, diupacarai.
Ngaben sendiri berarti api yang menyucikan dan dipahami sejak zaman dulu sebagai proses penyucian.
Upacara ini sekaligus dimaknai sebagai upaya melepaskan Sang Atma (roh) dari belenggu duniawi sehingga dapat bersatu dengan Tuhan (Mokshatam Atmanam).
Prosesi Ngaben memakan biaya tinggi karena menggunakan bade atau wadah berbentuk sapi atau menara, dikenal sebagai sarkofagus, sebelum jenazah disucikan dengan api dan menjadi abu.
Ada hari-hari khusus dalam penanggalan Saka Bali untuk menjalankan ritual ini agar nilai-nilai suci dan sakral terjaga dari energi jahat.
Prosesi upacara yang tidak digelar setap hari ini membuat penyelenggara Ngaben bisa memberitahukan pihak dinas terkait jika keluarga yang berduka bersedia diikuti dan disaksikan oleh wisatawan. DNO
Halaman
12
Editor: Doan Pardede
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved