Breaking News:

Sutopo Meninggal Dunia

Sutopo Purwo Nugroho Meninggal saat Pengobatan Kanker Paru Stadium 4, Doa Netizen Terus Mengalir

Sutopo Purwo Nugroho meninggal, Minggu (7/7/2019), pukul 02.20 waktu setempat atau 01.20 WIB.

Instagram/sutopopurwo
Kepala Pusat Data Informasi dan Humas (Pusdatinmas) Badan Nasional Penanggulangan Bencana ( BNPB) Sutopo Purwo Nugroho meninggal dunia di Guangzhou, China. Sutopo meninggal, Minggu (7/7/2019), pukul 02.20 waktu setempat atau 01.20 WIB. 

Selain itu, kini pria kelahiran Boyolali, 7 Oktober 1969 itu juga kerap merasa lumpuh di tangan kirinya.

"Tangan kiri saya itu rasanya kayak udah lumpuh. Karena efek sudah menjalar itu. Saya ngetik Whats App itu sering typo. Sering salah, saya ketik A keluarnya W, keluar S," kata Sutopo.

Tanpa Duragesic seharga Rp 500 ribu sampai Rp 700 ribu per plester yang bisa dipakai selama tiga hari itu, Sutopo juga kerap sulit tidur di malam hari.

Sutopo juga mengaku harus menelan obat mual ketika tetap harus melakukan konferensi pers terkait bencana alam usai kemoterapi yang sudah lima kali dijalaninya.

Rencananya, sehari setelah ulang tahunnya pria yang tidak merokok itu akan kemoterapi untuk keenam kalinya pada Senin (8/10/2018).

Meski begitu, dokter mengatakan kemoterapi hanya dapat menambah umurnya satu sampai tiga tahun ke depan.

"Ini menandakan Tuhan sayang sama kita. Kalau usia itu nggak ada orang yang tahu. Itu urusan Tuhan. Banyak, saya punya teman habis main tahu-tahu meninggal dunia karena stroke dan sebagainya. Bukan karena kita sakit paru-paru meninggalnya duluan. Itu urusan Allah. Yang penting kita ikhtiar, kita berdoa," kata Sutopo.

Untuk pengobatan, pria yang sudah delapan tahun bekerja sebagai Kapusdatin dan Humas BNPB itu mengatakan telah menjalani terapi radiasi sebanyak 30 kali.

Ia juga harus rajin meminum obat-obatan herbal untuk menekan rasa sakitnya.

Akibat penyakit itu, Sutopo kini harus mengurangi sejumlah aktivitasnya, antara lain wawancara di studio TV dan turun ke lokasi bencana.

Meski dokter menyarankannya untuk banyak beristirahat, bukan berarti hanya sedikit yang dikerjakan Sutopo sebagai Kapusdatin dan Humas BNPB.

Ketika ada bencana alam ia tetap harus melakukan tugasnya untuk memberikan informasi yang akurat dan cepat terkait bencana alam seperti gempa dan tsunami dia Sulawesi Tengah pada Jumat (28/9/2018) lalu.

Sambil menujukkan ponselnya, ia mengatakan tak kurang dari 200 grup WhatsApp dan 3.000 kontak jurnalis yang harus ia berikan informasi setiap harinya.

"Di sini banyak ada sekira 200-an grup. Dari daerah, per jenis bencananya juga ada. Yang paling menyibukkan ya media. Kalau yang lain kan masuk hanya info-info, tapi kalau media kadang nanyain yang kecil-kecil," kata Sutopo sambil menunjukkan ponselnya.

Khusus untuk grup jurnalis, ia sendiri mengatakan ada tujuh grup yang ia kelola untuk menyebarkan informasi dengan cepat terkait bencana alam.

Selain menjawab pertanyaan wartawan setiap harinya, ia juga mengaku harus merangkum informasi terkait bencana alam yang tersebar di ratusan grup WhatsApp dari berbagai instansi dan lembaga.

Kadang ia juga harus menelepon lembaga atau instansi terkait untuk memastikan akurasi data yang diterimanya.

"Saya ikut di grup mitigasi gempa Sulteng. Ini terdiri dari menteri-menteri yang ada. Mensesneg Pramono Anung, Panglima TNI Hadi Tjahjanto, Kapolri Tito Karnavian, Kepala Basarnas, Retno Marsudi, Tjahjo Kumolo, Willem Rampangilei, Wiranto," kata Sutopo sambil menunjukkan ponselnya.

Biasanya, ia akan bangun pukul 02.00 WIB setiap hari untuk salat tahajud dan menyalin informasi-informasi tersebut ke kertas-kertas kerja di rumahnya.

Setelah itu, ia akan membuat rangkuman dari catatan itu.

Tidak berhenti di situ, Sutopo juga masih harus menganalisa laporan-laporan terkait bencana alam yang masuk.

Setelah menjadi rangkuman, kadang ia harus mengetik sendiri dan meramu bahasanya agar lebih mudah dimengerti dan menenangkan khalayak luas.

Namun ia juga kerap melibatkan stafnya untuk membuat format laporan terkait penanganan bencana.

"Nggak gampang nyari data kayak begini. Ini tidak seketika saya dapat langsung jadi. Saya juga perlu analisa. Anak buah saya banyak yang nggak bisa. Jadi saya itu kalau kerja, tengah malam itu sering merangkum," kata Sutopo sambil menunjukkan lembaran laporan berisi data terkait penanganan bencana gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah.

Meski pekerjaannya tidak mudah ditambah dengan penyakit ganas yang dideritanya, Sutopo mengatakan ia tetap ikhlas menjalani pekerjaannya.

"Prinsip saya, hidup itu harus bermanfaat buat orang lain," tegas Sutopo.

SUBSCRIBE OFFICIAL YOUTUBE CHANNEL:

BACA JUGA:

Ahok Bakal Sering Tampil di TV dalam Acara BTP Menjawab, Catat Jadwal Tayang Perdananya di TV Ini

Setelah Berlian 30 Karat, Barbie Kumalasari Pamer Bongkahan Berlian 1600 Karat

Update Pernikahan Sedarah Warga Bulukumba, Polres Balikpapan Khawatir Warga Main Hakim Sendiri

Diperlukan 100 Orang untuk Evakuasi Jenazah Thoriq, Begini Fakta Sulitnya Medan Gunung Piramid

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Doa untuk Sutopo Terus Mengalir di Media Sosial: Terima Kasih Pak . . .

Editor: Kholish Chered
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved